Kapal Asing Dilarang Masuk, Harga Ikan Kerapu Situbondo Anjlok

0
244

Nusantara.News, Situbondo –  Pasca terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan terkait pembatasan kapal dari luar negeri sangat berdampak pada  usaha pembudidaya ikan kerapu di Situbondo. Hasil budaya yang selama ini ditawar dengan harga tinggi, kini anjlok sampai sekitar 50 persen.

“Kondisi ini sudah dikeluhkan pembudidaya ikan kerapu sejak beberapa bulan terakhir. Harganya anjlok dari sebelumnya Rp150 ribu per kilogram menjadi Rp70 ribu sampai Rp90 ribu per kilonya,” terang Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Situbondo Eko Prayudi kepada wartawan, Selasa (9/5/2017).

Keramba jaring apung memang penuh sesak dengan aneka jenis kerapu, salah satu komoditi perairan Indonesia yang punya nilai ekonomis di dunia internasional.

Namun sejak Januari 2017 atau setelah Menteri Kelautan dan Perikanan meneken aturan yang membatasi arus kapal asing masuk Indonesia, arus penjualan ke pengepul asing pun tersendat.

Terutama kapal-kapal dari Hongkong yang khusus datang ke Indonesia, hanya diperbolehkan berlabuh di Bali saja. “Sejak ada pembatasan itu, kapal dari Hongkong yang selama ini jadi penampung hasil budidaya kerapu Situbondo tidak bisa ke sini lagi. Mereka hanya diizinkan lego jangkar di Bali. Padahal sebelumnya bisa sandar ke Makasar atau daerah lain,” ungkap Eko.

Dengan pembatasan izin bersandar, kapal asal Hongkong enggan membeli ikan kerapu milik pembudidaya. Pasar lokal pun terpaksa jadi pilihan terakhir kendati harga jual lebih murah.

“Contohnya ikan kerapu jenis cantik yakni persilangan antara kerapu macan dan batik. Biasanya kalau dijual ke Hongkong bisa mencapai Rp150 ribu per kilonya. Saat ini, dipasarkan ke kota-kota besar di Jawa, seperti Surabaya, Jakarta atau Denpasar hanya dengan harga antara Rp80 ribu sampai Rp100 ribu per kilo,” tambah Eko.

Sementara salah seorang pembudidaya ikan kerapu di Dusun Gundil, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Situbondo, Yoyok Hermanto mengatakan, para pengusaha ikan kerapu khususnya jenis kerapu cantik merasakan dampak dari pembatasan masuknya kapal Hongkong ke Indonesia. Karena kapal Hongkong tersebut satu-satunya pemasaran ikan kerapu cantik yang berani membeli seharga Rp150 ribu per kilogram,” tuturnya.

Ia mengemukakan, sejak turunnya harga ikan kerapu jenis cantik, banyak pembudidaya yang beralih ke jenis kerapu cantang yang pamasarannya untuk pasar lokal. “Tentunya pembudidaya ikan kerapu sekarang banyak yang rugi, karena ikan kerapu cantik yang biasanya diekspor sekarang dipasarkan atau dijual di pasar lokal saja,” paparnya.

Dampak lain dari pembatasan kapal asing adalah, nilai jual bibit kerapu cantik pun ikut merosot. Padahal komoditas kerapu merupakan salah satu komoditas utama ekspor ikan Indonesia. Baik dalam kondisi ekspor hidup maupun mati (segar dan beku).

Data BPS 2017, komoditas ikan kerapu hidup masuk dalam 20 jenis komoditas utama ekspor ikan Indonesia tahun 2016.

Kontribusi nilai ekspor komoditas ekspor kerapu hidup tahun 2016 mencapai 1,11 persen dari total nilai ekspor komoditas perikanan. Total nilai ekspor komoditas ikan kerapu hidup 2016 mencapai 32,18 juta dolar Amerika.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan 2017, Sumatera menjadi wilayah pembudidaya terbesar di Indonesia yang mencapai 54 persen. Kemudian disusul Maluku dan Jawa Timur. Data Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun ini, mencatat Bali menggeser posisi Jawa Timur dalam ekspor ikan kerapu hidup Indonesia.

Kondisi ini harus jadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Paling tidak Pemerintah Jatim diharapkan terus berkomunikasi dengan Menteri Susi Pudjiastuti untuk mencari solusi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here