Jurus ” Total Football” ala Imam Besar FPI Habib Riziek Shihab

0
974

Nusantara.news, Jakarta – Tampaknya, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Riziek Shihab menggunakan jurus total football untuk memenangkan misi politiknya.  Kini mereka sedang berjuang mencopot jabatan tiga Kapolda yang memusuhinya.

Kegeraman umat berbaju koko putih terhadap Kapolda Metro Jaya  Irjen M. Iriawan,  Kapolda Jabar Irjen Anton Charliyan,  dan Kapolda Kalbar Brigjen Pol Musyafak  cukup beralasan. Ketiganya dinilai telah memprovokasi warga agar memusuhi FPI.

Kapolda Metro yang dikenal dengan panggilan Iwan bule dituding FPI memprovokasi terjadinya bentrokan antara FPI dan HMI pada demo  4 November  2016 lalu. FPI menuding Iwan Bule berada di balik provokasi yang menyulut terjadinya aksi anarkis.

Adapun Kapolda Jabar dituding membiarkan terjadinya penyerangan Ormas  Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) terhadap FPI. Belakangan diketahui,  Anton Charliyan yang menjabat Kapolda juga menjadi pembina Ormas itu. Diduga Anton sengaja menurunkan GMBI untuk dibenturkan dengan puluhan ribu jamaah pengikut Habib Riziek.

Sedangkan Kapolda Kalbar Musyafak dinilai membiarkan masuknya sekitar 30 warga yang mengaku dari Dewan Adat Dayak (DAD) ke areal bandara Sintang yang menolak kedatangan Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain pada Kamis (12/1/2017) lalu.  Akibat penolakan oleh warga yang diantaranya bersenjata tajam itu, Wasekjen MUI kembali terbang ke Pontianak.

Memang, sejak menuai sukses besar dalam aksi 411 dan 212 yang mampu menggerakkan jutaan umat Islam se-Indonesia, FPI bukan mengendurkan gerakannya. Justru laskar berjubah yang dipimpin langsung oleh imam besarnya, Habib Riziek Shihab dan juru bicaranya Munarman melakukan gerakan politik frontal ke segala lini, baik itu gerlya hukum, penggalangan dukungan ke DPR, aksi jalanan maupun penguasaan sosial media.

Munarman yang  yang sebelum terjun total ke gerakan Islam pernah menjabat Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menjadi pelengkap yang sempurna bagi gerakan Riziek yang selama ini dicitrakan anarkis. Setidaknya Munarman berperan penting dalam menghadapi aktivis gerakan yang bermusuhan dengan FPI, bahkan merekrutnya.

Gerakan politik Habib Riziek mirip jurus total footballnya Rinus Michel, pelatih legendaris tim nasional Belanda era 1970-an. Prinsip dasar total football adalah penguasaan bola dan menyerang. Kepung daerah pertahanan lawan. Setiap pemain harus piawai mengalirkan bola dari kaki ke kaki, dan oleh Johan Cruyf jurus itu menjadi Tiki-Taka di FC Barcelona.

Kini, paska aksi 212, Habib Riziek dianggap mampu menguasai medan permainan dan berkemampuan menyerang lawan-lawan politik. Seperti halnya bola yang harus terus bergulir dari kaki ke kaki, begitu pun dengan isu, harus bergulir dari waktu ke waktu. Bukan saja penguasaan politik di ruang nyata, penguasaan politik lewat sosial media pun dirambahnya

Viral-viral 411 dan 212, meskipun tidak semua menyukainya, tapi segera menjadi akrab di kalangan warga dunia maya (netizan). Rapuhnya bangunan sosial yang dimungkinkan oleh kesenjangan sosial yang semakin dalam, terlebih lagi kesenjangan itu dipertontonkan secara kasat mata oleh etnis tertentu di ruang-ruang publik yang seolah menganggap rendah etnis kebanyakan semakin menyuburkan gairah perlawanan yang dimotori oleh Habib Riziek.

Tapi secara personal ada satu kelemahan Habib Riziek. Seperti halnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Poernama, Habib Riziek juga dikenal enteng bicara. Apapun yang bertentangan dengan keyakinannya diulas, seperti memelesetkan simbol-simbol kenegaraan, sebut saja saat dia mengatakan Pancasila versi Islam adanya di kepala, Pancasila versi Soekarno adanya di pantat, terang saja memicu kemarahan banyak orang. Termasuk Sukmawati Soekarnoputri yang lalu melaporkannya ke Polda Jabar.

Upaya-upaya yang diduga dilakukan oleh pemerintah untuk membonsai gerakan politik Habib Riziek terus dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Termasuk memblokir akun twitter milik Habib Rizik dan penggalangan kekuatan-kekuatan tandingan seperti Parade Bhinneka Tunggal Ika paska aksi 212. Tapi semua upaya itu tidak membuat ghirah perjuangan Habib Riziek pupus.

Justru total footballnya Habib Riziek makin bergairah mengepung areal pertahanan lawan. Isu terus digulirkan dari waktu ke waktu. Seolah menunggu umpan terobosan jitu untuk menggoalkan bola ke gawang. Peristiwa-peristiwa politik yang bersinggungan dengannya dikemas menjadi guliran isu yang tidak mengendurkan semangat juangnya.

Terlebih setelah ribuan anggotanya, laskar Front Pembela Islam (FPI) dari berbagai kota di Jawa Barat digeruduk Ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), beberapa ratusan terluka dan sejumlah kendaraan milik anak buahnya dipecahkan kacanya, pada Kamis (12/1/2017) pekan lalu, selaku imam besar FPI, Habib Riziek Shihab tidak tinggal diam.

Habib Riziek langsung menggalang dukungan politik ke Komisi III DPR-RI. Sebagai warga negara tentunya sah-sah saja menyalurkan aspirasi politiknya di DPR. Gayung pun bersambut. Sejumlah anggota DPR dari sejumlah fraksi di Komisi III berencana memanggil petinggi Polri, termasuk Kapolri Tito Karnavian dan sejumlah Kapolda yang dianggap bermasalah oleh Imam Besar FPI.

Namun memang. Habib Riziek mesti hati-hati.Apalagi jurus total football belum pernah membawa Timnas Belanda menjuarai kejuaraan dunia. Sebab ada juga jurus Catenacio dari Italia yang prinsip dasarnya adalah pertahanan ketat dan serangan balik cepat yang mematikan.  Pasti nyesek juga menyerang sejak awal pertandingan lalu kegoalan di menit akhir.

Apalagi sejarah telah membuktikan,Cattenacio  Italia sudah tiga kali memenangkan Piala Dunia, sedangkan total footballnya Belanda baru sebatas cita-cita []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here