‘Kampung Idiot’ Juga Masalah Bangsa, Jangan Abaikan!

0
352
Penderita Down Sindrom di Desa Krebet.

Nusantara.news, Ponorogo – Ponorogo dikenal dengan kesenian reog. Di sini juga basis berbagai pondok pesantren. Salah satunya Pondok Modern Darussalam Gontor. Komoditas pertanian dan perkebunan seperti tembakau, kakao, tebu, kopi dan cengkeh juga menjadi potensi perekonomian bagi Kabupaten Ponorogo. Sementara infrastrukturnya sangat memadai (akses jalan aspal, akses informasi, akses listrik, bangunan pasar permanen dan mini market, akses simpan pinjam dan kehadiran sektor manufaktur) sehingga Kabupaten Ponorogo masuk dalam sepuluh besar kabupaten/kota terbaik se-Jawa Timur.

Sayangnya, potensi ini belum tergarap secara serius yang dapat membawa kesejahteraan merata bagi masyarakatnya. Masalah kemiskinan menjadi momok. Berdasar statistik peta kemiskinan Dompet Dhuafa 2010 menunjukan bahwa terdapat 161,634 orang (18.89% penduduk) di Kabupaten Ponorogo yang berhak menerima zakat atau infak/sedekah karena tidak mempunyai penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan makan, pakaian, perumahan dan kebutuhan primer lain bagi diri sendiri maupun keluarga yang menjadi tanggung jawab.

Memang tidak mengejutkan. Di Indonesia mungkin hanya Kabupaten Ponorogo yang desa-desanya banyak dihuni warga miskin dan ditinggal di rumah tidak layak. Bahkan ada beberapa desa dijuluki kampung idiot, karena penghuninya mengalami down syndrome (keterbelakangan mental). Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai ratusan orang. Apakah ini disebabkan faktor kemiskinan?

Ada lima desa di ponorogo yang mendapatkan sebutan kampung idiot.  Yakni, Desa Dayakan di Kecamatan Badegan, Desa Sidoharjo dan Krebet (keduanya Kecamatan Jambon). Dua desa lagi adalah Desa Karangpatihan serta Pandak di Kecamatan Balong.

Dari lima Desa itu, Sidoharjo menjadi desa dengan Jumlah penduduk idiot tertinggi. Berdasarkan data pemerintah desa setempat, saat ini terdapat 445 warga yang mengalami keterbelakangan mental itu. Jika dirinci lebih detail, yang paling banyak terdapat di Desa Sidoharjo 323 orang di antara 5.690 jiwa penduduk di desa itu (sekitar 5,7 persen). Selanjutnya, di Desa Karangpatihan terdapat 69 orang dan di Desa Pandak terdapat 53 orang.  Selanjutnya, di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, terdapat 69 orang dan di Desa Pandak, Kecamatan Balong, terdapat 53 orang.

Keberadaan warga idiot di Sidoharjo dan beberapa desa lainnya itu bukan terjadi secara kebetulan. Ada benang merah yang mengaitkan lima desa itu. Sehingga warganya banyak yang mengalami keterbelakangan mental. Geografis kelima desa itu berada pada jalur yang sama, yakni, lereng Gunung Rajekwesi yang melingkar dari Kecamatan Badegan hingga Kecamatan Balong.

Tanaman padi dan jagung hanya bisa tumbuh di musim penghujan. Itu pun tidak semua lahan bisa ditanami padi. Ketika kemarau datang nyaris sebagian tubuh gunung tampak telanjang dengan batu hitam menonjol. Atau, pohon-pohon keras yang meranggas tingal ranting. Kalaupun masih ada tanamanan yang bisa ditanam, itu hanyalah pohong (ketela pohon).

Banyaknya warga yang tinggal dan menggantungkan hidupnya dari alam gunung yang cadas itulah, diduga menjadi pemicu Sidoharjo menjadi desa yang paling banyak warga idiotnya. Maklum, dulunya kondisi gunung Rajekwesi memang memprihatinkan.

Sekitar 1950 hingga akhir 1960, terjadi pagebluk atau masa kesulitan bahan makan bagi warga di kawasan ini. Kala itu, ada prahara hama tikus yang menyerang semua tanaman warga. Hanya tanaman gemblong atau sejenis tanaman talas warna hitam  dan gatal yang dimakan tikus.

Dengan terpaksa, talas yang akhirnya dijadikan makanan utama. Tiap hari, warga pergi ke gunung mencari gemblong di sela-sela tanaman liar. Setelah dikupas, talas dengan daun hitam tersebut direbus atau di kukus dan langsung dimakan.

Tidak ada pilihan lain bagi masyarakat setempat selain mengkonsumsi makanan babi itu. Tak terkecuali ibu hamil. Perempuan yang seharusnya mendapatkan gizi lebih itu sehari-harinya juga makan gemblong terus. Toh kalau ada makanan yang lebih baik, saat itu hanyalah gaplek yang dimasak menjadi tiwul.

Dalam kondisi seperti itu, penduduk tidak lagi memikirkan bagaimana mencukupi kebutuhan gizi bagi jabang bayi di kandungan mereka. Bagaimana kebutuhan zat gizi, yodium, atau senyawa DNA yang bisa meningkatkan kecerdasan bayi mereka nantinya. Jangankan untuk mencukupi kebutuhan makan empat sehat lima sempurna plus susu formula khusus bagi ibu hamil, bisa makan dan bertahan hidup bagi mereka sudah cukup.

Sejak rentang tahun 1950-1970, banyak bayi lahir dengan tidak normal. Bayi yang kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan syaraf abnormal, sehingga ada yang lumpuh, mengalami kebutaan, tunarungu, dan pertumbuhan fisik yang tidak normal.

Hal seperti itulah yang menyebabkan banyak banyak bayi pada rentang tahun 1950 – 1970, yang lahir dengan tidak normal. Baik secara fisik maupun mental. Banyak bayi kurang gizi, yang yang akhirnya menyebabkan pertumbuhan syaraf mereka abnormal, sehingga ada yang lumpuh, mengalami kebutaan, tunarungu, dan pertumbuhan fisik yang tidak normal.

Akhirnya si anak tumbuh dan berkembang dengan segala keterbatasanya. Yang buta tidak bisa melihat gersangnya gunung Rajekwesi. Yang tuli juga tak pernah mendapat pengajaran selain apa yang ia lihat. Pun yang mengalami lumpuh dan syaraf hanya bisa duduk terpaku di rumah dulu.

Anak-anak berkebutuhan khusus itu, tak bisa sekolah. Selain tak ada sekolah inklusi (berkebutuhan khusus) kesadaran untuk sekolah saat itu juga nyaris tak ada. Kondisi ekonomi saat itu memaksa warga hanya berfikir bagaimana bertahan hidup. Banyak pengamat dan sosiolog mengatakan kalau idiot bermula dari kurang gizi yang diderita warga di kampung-kampung itu dalam waktu yang lama. Sehingga, anak dan turunan mereka hingga hari ini masih banyak yang menderita sakit yang memprihatinkan itu, yakni sakit mental alias idiot.

Bantuan Instan tak Selesaikan Masalah

Pola interaksi yang terjadi di desa-desa Ponorogo sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia normal. Penderita keterbelakangan mental yang bisa bekerja diarahkan untuk membantu orang tua. Mereka yang tidak bisa diajari dibiarkan begitu saja berkeliaran di perkampungan. Karena tidak ada satu pun yang bertipe menyerang. Warga juga tidak pernah merasa terganggu.

Dari sisi perekonomian jelas tidak bisa dibanggakan. Sebagai buruh tani, bisa jadi penghasilan mereka Rp 100 ribu–Rp 300 ribu per bulan. Dengan rendahnya penghasilan ditambah lagi keluarga yang rata-rata mempunyai anak lebih dari dua, ujung-ujungnya warga tidak bisa mengonsumsi makanan bergizi secara rutin. Ironi memang.

Menurut keterangan tiga Kades yang wilayahnya banyak dihuni warga idiot (Sidoharjo, Karangpatihan, dan Pandak), warganya hanya bisa menikmati nasi saat pembagian beras untuk keluarga miskin (raskin). Beras jatah pemerintah itu hanya bisa dikonsumsi beberapa hari. Setelah itu, kembali lagi mereka mengonsumsi tiwul. “Biasanya tanpa lauk. Tiwul itu saja makanannya,” ucap Kades Pandak Yaimun.

Seperti yang terjadi di rumah Janem (70). Saat ke rumahnya, dia sedang menjemur singkong di halaman. Di dalam rumah Bandi (43) dan Jemari (40) sedang memegang tempe berisi tiwul. Tidak ada lauk di tumpukan tiwul itu. Di dalam rumah itu juga tidak terdapat banyak perabot. Hanya dipan tanpa kasur yang digunakan untuk duduk oleh dua anaknya yang sama-sama idiot itu.

Namun, di balik kisah kemiskinan di desa-desa itu, ada yang menarik. Yakni, kisah Mbah Temu, (65), warga Dukuh Sidowayah. Dia memang tidak mengalami keterbelakangan mental, tetapi buta. Meski buta, setiap hari dia memanjat pohon jati yang menjulang tinggi untuk mengambil daunnya. Daun-daun itu dijatuhkan, lalu dikumpulkan kembali. Setiap helai daun biasanya dihargai sekitar Rp 2.

Keluarga yang anggota keluarganya banyak mengidap idiot adalah Giyem. Dia adalah anak kelima di antara 9 bersaudara. Kondisi dia normal. Tetapi, empat adiknya mengalami idiot. Mereka adalah Painten (42), Boinem (40), Danem (38), dan Dayat (35). Semua tinggal serumah dengan Giyem. Si bungsu Dayat tergolong down syndrome ringan. Sebab, dia masih bisa diajak berbicara dan mau bekerja. Selama ini dia bersama Giyem yang normal menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan tiga kakaknya yang saat itu duduk di depan rumah hanya bertugas membersihkan rumah. “Biasanya saya mencari batu dan mengurus kambing,” ucap Dayat, lantas terkekeh sendiri.

Satu keluarga menderita down syndrome di perkampungan idiot, Ponorogo.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sebenarnya pernah melakukan kunjungan di Dusun Kates, Desa Pandak. Di dusun ini terdapat 55 penderita tunagrahita, yang sebagian besar berusia produktif. Sayangnya mereka tidak bisa beraktifitas banyak karena kemampuan mereka yang sangat terbatas.

Yaimun menuturkan, sebetulnya para penderita disabilitas intelektual ini sudah lama ada. “Kami pernah mengajukan bantuan untuk mereka ke Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Tetapi itu tidak ditanggapi, karena mereka dianggap sebagai kaum miskin biasa. Lalu tahun 2011, banyak wartawan datang dan mengangkat kasus ini. Makanya di sini terkenal dengan ‘kampung idiot’.

Kini, kampung ini pun menjadi terkenal, bahkan dijuluki dengan nama “Kampung Idiot” atau “Kampung Tunagrahita”. “Sejak kasus ini terangkat di media, barulah ada perhatian dari pemerintah,” ujar Yaimun menjelaskan.

Banyak petugas datang melakukan pendataan terhadap para penderita disabilitas intelektual. Mereka datang untuk mengetahui lebih dalam tentang penduduk di desa ini. “Barulah tahun 2012, bantuan untuk mereka datang. Itu pun belum mencakup semuanya,” kata Yaimun.

Paeran, Kepala Dusun Kates menambahkan, kehidupan para penderita disabilitas intelektual ini sungguh memprihatinkan. “Bagaimana tidak, mereka hanya bisa bergantung kepada keluarga mereka yang normal. Seandainya keluarga mereka yang normal itu tidak ada, bagaimana nasib mereka,” tutur Paeran.

Selain bergantung untuk beraktivitas, para penderita disabilitas ini juga bergantung secara penghidupan. “Ya dari tetangga-tetangga mereka yang memberi makan,” kata Paeran.

Sejak terangkat di media, selain dari pemerintah, bantuan juga datang dari luar kalangan pemerintah. ”Ada dari perusahaan rokok yang membantu mereka, dari Bank Indonesia juga membantu, bantuan raskin juga mereka terima rutin. Rata-rata bantuan dari luar datang setiap sebulan sekali,” kata Yaimun.

Di Dusun Kates terdapat sekitar 500 jiwa. Dari jumlah itu ada 55 orang atau 11 persen merupakan penderita disabilitas dari 49 Kepala Keluarga. Sebagian besar masih berumur produktif. Sementara Desa Pandak Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo, dihuni oleh 3.621 jiwa atau sekitar 1.100 kepala keluarga.

Dengan datangnya bantuan, para penduduk kini menjadi terbiasa meminta barang kepada para pengunjung. Alih-alih memberdayakan diri dengan memanfaatkan bantuan, mereka lebih memilih menggantungkan diri pada “pendapatan” dari para pengunjung.

“Itu yang harus diubah. Pemerintah harus memberikan bantuan yang sifatnya memancing mereka untuk berdaya,” tegas Indadi, warga setempat. Memang, selama ini bantuan yang diberikan tergolong instan. Warga menerima dan menikmati bantuan, lalu bantuan habis dan mereka menanti bantuan lagi. Yaimun menyebut, pemberdayaan itulah yang seharusnya menjadi jalan keluar. “Percuma kalau hanya terus diberi makan,” ungkapnya.

Desa Karangpatihan juga mulai merasakan “nikmatnya” memiliki warga yang menderita keterbelakangan mental. Sebab, desa tersebut mendapatkan banyak bantuan dari Gubernur Jatim Soekarwo, mantan Pangdam V Brawijaya Mayjen Suwarno, dan pihak lain. “Jalan desa ini sepanjang 5 kilometer diaspal karena ada orang-orang itu (down syndrome),” ujar Kades Karangpatihan Daud Cahyono.

Sebelumnya, jalan daerah tersebut memang masih berupa jalan makadam dan tanah. Banyaknya pejabat dan kunjungan membuat jalan itu dibangun. Daud masih ingat betul, pada 2010 Soekarwo dan Suwarno memberikan bantuan ternak. Keluarga atau warga down syndrome yang masih bisa diajak bekerja diberi beberapa ekor ternak.

Harapan Baru Kampung Idiot

Adalah Eko Mulyadi, mantan kepala desa Karangpatihan, yang merasa peduli dengan keberadaan warga yang memiliki cacat fisik dan keterbelakangan mental. Setiap hari rumah Mulyadi menjadi tempat bagi mereka.

Kesediaan Mulyadi menerima mereka berawal dari ayahnya, seorang petani, yang menawarkan diri untuk merawat seorang anak cacat dan ia memahami betul seperti apa hidup yang mereka jalani.

“Saya baru berusia empat tahun ketika ia datang untuk tinggal bersama kami, tetapi saya secara naluriah merasa sangat sedih. Saya adalah salah satu dari sedikit anak-anak di desa yang bisa mengenyam pendidikan dan anak ini selalu menemani saya. Dia tak bisa bicara tapi saya harus benar-benar tahu dan mengerti dia dengan baik. Dia menjadi teman saya. Saat itulah saya melihat orang lain di desa ini seperti dia, “kata Mulyadi.

“Mereka diabaikan oleh keluarga mereka karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan anak-anak itu. Mereka memberi makan anak-anak, tetapi sebaliknya mereka tidak mempedulikannya dan meninggalkan mereka untuk berjuang sendiri.”

Seiring waktu Mulyadi tumbuh dewasa dan ia menjadi lebih peduli. Orang lain memandang rendah orang-orang cacat, mereka hanya berpikir orang-orang itu sangat bodoh. Mereka bahkan menyebutnya gila. Di sinilah Mulyadi menunjukkan kepeduliannya.

Eko Mulyadi tinggal bersama istri dan kedua putrinya. Mulyadi sudah membawa banyak kemajuan bagi desanya.

“Saya selalu khawatir tentang orang-orang ini. Mereka begitu miskin, dan saya tidak berpikir bahwa mereka bahagia. Mereka tidak dapat memberitahu Anda bagaimana perasaan mereka tapi saya punya perasaan mereka benar-benar menderita. Kehidupan mereka sangat sulit. Saya sangat prihatin apa yang akan terjadi jika orang tua mereka meninggal? Siapa yang akan merawat mereka, dengan siapa mereka tinggal. ”

Mulyadi adalah satu-satunya remaja di desa itu yang lulus dari sekolah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika ia kembali ia merasa itu adalah tanggung jawabnya untuk melakukan sesuatu.

Pada awalnya ia hanya menyumbangkan makanan dan uang dari penghasilan sendiri, namun dia segera menyadari bahwa hal ini tidak akan mengubah kehidupan masyarakat dengan cara yang signifikan, sehingga ia mulai meminta bantuan pemerintah. Tapi tak ada satu pun yang memberikan bantuan.

Namun sejak banyak media memberitakan masalah ‘kampung idiot’, sejumlah hal mulai berubah. Pemerintah mulai mendanai program pembangunan di desa. Mulyadi tidak mau menerima bantuan instan. Sebaliknya, dia memanfaatkan bantuan yang ada sebagai sebuah kesempatan untuk membuat perubahan.

“Saya ingin melakukan sesuatu untuk orang-orang ini. Saya harus menunjukkan bahwa saya peduli tentang mereka, untuk memberi contoh. Saya ingin membuktikan bahwa orang-orang ini mampu, mereka juga dapat berguna dan kreatif. Saya ingin mereka diperlakukan setara dengan orang-orang lainnya. Saya pikir mereka layak untuk ini dan saya ingin mengubah cara orang berpikir tentang mereka.”

Maka ia membangun sebuah tempat dan meminta semua orang yang fisiknya kuat untuk maju bekerja sebagai buruh. Mulanya penduduk lain di desa itu bersikap skeptis.

Kemudian Mulyadi pelan-pelan mengajarkan mereka untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di gedung yang dibangunnya. Sebagian besar mereka menggunakan banyak bahasa isyarat. Mencoba untuk melatih orang-orang dengan ketidakmampuan belajar sebenarnya sangat sulit. Dibutuhkan banyak kesabaran, dan semua itu perlu waktu banyak. “Tantangan terbesar adalah untuk menemukan cara berkomunikasi dengan mereka. Kebanyakan melalui ekspresi wajah dan bahasa isyarat dan cara menggunakan tubuh Anda. Tapi hasilnya mencengangkan dan mengubah tingkah laku di desa ini,” paparnya.

Bangunan ini dipenuhi orang-orang cacat dan disabilitas. Namun mereka kini bisa melakukan aktivitas menenun keset.

Mereka akhirnya membantu membangun infrastruktur baru seperti jalan, jembatan dan rumah-rumah. Bahkan mereka membangun sekolah. Setelah program pembangunan gedung, Mulyadi memulai proyek lain. Pada tahun 2010, dengan bantuan dari program Corporate Social Responsibility Bank Indonesia, ia membangun kolam ikan untuk masing-masing keluarga dengan anak-anak cacat sehingga mereka bisa mencari nafkah. Sekarang ada 57 peternakan ikan di Karangpatihan.

Ya, ‘kampung idiot’ Ponorogo sudah saatnya memiliki harapan baru. Para penderita disabilitas tidak boleh lagi dianggap sebelah mata. Mereka juga manusia yang harus diperlakukan layaknya manusia. Kampung idiot adalah masalah bangsa, masalah kita bersama. Hanya kepedulian kitalah yang mampu mengubah stigma negatif di masyarakat, dan tentunya membawa perubahan bagi keberlangsungan hidup mereka.[]

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here