Kanselir Merkel: Uni Eropa Tidak Bisa Lagi Bergantung ke Amerika

0
37

Nusantara.news Kanselir Jerman Angela Merkel dalam sebuah pidato kampanye di Munich Jerman, Minggu (28/5), mengatakan bahwa saat ini Uni Eropa tidak bisa lagi bergantung dengan sekutu lama mereka, yaitu Amerika Serikat dan Inggris. Merkel mengatakan, Uni Eropa harus siap menentukan nasibnya sendiri.

Sebagaimana dilansir The Guardian, pernyataan Merkel tersebut, sebagai ungkapan rasa kekecewaan atas pidato presiden AS dalam pertemuan puncak NATO di Brussels Kamis (25/5) lalu, dan pertemuan G7 di Sisilia, Sabtu (27/5) lalu. Dalam kedua pertemuan tersebut Trump dianggap tidak memiliki iktikad yang kuat untuk membangun kebersamaan dengan Uni Eropa.

Dalam pidato pertemuan puncak NATO, Trump memang tidak menyatakan komitmen AS terhadap Pasal 5, pasal utama yang melandasi kebersamaan negara-negara anggota NATO. Dalam pasal tersebut ditegaskan, jika salah satu anggota NATO mendapat serangan bersenjata, maka sama saja merupakan serangan terhadap semua anggota NATO, sehingga tiap-tiap anggota, termasuk AS, harus merasa bertanggung jawab untuk membela.

Dengan tidak adanya pernyataan yang jelas dan tegas dari Trump untuk mendukung Pasal 5 tersebut, dapat diartikan oleh negara-negara anggota, khususnya negara-negara Eropa, bahwa AS tidak lagi akan mem-back-up mereka manakala ada sebuah serangan bersenjata ke negara-negara mereka. Ini artinya, mereka harus menyiapkan diri menghadapi kemungkinan itu.

Bukannya mendukung Pasal 5, Trump justru sebaliknya “menagih” para pemimpin negara anggota NATO untuk memenuhi janji 2% anggaran pertahanan dari GDP negara masing-masing, sesuatu yang cukup meresahkan bagi mereka.

Kedua, dalam pertemuan negara-negara ekonomi maju dunia atau kelompok negara G7, AS tidak menunjukkan komitmen yang sebelumnya telah mereka sepakati soal perubahan iklim dalam Kesepakatan Paris.

Namun, Trump meninggalkan KTT G7 di Sisilia itu tanpa memastikan komitmen terhadap Kesepakatan Paris tersebut, berbeda dengan enam pemimpin negara lainnya yang hadir pada pertemuan tersebut.

Sebelumnya, Trump memang sudah mengancam bahwa AS akan menarik diri dari Kesepakatan Paris tentang perubahan iklim. Trump bahkan menyebut bahwa perubahan iklim sebagai “hoax” atau berita bohong, untuk menunjukkan kepada lingkaran terdekatnya bahwa posisinya terhadap isu tersebut masih belum berubah.

Kesepakatan Paris merupakan kesepakatan iklim dunia pertama yang komprehensif, yang keluar pada tahun 2015 dengan tujuan untuk mempertahankan rata-rata kenaikan suhu dunia di bawah 2 derajat celcius. Agar bisa mencapai itu, banyak negara berjanji untuk mengurangi emisi karbon mereka.

Namun kesepakatan tersebut baru bisa diterapkan setelah diratifikasi oleh 55 negara dan secara gabungan, komitmen itu mencapai 55% dari produksi emisi karbon global.

Presiden AS periode lalu, Barack Obama, telah menandatangani kesepakatan tersebut mewakili AS pada September 2016, dan anggota G7 mengharapkan AS untuk terus melanjutkan komitmennya, salah satunya karena negara itu adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia setelah China. Tapi malang bagi kelanjutan Kesepakatan Paris, sebab Trump, penerus Obama, rupanya bukan orang yang sejalan dengan ide tersebut.

Kembali ke pidato kanselir Jerman, Merkel marasa jengkel bahwa aliansi Barat pasca-perang dingin telah diremehkan dengan adanya Brexit di Inggris dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS.

“Inilah saat dimana kita tidak lagi dapat bergantung pada orang lain,” kata Merkel dalam pidato kampanyenya menghadapi pemilu Jerman bulan September mendatang.

“Saya mengalami hal itu dalam beberapa hari terakhir ini. Kita, orang Eropa benar-benar harus menentukan nasib kita di tangan kita sendiri,” kata Merkel.

Merkel juga mengatakan kepada sekitar 2.500 massa yang hadir di ibukota Bavaria, bahwa Jerman dan Eropa secara alami akan berusaha untuk tetap berhubungan baik dengan AS, Inggris dan negara-negara lain, “bahkan dengan Rusia”, namun “Kita harus tahu bahwa kita harus berjuang untuk masa depan kita sendiri, untuk nasib kita sebagai orang Eropa,” tambah Merkel.

Selama kampanye pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu, Donald Trump memang sering mempertanyakan nilai dari Uni Eropa. Trump juga menyambut baik referendum Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa dan mengatakan hal yang positif tentang politisi anti Uni Eropa seperti pemimpin sayap kanan Prancis Marine Le Pen, yang akhirnya kalah dalam Pemilu Prancis beberapa waktu lalu.

Trump juga kerap “menyerang” Jerman dengan menggambarkannya sebagai negara yang melakukan praktik perdagangan yang sangat buruk. Dalam pembicaraan terpisah di Brussels Trump mengeluh bahwa Jerman, negara ekonomi terbesar di Eropa, menjual terlalu banyak mobil ke AS.

Apa yang bisa dilakukan Jerman sebagai negara paling kuat ekonominya di Uni Eropa? Setelah AS tampaknya tak lagi memberi dukungan, serta lepasnya Inggris dari Uni Eropa yang saat ini prosesnya tengah berjalan.

Merkel tentunya tengah membangun komunikasi dengan presiden baru Prancis Emmanuel Macron. Dengan Macron dia menginginkan kembali menghidupkan mesin Franco-Jerman yang tengah sekarat, padahal telah lama memperkuat Eropa.

“Dimana Jerman dapat membantu, Jerman akan membantu,” kata Merkel, “Karena Jerman hanya bisa melakukannya dengan baik jika Eropa berjalan dengan baik.”

Di tengah isu melemahnya dukungan AS terhadap NATO yang tentu akan berpengaruh terhadap pertahanan negara-negara Eropa, Jerman secara diam-diam sedang melakukan upaya membangun Angkatan Darat Eropa di bawah komandonya.

Berlin tengah berusaha mengintegrasikan brigade dari negara-negara yang lebih kecil di benua Eropa ke dalam Bundeswehr, angkatan bersenjata Jerman.

Jerman dan dua sekutu Eropanya, Republik Ceko dan Rumania, diam-diam telah mengambil langkah menuju upaya yang menyerupai tentara Uni Eropa, mereka telah mengumumkan Integrasi angkatan bersenjata mereka.

Seluruh militer Rumania memang tidak akan bergabung dengan Bundeswehr, dan angkatan bersenjata Ceko juga hanya menjadi sub divisi dari angkatan bersenjata Jerman. Namun ke depan  masing-masing negara akan mulai mengintegrasikan satu brigade ke dalam Bundeswehr: Brigade Mekanik ke-90 dari Romania akan bergabung dengan Divisi Pasukan Rspon Cepat Bundeswehr, sedangkan Brigade Rapid Stroragement Ceko ke-4 yang bertugas di Afghanistan dan Kosovo akan menjadi bagian dari Divisi Lapis Baja ke 10 Jerman.

Dengan demikian, mereka akan mengikuti jejak dua brigade Belanda, yang salah satunya telah bergabung dengan Divisi Pasukan Respon Cepat Bundeswehr dan satu lagi telah diintegrasikan ke dalam Divisi Lapis Baja I Bundeswehr.

Ini tentu saja merupakan upaya Jerman, sebagai pemimpin di Uni Eropa, untuk membangun kekuatan militer di kawasan Eropa, dimana Inggris sebagai kekuatan militer utama Eropa lainnya telah menyatakan Brexit, dan Prancis yang cenderug tidak bersedia memimpin militer Uni Eropa.

Apakah Jerman akan berhasil membangun kekuatan Uni Eropa tanpa Amerika dan Inggris, dan dukungan Prancis yang masih setengah hati? Tentu saja akan berat, tapi untuk saat ini, tampaknya tak ada pilihan lain bagi Uni Eropa, kecuali membangun kekuatannya sendiri. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here