KADIN Jatim: Bahaya! 40 Persen Pasar Indonesia Diincar Asing

0
148

Nusantara.news, Surabaya – Ketahanan ekonomi Indonesia cukup rentan dari serbuan asing. Apalagi ada 40 persen market di negeri ini yang terbuka lebar sejak pemberlakuan kawasan khusus ASEAN dan negara-negara mitra (MEA) per 1 Januari 2016. Situasi itu memunculkan pertanyaan, akankah bangsa Indonesia jadi tamu di negeri sendiri?

“Sejak pemberlakuan MEA, sudah tidak ada batasan lagi barang-barang yang mau masuk ke Indonesia dari negara-negara ASEAN dan negara mitra. Sedangkan market domestik Indonesia masih terbuka, mencapai 40 persen. Ini bahaya jika tidak dilindungi negara,” terang Wakil Ketua Umum KADIN Jawa Timur M Rizal saat mengunjungi kantor redaksi Nusantara.News Biro Jawa Timur, Kamis (19/1/2017).

Sesuai dengan amanat dan semangat Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional pembangunan di bidang ekonomi, KADIN yang memayungi pengusaha Indonesia punya kewajiban moral untuk melindungi iklim usaha yang sehat di dalam negeri. Terutama untuk mendorong pemerataan kesempatan berusaha seluas-luasnya dalam melaksanakan pembangunan nasional dan daerah di bidang ekonomi.

Kewajiban itu, terang Rizal jadi pendorong KADIN Jawa Timur memperkuat ketahanan ekonomi di wilayahnya dengan melakukan berbagai terobosan. Apalagi di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), kebijakan pro pengusaha lokal dari pemerintah masih minim. Padahal beberapa negara-negara peserta MEA “bermain” dalam spesifikasi barang untuk melindungi iklim usaha dalam negerinya.

“Seperti komoditi udang di Thailand. Otoritas di sana punya aturan ketat bahwa udang yang masuk harus punya kandungan seperti omega atau beberapa parameter lain yang saya lupa,” sebut pengusaha yang di KADIN membidangi UMKM tersebut. Kebijakan itu juga disupport dunia perbankan dengan memberi suku bunga kredit rendah.

“Karena itu, KADIN sekarang berjuang dan mendorong pemerintah untuk menurunkan bunga bank di Indonesia selain konsentrasi mencukupi kebutuhan domestik. Jika mencapai single digit saja, pengaruhnya itu luar biasa! Selain itu, kita bersama elemen lain juga gencarkan gerakan cinta produk Indonesia,” bebernya.

Belajar dari Singapura

Potensi besar Indonesia sebenarnya bukan hanya di sektor pasar. Rizal menegaskan, industri domestik sebenarnya sudah bisa membuat beberapa barang yang memiliki daya saing di pasaran internasional. Ditambah ketersediaan bahan baku, dua faktor itu cukup untuk memproduksi barang dengan kualitas terbaik. “Kita hanya kalah di desain dan market,” cetusnya.

Dibandingkan Singapura, Indonesia jelas jauh lebih unggul. Namun faktanya, untuk pasaran Eropa saja, Indonesia jauh tertinggal. “Singapura menguasai 30 persen pasar Eropa. Ini karena trading house (rumah pemasaran) mereka aktif dan dikenal sangat menjaga kepercayaan konsumennya,” beber Rizal.

Manajemen ekonomi seperti ini yang perlu dipelajari pelaku industri Indonesia untuk melawan brand. Padahal beberapa barang yang dijual berasal dari Jawa Timur. Kendati dijual lebih murah, tetap saja barang yang ditawarkan melalui Singapura yang jadi pilihan. Untuk menjaga trust itu, produksi barang diawasi langsung secara ketat di Jawa Timur.

Satu persoalan lagi yang diinvetarisir KADIN Jawa Timur adalah kebutuhan tenaga kerja siap pakai. “Lulusan SMA di Indonesia banyak tapi tidak punya sertifikasi atau keahlian yang spesifik. Berbeda dengan SMK yang langsung terserap dunia kerja. Karena itu, KADIN sebenarnya berharap pemerintah keluarkan banyak kebijakan pro bisnis lokal. Selain tingkatkan ketahanan ekonomi juga bisa jadi solusi kesempatan kerja,” sebutnya.

Keinginan itu tidak berlebihan mengingat gelombang populisme yang tengah menyebar saat ini di Amerika dan Eropa, membuat peluang ekspor ke kawasan itu harus berhadapan dengan kebijakan proteksi. Di satu sisi, pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini justru memilih kebijakan ekonomi liberal dengan membuka diri bagi produsen asing untuk masuk dan memasrkan produksinya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here