Obrolan Warung Kopi

Kalau Saya Warga Jakarta, Saya Tidak Akan Pilih Ahok

0
348

Nusantara.news, Surabaya – Tak terhitung berapa pasang mata yang memelototi tayangan televisi untuk mengetahui hitung cepat hasil sementara pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang digelar Rabu (15/2/2017) lalu.

Dua pasangan calon yang sementara unggul, yakni Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang telah mengantongi 43 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno 40,2 persen. Sementara pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni tersisih dengan perolehan suara hanya 18 persen.

Masalah ini menjadi bahan diskusi di sebuah warung kopi, di pojokan sebuah jalan raya di Surabaya, yang juga terpasang televisi. Sejumlah orang yang berkumpul menikmati secangkir kopi terlibat obrolan tentang Ahok. Nusantara.news yang juga berada di tempat itu menyimak yang mereka obrolkan..

“Ahok pasti menang ini. Anis tidak akan bisa menyalip perolehan suara Ahok,” ucap lelaki sebut saja Andik yang duduknya berhadapan dengan Nusantara.news.

Kemudian, lelaki lainnya sebut saya Agus menimpali dan menyampaikan kekawatirannya. Jika Ahok menang dan terpilih kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta, dia akan semakin congkak dan semena-mena.

“Wah, kalau begitu bahaya kalau Ahok menang dan kembali menjadi Gubernur Jakarta,” ucap lelaki bertubuh gempal menimpali obrolannya rekannya.

Agus kemudian menyampaikan alasan dari kalimat yang diucapkan. Dikatakan, jika Ahok menang, dia akan kembali arogan, apalagi punya kedudukan sebagai gubernur.

“Jelas menang lah, karena dia (Ahok) mendapat dukungan dari etnisnya, Cina,” katanya.

Masih kata Agus, setelah menjadi gubernur, Ahok akan merambah posisi lebih tinggi yakni berupaya bisa menjadi Presiden Indonesia.

“Entah presiden yang ke 8, 9 atau ke 10 baginya itu tidak penting, yang jelas target Ahok tercapai menjadi orang nomor satu di Indonesia. Itu yang harus kita pikirkan, sebab bahaya Mas, negara ini sudah dikuasai asing, dan jika Ahok sampai duduk di kursi presiden maka penguasaaan itu semakin dalam, ” jelasnya.

Dia mengakui, gaya Ahok yang ceplas ceplos, tak mengurangi kenirjanya yang bagus, tegas dan berani, tak kenal kompromi. Memang sosok seperti Ahok dibutuhkan untuk memimpin Jakarta menjadi lebih baik.

Banyak pejabat yang tidak berani main-main dengan Ahok. Koruptor akan mikir 10 kali jika akan berbuat curang, termasuk pejabat yang malas-malasan, pasti akan dicopot. Namun, kembali lelaki itu menegaskan, bahaya mengacam Indonesia jika Ahok kemudian menjadi Presiden Indonesia.

“Kita lihat saja, sekarang orang Cina sudah banyak di Indonesia. Di Surabaya saja, sampeyan bisa melihat hampir di mana-mana ada Cinanya. Kita akan menjadi budak di negeri sendiri,” kata lelaki itu sambil menyeruput kopi dan menikmati hisapan rokok.

Ditambahkan, umur Ahok masih muda, masih banyak kesempatan maju pilpres 2019. Wajar jika Ahok ingin merebut presiden di 2019 atau 2024. Jika Ahok menang di Pilgub Jakarta kali ini, akan semakin kuat kedudukannya, dan keberaniannya juga bertambah, karena didukung rakyat Jakarta.

Sementara lelaki lainnya, sebut saja Bambang, mengatakan Ahok menang atau kalah tidak ada bedanya, tak berpengaruh apa-apa. Dia mengatakan bersikap netral, siapa pun warga negara Indonesia berhak untuk memilih dan dipilih. Itu adalah ketentuan yang tidak boleh diabaikan, agar tidak semakin kacau negeri ini. Mengapa harus demikian, karena kalau tidak, bisa bahaya demokrasi kita ini.

Lelaki lainnya, dengan enteng mengatakan, jika dirinya warga Jakarta, dia tidak akan memilih Ahok. Karena, dia mengaku sependapat dengan lawan bicaranya, setelah Ahok menjadi Gubernur Jakarta, bisa mengumpulkan kekuatan untuk memuluskan jalan menuju kursi presiden.

“Kalau saya warga Jakarta, saya tidak akan memilih Ahok. Karena, tidak menutup kemungkinan posisi jabatan tertinggi itu (presiden-red) akan dengan mudah diraih. Karena, warga Cina yang tinggal di sini (Indonesia-red) semakin banyak,” ucapnya.

Obrolan itu pun terus berlanjut, dan seorang lelaki lainnya mengatakan, kalau kemenangan Ahok adalah juga kemenangan Joko Widodo. Lelaki bernama Budi itu mengatakan, pasangan Ahok-Djarot adalah yang dijagokan oleh Jokowi, termasuk pasangan Anies-Sandi. Pasangan nomor urut 3, Anies-Sandi adalah untuk menghadang AHY-Silvy.

“Kemenangan Ahok adalah kemenangan Jokowi, memang sengaja sudah dipasang seperti itu, kita lihat saja nanti,” katanya.

Budi juga mengaku sepakat dengan yang disampaikan rekannya, setelah menjabat gubernur, Ahok akan merambah ingin menduduki jabatan presiden. Entah obrolan apalagi yang berkembang di warung itu, karena Nusantara.news setelah menikmati kopi dan mie kuah kemudian berlalu. Rupanya patut direnungkan, langkah Ahok setelah berhasil menduduki jabatan Gubernur Jakarta, kemudian punya kesempatan untuk merebut posisi presiden di Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here