Kadin Jatim Nilai Pertanian Adalah Bisnis yang Prospektif

0
46
Nusantara.news, Surabaya – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur kembali menekankan kepada seluruh jajaran kadin Kabupaten/Kota se-Jatim untuk terus giat menggelorakan ekonomi khusus sektor pertanian yang dinilai sebagai tulang punggung perekonomian rakyat dalam menghadapi pasar bebas Asean.
Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti menyatakan bahwa gagasan penguatan ekonomi rakyat khususnya yang terkait dengan bidang perekonomian harus terus ditingkatkan. Sangat strategis, mengingat sektor pertanian menyumbang sekitar 13,3 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim yang totalnya mencapai Rp 1.855 triliun. Namun, kontribusi tersebut dinilai minim seiring dengan ketersediaan tenaga kerja di Jatim yang mencapai 35% bekerja disektor pertanian.
”Ini pekerjaan rumah bersama, bagaimana sektor pertanian yang merupakan penyerap tenaga kerja terbesar, tetapi kontribusinya ke perekonomian minim. Artinya nilai bisnisnya kurang besar, yang secara otomatis mengindikasikan bahwa masyarakat petani kita belum sepenuhnya sejahtera,” jelas Nyalla dalam rapat konsolidasi Kadin se-Jatim dalam penguatan ekonomi kerakyatan, Minggu (7/5/2017).
Mantan Ketum PSSI ini berharap Kadin se-Jatim harus bekerja ekstra keras untuk mendongkrak kembali kinerja sektor pertanian. ”Dalam satu dekade terakhir, hampir setiap tahun selalu ada berita krisis harga salah satu komoditi pangan. Awalnya krisis gula, maka diimpor gula. Lalu beras, maka beras diimpor. Krisis daging sapi, daging sapi diimpor, lalu bawang merah, bawang putih dan yang terakhir cabai. Hampir semua krisis harga komoditi tersebut berakhir dengan diimpor untuk memenuhi kebutuhan konsumen,” paparnya.
Tidak hanya itu saja, Nyalla juga menyebutkan tiga asek yang harus dilakukan dalam membangkitkan sektor ekonomi Jatim khususnya bidang pertanian. Pertama, mengatur ulang melalui regulasi rencana tata ruang wilayah yang harus memprioritas sektor pertanian. ”Jangan terjadi tumpang tindih antara lahan pertanian dengan lahan perumahan dan industri, hanya karena mengejar investasi tapi mengabaikan investasi pangan jangka panjang,” ujarnya.
Kedua, penguatan daya tawar petani di hadapan perbankan. Perbankan harus berubah dalam memperlakukan usaha pertanian melalui skema kredit yang lebih fleksibel. ”Janganlah petani hanya dipercaya oleh para tengkulak/pengijon,” cetusnya.
Ketiga, dengan memanfaatkan hasil penelitian terkait bibit dan cara tanam serta maintenant yang baik. Serta mengajak seluruh anggota dan pengurus Kadin untuk tidak ragu-ragu kembali terjun dalam bisnis pertanian untuk memberdayakan ekonomi petani dan masyarakat desa secara luas.
“Jangan ragu. Pertanian adalah sektor bisnis yang prospektif. Bisnis yang terkait dengan ketahanan pangan tidak akan pernah merugi, karena besarnya permintaan. Jumlah penduduk Indonesia saja sudah 250 juta jiwa, belum nanti potensi ekspor. Saya punya teman sekarang sedang kembangkan beras organik bermitra dengan petani lokal. Setahun dia untung Rp 3 miliar tanpa perlu tiap hari di sawah. Dia kontrol saja lewat teknologi.  Jadi teman-teman Kadin di daerah jangan ragu untuk bermitra dengan petani, mengembangkan potensi desa dan memberi manfaat ke masyarakat,” ujar La Nyalla.
La Nyalla menginstruksikan ke Kadin di daerah agar segera merapatkan diri dalam waktu dua pekan ke depan. “Saya harapkan dalam dua pekan ke depan sudah ada laporan hasil tindak lanjut dari rapat koordinasi hari ini,” pungkas La Nyalla.
Ketua Kadin Jatim juga meminta seluruh komponen Kadin di Jatim untuk ikut membantu petani di daerah masing-masing dalam memperpendek mata rantai perdagangan komoditas pertanian sehingga petani bisa memeroleh hasil yang maksimal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here