Kandidat Harus Punya Konsep Jelas Dekati Pemilih

0
106
Partai Demokrat dukungn pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim

Nusantara.news, Surabaya – Bisa jadi semua pihak sepakat, kalau kandidat calon Gubernur yang maju di Pemilihan Gubernur Jatim yang akan digelar 27 Juni 2018, selain piawai menyusun visi misi juga piawai saat menyampaikannya kepada masyarakat. Termasuk menjawab persoalan mendasar mengatasi kesenjangan dan kemiskinan.

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Jatim Soekarwo kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi, Senin (27/11) kemarin lusa.

“Menurut saya tidak hanya dengan menyampaikan visi misi, tetapi harus ada nilai plus yang disampaikan oleh kandidat yang dapat ditangkap dan dipahami oleh bakal pemilih, yakni soal kemiskinan dan kesenjangan,” terang Soekarwo.

Soekarwo juga berharap, pasangan Cagub-Cawagub yang baru memiliki semangat membangun dan menjadikan Provinsi Jatim menjadi lebih baik, mewujudkan kesejahteraan rakyat, dan sebagai penerima tongkat estafet kepemimpinan meneruskan program-program dari pendahulunya yang belum tuntas.

Dan, dipastikan kesempatan untuk mendapat dukungan akan selalu dilakukan oleh kandidat dengan meyakinkan pemilih termasuk pemilih pemula atau generasi milenial untuk mendulang suara. Namun, itu tidak mudah, karena pemilih milenial tidak dengan mudah diberikan janji dan harapan, itu menjadi tantangan tersendiri.

Masih menurut Pakde Karwo -sapaan Soekarwo- momentum penting yang tidak boleh diabaikan dan harus dipahami yakni penilaian kepada kandidat akan dilihat oleh calon pemilih, saat kandidat menyampaikan paparan visi misi yang disertai nilai-nilai plus sebagai bagian dari terobosan baru dan dijalankan saat terpilih sebagai kepala daerah.

“Nilai plus itulah yang penting, sebagai terobosan yang akan dijalankan,” lanjut Pakde Karwo tanpa menjelaskan apa yang dimaksud terobosan baru tersebut.

Meski tidak menyebut detail, terobosan yang dimaksud Pakde Karwo dalam memimpin Provinsi Jatim hingga dua periode bisa sebagai contoh. Misalnya, dengan pengaruh tandatangannya masyarakat khususnya pemilik kendaraan bermotor diberikan keringanan pajak, yakni pemutihan atau pembebasan pajak tahunan.

“Menurut saya, yang dilakukan Pakde Karwo itu adalah hal yang sangat positif. Penghapusan denda dan pajak kendaraan bermotor sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Jatim. Selanjutnya, biaya yang seharusnya dipakai untuk pembayaran pajak bisa dialihkan untuk keperluan yang lain,” kata Muhammad Syahrudin dimintai tanggapan soal program penghapusan pajak oleh Pemprov Jatim.

Pengamat Menilai Kandidat

Tak jauh beda pendapat serupa juga dilontarkan oleh pengamat politik dari Universitas Tronojoyo (Unijoyo), Madura Mochtar W Oetomo menyebut para kandidat yang maju di Pilgub Jatim, 2018 harus memiliki dan bisa mempaparkan visi misi dengan baik serta memiliki konsep yang jelas untuk arah pembangunan di Provinsi Jatim.

Disebutkan, pemilih milenial memiliki karakteristik yang unik. Mereka sulit ditebak, mereka juga sulit untuk digiring dalam satu spektrum suara atau pilihan, termasuk untuk di Pilgub Jatim 2018, mendatang.

Mochtar W Oetomo (Foto: Tudji)

Konsep yang jelas serta memiliki nilai plus tersebut yang harus bisa dipaparkan oleh kandidat untuk merebut suara pemilih. Dan, itu bukan hal mudah yang harus dilakukan kandidat. Karena pemilik suara milenial, yang tergolong memiliki karakter unik dan praktis harus diyakinkan dengan konsep matang, nyata dan bisa diwujudkan, tidak hanya sekedar janji dan harapan.

“Variabelnya bukan hanya soal usia dari yang dipilih baik untuk cagub atau cawagub, tapi lebih pada bagaimana sosok yang dipilih tersebut bisa mendekati dengan tepat kepada mereka yang akan memilih,” ujar Mochtar.

Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) itu mengurai, bahwa boleh jadi usia Abdullah Azwar Anas dan Emil Elistianto Dardak dekat dengan pemilih milenial, tetapi semua bergantung pada pendekatan yang mereka lakukan pada para milenial.

Dijabarkan oleh Mochtar, yang pertama kandidat harus memahami karakter millenials yg confident, creative dan connected.

Konsep Jelas, Bukan Semata Menarik Suara Pemilih

Artinya, pemilih milenial tak boleh dianggap sebagai pemilih yang bodoh atau tidak memahami politik, para kandidat harus ada ide dan konsep yang jelas yang harus ditawarkan oleh mereka.

Pola pendekatan yang dilakukan secara konvensional tidak kagi efektif harus out of the box sesuai karakter kreatif milenials serta dibarengi dengan penggunakan teknolagi jejaring, itu mutlak adanya (Medsos).

Kedua, pendekatan dengan menyentuh sisi eksistensi keberadaan milenial. Serta memberi ruang kreatifitas kepada mereka dan memanfaatkan jejaring komunikasi mereka para milenial.

Ketiga, merawat suara milenial harus dilakukan dengan jejaring sosio komunikasinya yang baik.

“Ini yang tak banyak dipahami. Karena jejaring sosio psikis mereka lebih penting dari apa pun,” urainya.

Jadi, masih kata Mochtar, berpengaruh atau tidak Anas dan Emil dalam menopang cagubnya semua sangat tergantung pada pendekatan yang dilakukan kepada para milenial, karena jika salah sedikit saja dalam mendekati milenial hasilnya malah sebaliknya, justru blunder.

Untuk diketahui, di Pilgub Jatim yang akan digelar 27 Juni 2018 mendatang, pasangan yang dipastikan maju diantaranya ada pasangan Saifullah Yusuf – Abdullah Azwar Anas. Pasangan ini diusung oleh PKB dan PDIPerjuangan. Sementara, pasangan Khofifah Indar Parawansa – Emil Elistianto Dardak didukung oleh Partai NasDem, Partai Golkar, Partai Demokrat, PPP dan masih dimungkinkan akan mendapat dukungan dari sejumlah partai lain.

Para kandidat dipastikan akan beradu pengaruh di semua wilayah kultur untuk meraup suara dan kemenangan di pemilihan kepala daerah. Mereka, para kandidat dipastikan selain telah melakukan pemetaan dan mengukur kekuatan dengan terus menyusuri semua wilayah di Jatim. Dipastikan juga masing-masing kandidat mengaku telah diterima dan memiliki kekuatan massa pendukung.

“Itu sudah pasti, dan menjadi bagian dari strategi klaim dukungan selalu terlontar oleh masing-masing kandidat,” tambah Mochtar.

Pemahaman Kultur harus Dimiliki Kandidat

Pemahaman karakter kultur menjadi peran penting untuk dipahami oleh para kandidat dalam upaya merebut simpati dan dukungan. Tentu dengan pendekatan sesuai karakter kultur harus dilakukan. Namun, yang harus dipahami kandidat untuk melakukan itu, tidak dengan mudah dan dibutuhkan metode dan peran tim sukses.

“Metode khusus memang harus dilakukan, tetapi itu tidak dengan mudah dilakukan. Sosok seperti Khofifah misalnya, dipastikan dia akan mudah masuk dan diterima pesan-pesan yang disampaikan, lantaran sebagai Menteri Sosial, Khofifah yang juga Ketua Muslimat NU kerap bersinggungan dengan masyarakat dalam kiprahnya saat menjalankan tugas sebagai menteri,” ujar Andrianto mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat dimintai pendapat tentang sosok kandidat dan kiprahnya, Selasa (28/11/2017).

Untuk diketahui, wilayah di Provinsi Jatim memiliki ciri khas dan karakteristik berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain, yang biasa disebut kultur atau Tlatah. Tlatah kebudayaan besar ada empat, yakni Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan Tlatah kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep). Tlatah yang membedakan karakteristik masyarakat Jatim berdasarkan wilayah atau sub kultur, merupakan hal unik dan cermin budaya kearifan lokal.

Pemahaman itu lah yang harus dipahami oleh kandidat saat mendekati mereka. Yakni, mengenali sub kultur dan karakteristik wilayahnya, selanjutnya menentukan strategi apa yang dipakai untuk masuk atau diterima di lingkungan tersebut.

Menurut Koentjaraningrat, ada tujuh unsur kebudayaan yang membuat Jatim terbagi ke dalam sepuluh tlatah. Tujuh unsur itu di antaranya sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem teknologi, peralatan, bahasa, dan kesenian.

Wilayah, Kultur dan Kebudayaan Arek

Pilgub Jatim, 27 Juni 2018

Masyarakat di wilayah Arek terkenal dengan karakternya yang pemberani, punya semangat juang yang tinggi, terbuka, dan mudah beradaptasi. Dan satu yang menjadi ciri khas masyarakat Arek adalah bondo nekat. Wilayahnya, Surabaya, Malang, Sidoarjo yang menjadi pusat kebudayaan Arek karena kondisi sosial masyarakatnya yang komplek dan heterogen, menjadi pusat pendidikan, ekonomi, dan parawisata.

Dipastikan, medan pertempuran paling sengit bagi para kandidat untuk mendulang suara dukungan di Pilgub Jatim adalah wilayah atau Tlatah Mataraman dan Arek. Pemilih di wilayah itu (Tlatah Arek) cenderung masih cair dan akan menjadi ajang perebutan pengaruh.

Dipastikan, medan pertempuran paling sengit bagi para kandidat untuk mendulang suara dukungan adalah di wilayah Mataraman dan Arek.

Kedua tokoh yang maju di Pilgub Jatim, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa yang notabene dikenal satu trah yakni dari Nahdliyin, dipastikan belum memiliki basis pemilih loyal di wilayah itu.

“Medan pertarungan paling sengit akan terjadi di wilayah Mataraman dan Arek. Karena kondisi masyarakat di daerah itu sangat terbuka dan belum menjadi basis pemilih loyal kedua kandidat,” pungkas Mochtar.

Wilayah atau sub kultur itu adalah Mataraman, daerah di bagian barat Jatim, yakni Kabupaten Ngawi, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Bojonegoro.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here