Kapal Induk, Gengsi dan Simbol Kekuatan Militer Sebuah Negara

0
405
Kapal induk terbaru buatan dalam negeri Cina, Tipe 001A

Nusantara.news Beberapa minggu ini media internasional dihiasi pemberitaan tentang memanasnya situasi keamanan di Semenanjung Korea. Eskalasi semakin memuncak saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi perintah untuk mengirim satu grup armada kapal induk, USS Carl Vinson, ke kawasan tersebut. Korea Utara, yang merasa diancam dan diprovokasi dengan kedatangan kapal induk AS, balik mengancam negeri Paman Sam itu dengan kekuatan senjata nuklir yang dimiliki.

Kapal induk menjadi simbol kekuatan militer sebuah negara, sehingga kehadirannya dapat diartikan sebagai ancaman bagi negara lain. Oleh karena itu, hanya negara-negara yang kuat secara militer dan ekonomi saja-lah yang memilikinya, seperti AS, Rusia, dan Cina. Meski begitu, kehadiran kapal induk tidak selalu identik dengan peperangan, kapal induk AS yang dikirim ke Aceh tahun 2004 misalnya, untuk mendukung misi kemanusiaan setelah bencana Tsunami Aceh.

AS saat ini mengirim USS Carl Vinson ke Semenanjung Korea, sebuah kapal induk bertenaga nuklir dengan bobot 97 ribu ton yang merupakan satu dari 10 kapal induk AS yang masih aktif hingga saat ini. USS Carl Vinson dapat membawa lebih dari 60 pesawat di atasnya dan sekitar 5.000 tentara. Dalam sebuah misi Vinson tidak pernah sendiri, kapal induk ini selalu didukung oleh kapal-kapal lain. Vinson diiringi oleh dua kapal perusak dengan peluru kendali, USS Wayne E. Meyer dan USS Michael Murphy serta kapal penjelajah dengan peluru kendali, USS Lake Champlain.

Entah disengaja atau tidak, di tengah memanasnya situasi semenanjung Korea, Cina meresmikan  sebuah kapal induk terbaru buatan dalam negeri, meskipun diketahui kapal induk tersebut belum selesai dibuat, dan diperkirakan baru akan selesai dua tahun kemudian.

Apakah Cina ingin menunjukkan, secara simbolik tentang kemajuan militernya di tengah kekhawatiran akan meletusnya perang di semenanjung Korea?

Seperti diketahui, Cina merupakan sekutu utama Korea Utara yang saat ini sedang ditekan AS karena tidak mau menghentikan program pengembangan senjata nuklirnya. Sementara, diketahui AS dan Cina merupakan dua kekuatan ekonomi dunia yang saling bersaing dan “adu kuat” pengaruh di pentas global, apalagi kawasan asia pasifik termasuk basis kekuatan Cina. Tentu saja Cina tidak mau “kalah” di kandang sendiri.

Kapal induk Cina dilepaskan ke perairan terbuka dari sebuah galangan kapal di pelabuhan Dalian, provinsi Liaoning pada Rabu (26/4) pagi, ditandai dengan dipecahkannya sebotol sampanye ke lambung kapal diiringi lagu kebangsaan Cina. Peluncuran dilakukan tiga hari setelah peringatan 68 tahun Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat.

Sebagaimana dilansir South China Morning Post (26/4), peluncuran tersebut memicu komentar-komentar patriotik warga Cina.

“Ini adalah simbol kekuatan teknologi Cina, kemampuan industri dan kekuatan secara keseluruhan,” tulis seorang pengguna internet di Weibo, media sosial negara itu.

Pengguna internet lain mengatakan, “sebuah negara besar seperti Cina akhirnya mendapat senjata besarnya sendiri.”

Peluncuran kapal induk dipimpin oleh Fan Changlong, wakil ketua Komisi Militer Pusat Cina. Presiden Xi Jinping, yang merupakan ketua Komisi sekaligus pemimpin militer utama negara tersebut, tidak hadir dalam acara peluncuran.

Kapal induk yang diberi nama tipe 001A merupakan yang kedua yang dimiliki Cina setelah Liaoning, sebuah kapal induk bekas Uni Soviet yang dimodifikasi kembali dan mulai bertugas di Angkatan Laut Cina pada tahun 2012.

Kapal induk baru ini, memiliki panjang 315 meter dan lebar 75 meter dengan kecepatan jelajah 31 knot dan berat 70.000 ton. Kapal ini lebih besar dari Liaoning. Cina mulai mengembangkan 001A pada bulan November 2013 dan membangunnya di dermaga pada bulan Maret 2015.

Meskipun mirip dengan Liaoning, tapi kapal induk terbaru ini memiliki peralatan yang baru dan konsep operasional yang lebih maju, termasuk hanggar yang lebih besar untuk membawa lebih banyak jet tempur J-15 dan lebih banyak ruang di dek untuk helikopter dan pesawat terbang lainnya.

Namun para ahli militer mengatakan peluncuran kapal induk tersebut hanya merupakan kemajuan yang moderat dari modernisasi militer Cina, mengingat kesenjangan teknologi yang sangat jauh antara AL Cina dengan pesaing lainnya di lautan Pasifik, yakni Angkatan Laut AS.

“Sementara Cina merayakan peluncuran kapal induk pertama buatan dalam negeri, negara tersebut juga harus sadar bahwa AS mungkin mengirimkan supercarrier (kapal induk super) kelas atas yang paling canggih ke Asia Pasifik,” kata seorang pakar angkatan laut Beijing, Li Jie.

“AS sengaja mengingatkan Cina bahwa kesenjangan generasi antara Angkatan Laut Cina dan grup kapal induk AS serta kemampuan tempur mereka akan kelihatan semakin lebar ketika AS mengirim (kapal induk) Gerald R. Ford tahun ini,” kata Jie.

Kapal induk Gerald R. Ford milik AS ini bertenaga nuklir dan berkapasitas 100.000 ton, hampir dua kali ukuran kapal induk Cina terbaru, Tipe 001A. Kapal raksasa ini juga didukung oleh dua reaktor nuklir yang maju dan dilengkapi dengan sistem peluncuran pesawat elektromagnetik.

Namun demikian menurut Juliette Genevaz, seorang peneliti militer Cina di institut Penelitian Strategis yang berbasis di Prancis mengatakan, “Ini adalah lompatan teknologi untuk Cina, karena ini menandakan perkembangan kapal induk buatan dalam negeri Cina di masa depan.”

James Char, seorang analis militer Cina di Singapore S. Rajaratnam School of International Studies juga mengatakan hal senada, bahwa kapal induk baru tersebut lebih merupakan “simbol” kekuatan Cina di kawasan Laut Cina Timur dan Selatan.

“Sangat tidak mungkin untuk menjadi ancaman bagi AS kalau melihat seberapa canggih kapal induk Amerika,” kata Char.

Kapal induk (aircraft carrier) merupakan sebutan untuk kapal perang yang memuat pesawat tempur dalam jumlah besar. Salah satu tugasnya, memindahkan kekuatan angkatan udara ke dalam armada angkatan laut sebagai pendukung bagi operasi-operasi angkatan laut.

Kapal induk juga digunakan sebagai pusat komando operasi, kehadirannya sekaligus memberikan efek psikologis bagi pihak lawan. Selain sebagai fasilitas tempur, kapal induk juga bisa berperan sebagai pengintai, superioritas udara dan untuk misi kemanusiaan.

Jika negara-negara maju sudah saling bersaing dalam membangun kapal induk, bagaimana dengan militer Indonesia?

Total anggaran pertahanan Indonesia tahun 2017 memang meningkat, tertinggi dalam 12 tahun terakhir yaitu senilai Rp108 triliun, tapi apalah artinya jika dibandingkan dengan harga sebuah kapal induk.

Misalnya harga kapal induk kelas Nimitz yang dimiliki oleh militer AS, biaya pembuatan satu kapal induk ini sekitar 4,5 Miliar USD atau sekitar Rp 40 Triliun Rp, belum lagi bila ditotal dengan harga seluruh armada yang mengikuti kapal ini sekitar 45 Miliar USD atau sekitar 400 Rp triliun. Tampaknya, jika melihat ini memiliki kapal induk bagi Indonesia, sementara ini, baru sebatas mimpi.

Perlu atau tidaknya Indonesia memiliki kapal induk memang menjadi perdebatan meski sebenarnya  alasan utama tetap saja soal kemampuan anggaran.

Ada yang berpendapat Indonesia tidak membutuhkan kapal induk karena tidak sesuai dengan doktrin militer di Indonesia (TNI). Doktrin yang dianut TNI AL saat ini adalah Green Water Navy atau tentara yang tidak keluar dari perairan Indonesia sehingga hanya negara penganut Blue Water Navy (negara yang berlayar hingga ke perairan internasional) saja yang membutuhkan kapal induk.

Tapi sebetulnya, jika anggaran cukup memadai (entah kapan), sebagai sebuah negara besar apa salahnya Indonesia memiliki kapal induk. Apalagi jika memang memiliki kapal induk itu merupakan gengsi dan simbol kekuatan militer sebuah negara. Setidaknya bercita-cita boleh saja, toh negara lain seperti Cina masih terus mengembangkan teknologi kapal induknya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here