Kampanye Akan Kian Brutal

0
93

KAMPANYE Pemilu Presiden yang semestinya menjadi ajang menjual daya tarik pribadi dan keunggulan program masing-masing pasangan capres-cawapres, kini akan berubah wujudnya. Juru kampanye tidak lagi mengunggul-unggulkan kelebihan calon yang dijualnya, tapi justru akan “membunuh” calon lawan.

Setidaknya itulah yang terbaca dari pernyataan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir. Kata Erick, selama pihaknya selalu mendapat serangan dari kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kini mereka memodifikasi strategi yang tidak lagi bertahan, tapi juga menyerang. “Mau tidak mau kita harus ofensif sekarang,” kata Erick dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Direktorat Hukum dan Advokasi TKN di Jakarta, Kamis (13/12/ 2018) pekan lalu.

Ini artinya, kampanye akan memasuki tahapan yang amat genting. Jika kemarin kita mengibaratkan tim sukses kedua belah pihak berlaku seperti seorang sniper atau penembak runduk: Hanya melepaskan tembakan ketika lawan sudah masuk sasaran tembak. Sedikit saja lawan membuat kesalahan, dia akan menjadi sasaran terbuka.

Tapi kini, aba-aba sudah diberikan. Kampanye akan segera berubah menjadi pertarungan terbuka: Saling menyerang, saling menembak, saling membunuh.

Sayangnya, strategi ofensif itu pun belum akan menggeser pertarungan ke wilayah konsepsional. Sebab, seperti dikatakan, Juru Bicara TKN Irma Suryani Chaniago, TKN akan mengkapitalisasi masa lalu Prabowo-Sandiaga. “Kemarin kita nggak ribut soal penculikan dan pelanggaran HAM. Sekarang kita akan bicara itu juga. Kalau kemarin mereka mengkapitalisasi soal isu PKI, kita akan mengkapitalisasi soal isu pelanggaran HAM masa lalu,”  katanya. “Kalau mereka melanggar hukum, ya kita akan proses,” sambung Irma.

Dengan kata lain, kampanye yang salah satu aspek terpentingnya adalah pertarungan gagasan dan konsepsi pembangunan, semakin tidak tercapai. Kampanye tidak lebih dari sekadar ajang adu mulut. Dan kini perang mulut itu akan menjadi perang terbuka.

Seperti pernah kita bicarakan, pertarungan terbuka ini tidak akan terjadi seandainya masing-masing kubu bisa mengkreasi isu-isu kampanye yang konsepsional. Reaksi terhadap isu seperti itu adalah pro-kontra yang juga bersifat konsepsional pula.

Namun, karena tim di kedua pihak sangat tidak cerdas menciptakan wacana untuk memancing perdebatan tentang hal-hal yang paradigmatik, ditambah pula capres-cawapres dari kedua kubu tidak pula mampu membuka wacana berkelas, maka yang terjadi hanyalah saling intai layaknya sniper. Coba saja simak perdebatan di antara kedua tim pendukung. Semuanya isu-isu sepele, yang bahkan tak ada kaitannya dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan negara. Belum pernah kita mendengar ada wacana besar yang komprehensif tentang apa yang akan mereka lakukan mengelola bangsa ini jika terpilih menjadi presiden. Entah belum tersampaikan, atau memang tak ada yang mau disampaikan.

Dari barisan petahana kita belum mendengar apa-apa kecuali mengungkapkan apa yang sudah dilakukan –yang dibungkus dengan kata “keberhasilan”—serta menangkis segenap kritik. Dari barisan penantang pun baru terdengar kritik-kritik tajam terhadap petahana, dan sesekali mengungkapkan rencana ketika berkuasa.

Selain itu, kita belum mendengar sama sekali paparan konsep yang kuat dari orang-orang yang akan menjadi pemimpin negara itu. Yang terdengar baru merupakan letupan-letupan gagasan kecil, yang kalau dibandingkan dengan hamparan masalah yang bakal dihadapinya sebagai presiden kelak, masih jauh panggang dari api. Pernyataan mereka belum utuh sebagai konsep. Baru sekadar pernyataan man on the street, selayang pandang belaka.

Kita hanya sering mendengar bahwa para capres itu akan melakukan ini-itu. Mereka menjanjikan memberantas korupsi, mereka berjanji akan meningkatkan anggaran pendidikan, mewujudkan keamanan, menciptakan lapangan kerja, dan sebagainya. Tapi, bagaimana merealisasikannya, kita belum tahu. Mereka belum menjelaskan kepada publik bagaimana mencapai semua itu.

Inilah yang membuat rakyat terpaksa harus mengurut dana. Sebab, sudahlah mereka tak pernah mendengar akan dibawa kemana nasib mereka nanti, kini kubu-kubu politik yang bertarung berebut kuasa itu justru akan saling serang. Sebab, dalam “deru dan debu” kampanye itu, rakyat tak dapat apa-apa.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here