Kampanye Menguji Capres

0
42

DUA pasang calon presiden dan wakil presiden  sudah selesai menjalani pemeriksaan kesehatan kemarin. Tahapan berikutnya, pada 20 September depan, KPU akan menetapkan pasangan calon yang resmi menjadi peserta pemilu. Sehari kemudian akan dilakukan pengundian nomor urut, dan mulai 23 September sampai 13 April 2019, mereka akan berkampanye untuk menarik simpati pemilih, atau kurang lebih selama tujuh bulan. Inilah kampanye terlama sepanjang sejarah pemilihan presiden secara langsung. Pemilu Presiden sebelumnya, kampanye calon presiden hanya kurang dari sebulan, 4 Juni-5 Juli 2014.

Banyak hal bisa terjadi dalam waktu selama itu. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah konflik massa. Sebab, harus diakui, rivalitas antara kedua kubu sudah berada di intensitas tinggi. Waktu kampanye yang panjang dikhawatirkan menjadi masa inkubasi benih konflik itu yang bisa pecah setiap saat. Apalagi ada seruan dari calon petahana Joko Widodo kepada relawannya agar “kalau diajak berantem juga berani”.

Sebab itu, dari sekarang sudah harus dibangun komitmen bersama untuk mencegah kompetisi berubah menjadi konflik. Pemilu adalah sebuah pintu gerbang memasuki babak baru perjalanan bangsa ke masa depan. Bisa kita bayangkan, masa depan macam apa yang akan dimasuki jika pintu gerbang itu berlumuran darah, dan dendam. Dan jika benar, kampanye tanpa kekerasan itu bisa diwujudkan, setidaknya sampai pintu gerbangnya saja perjalanan Indonesia memasuki babak baru sudah mulus.

Komitmen inilah yang benar-benar perlu diuji. Komitmen itu sekaligus menghadapkan para capres di depan mahkamah rakyat yang sebenarnya. Rakyat akan menilai, apakah para pemimpin politik itu benar-benar bisa memegang janji dengan menampilkan materi kampanye yang dewasa. Materi kampanye yang tidak memancing emosi kontestan lain. Materi kampanye yang mampu mendudukkan partai politik sebagai alat perjuangan kepentingan bangsa, dan bukan alat perjuangan kepentingan kelompok. Para pemimpin politik itu juga diuji kemampuan mereka untuk menumbuhkan iklim persaingan antarpartai yang kompetitif, dan bukannya permusuhan.

Peran para pemimpin yang mampu menampilkan kesejukan itu sangat menentukan perilaku massa politik di bawah. Para pemimpin politik harus menyadari bahwa massa politik kita adalah massa politik emosional, yang menentukan sikap dan pilihan berdasarkan emosi. Massa politik kita belum massa politik yang rasional, yang menentukan sikap dan pilihannya berdasarkan pertimbangan akal sehat. Karena itu, brutal tidaknya massa politik sangat ditentukan oleh gaya para pemimpinnya.

Rakyat juga akan menilai apakah para pemimpin politik itu benar-benar pemimpin yang berakar di tengah massanya. Kalau benar dia berakar, maka dia akan bisa mengendalikan gerakan massanya agar tetap dalam koridor kampanye yang santun.

Rakyat juga akan melihat seberapa besar kemampuan para pemimpin politik itu memberikan pendidikan politik kepada massanya. Para politisi itu seyogianya tidak melulu bersandar pada dukungan emosional, tapi juga berupaya membangun dukungan rasional. Untuk itu mereka harus berkompetisi pada program, platform, dan bukan melestarikan budaya kultus individu, menyuburkan praktek money politics, apalagi sekadar mengumbar janji kosong.

Mahkamah rakyat itulah yang harus dilewati para politisi sebelum rakyat menentukan pilihan. Jika rakyat menilainya memenuhi persyaratan sebagai pemimpin politik yang sehat, mumpuni, punya komitmen pada pendewasaan dan kecerdasan politik massa pendukungnya, maka sang pemimpin layak diserahi kepercayaan mengemban aspirasi rakyat. Tetapi, kalau sang pemimpin hanya bagai tong kosong yang berbunyi nyaring, amat berbahaya memberi mereka kekuasaan.

Pemilu mendatang memang menawarkan banyak sekali perbaikan peraturan. Tetapi, peraturan itu tidak akan bermakna apa-apa, jika para pelaku politik tidak berusaha bermain dalam semangat perbaikan itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here