Kampanye Damai, Jangan Berhenti di Bibir Elite

0
40

Nusantara.news, Jakarta – Pluit tanda dimulainya kampanye Pemilu 2019 (23 September – 13 April 2018), sudah dibunyikan. Peresmian masa kampanye ini diawali dengan deklarasi damai yang berlangsung di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (23/9). Selain diisi dengan deklarasi dan karnaval, acara tersebut dimeriahkan dengan penggunaan baju adat oleh setiap peserta, termasuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Acara deklarasi juga diikuti oleh seluruh tim kampanye dan pimpinan partai pendukung pasangan calon. Mereka yang hadir bersepakat: mewujudkan pemilu damai dan sejuk. Meski sempat dijeda oleh aksi walk out Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena merasa tak nyaman oleh relawan Jokowi (Projo) yang dianggapnya telah memprovokasi, namun secara umum acara tersebut berlangsung penuh kehangatan. Salah satu momen sedap dipandang misalnya saat Jokowi-Prabowo saling bergandengan tangan seusai deklarasi, juga keakraban para elite parpol yang berkompetisi.

Sehari sebelumnya, tepatnya saat pengambilan nomor urut pasangan calon di kantor KPU, Sandiaga Uno mencium tangan kiai Ma’ruf Amin. Pun, dalam pidatonya, baik Jokowi maupun Prabowo, saling menyanjung. Keduanya juga menyerukan agar pemilu dilaksanakan dengan damai dan ajang adu gagasan, bukan fitnah dan adu domba. Elok nian. Untuk sesaat, wajah politik Indonesia mendadak berbinar-binar.

Namun apakah deklarasi damai dan momen “persahabatan” politik yang diperlihatkan di muka media, benar-benar punya vibrasi hingga ke akar rumput atau sebatas di bibir elite?

Pertanyaan bernada keraguan itu wajar diajukan, sebab dalam riwayat politik kontestasi, para elite punya tabiat: lain ucapan lain pula tindakan. Merekalah memang yang gemar berkomitmen, tetapi komitmen itu tidak diteruskan dan dipelihara hingga ke para pengikut di tingkat warga. Yang lebih parah tentu komitmen damai itu boro-boro sampai ke akar rumput, wong elite sendiri mengingkarinya. Elite yang berkomitmen, elite pula yang lidahnya tidak bertulang. Nyatanya dalam kampanye malah elite yang menebar kebencian, permusuhan.

Akhirnya, seruan kampanye damai, pemilu sejuk, atau semacamnya, kembali menjadi retorika elite yang membosankan tiap lima tahunan. Juga tak bermakna apa-apa jika di level pendukung arus awah masih saling “berhunus pedang”, sama-sama mengumbar kebencian, provokasi, dan fitnah. Terlebih, jika kehangatan elite ditampilkan semata-mata untuk terlihat “kece” di hadapan media atau sebatas formalitas karena tak enak dengan publik, bahkan berharap ada berkah elektabilitas. Prilaku tersebut tentu saja tidak saja menodai keadaban politik tetapi juga merusak kehormatan dirinya.

Kehendak berpolitik damai dan sejuk yang tak menetes di akar rumput, kemungkinannya ada tiga: elite tersebut tak memahami potensi konflik di arus bawah, elite tersebut menikmati karena mengambil keuntungan elektoral dari konflik, atau elite tersebut tak memiliki pengaruh bagi para pendukungnya. Kondisi tersebut semakin menyedihkan manakala para elite itu justru membiarkan pertikaian politik antar-pendukung yang menghancurkan lawan politiknya.

Menguji Komitmen Damai

Di Pilpres kali ini pun, gejala “penodaan” terhadap kampanye damai dan pemilu sejuk pun sudah mulai menyeruak. Lihat saja, selepas deklarasi damai, para elite ribut soal video “potong bebek angsa” yang diposting politisi Gerindra Fadli Zon. Ada pula saling serang hanya perkara burung yang dilepas cawapres Ma’ruf Amin tak bisa terbang saat deklarasi damai, lalu menghubungkannya dengan “kesialan politik”.

Lainnya, curahan politisi tentang pintu toilet yang digedor ajudan salah satu capres, dan banyak lagi narasi-narasi dangkal dan remeh-temeh yang tak bermanfaat sama sekali untuk rakyat. Sebaliknya, hal tersebut bisa memprovokasi massa di arus bawah.

Sebab itu, untuk menjaga komitmen pemilu damai dan sejuk, elite politik penting agar tak membuat pernyataan kontroversial yang rawan memicu kegaduhan. Masa kampanye ini lebih elok jika digunakan untuk mengenalkan dan makin mendekatkan visi-misi, serta program dari masing-masing capres-cawapres kepada pemilih. Di media sosial, para pendukung perlu menghindari untuk menjatuhkan kubu lawan, terutama dengan menggunakan informasi hoaks dan ujaran kebencian.

Keakraban Prabowo-Sandi dengan Jokowi-Ma’ruf Amin saat pengambilan nomor urut pasangan calon di kantor KPU

Keakraban yang ditunjukkan oleh pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi pada acara deklarasi kampanye pemilu damai seharusnya menginspirasi para pendukung dua kubu untuk lebih bersaing secara sehat tanpa harus saling menjatuhkan.

Tentu tidak hanya parpol, caleg dan pasangan calon yang perlu berkomitmen menciptakan situasi aman dan damai selama proses pemilu berlangsung. Tidak kalah penting untuk selalu diwujudkan adalah netralitas penyelenggara, baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Begitupun aparat keamanan perlu berdiri-diri di tengah-tengah dan menghindari kesan memihak salah satu kubu pasangan calon. Sikap netral dari aparat kepolisian dan TNI sangat diperlukan karena masalah keberpihakan akan dengan mudah menyulut reaksi masyarakat yang bukan tidak mungkin destruktif.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here