Kapal Van Der Wijck Diincar Penyelam Cina?

0
580

Nusantara.news, Surabaya – Kisah Kapal Van der Wijck yang tenggelam di perairan Lamongan ternyata belum usai. Pencari harta karun China mengincarnya.

Sejarah mencatat 28 Oktober 1936 di pesisir utara Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal mewah milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam yang memiliki nama lambung Van der Wijck, tenggelam. Kapal mewah ini dibuat di galangan kapal Feijenoord, Rotterdam, Belanda.

Peristiwa itu mengilhami Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan Buya Hamka menulis novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Novel tersebut telah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2013.

Atas jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal dan penumpang dapat diselamatkan. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang peristiwa tersebut dan menghormati jasa para nelayan yang menyelamatkan para awak kapal tersebut. Monumen itu sampai sekarang masih dapat kita lihat, dan kini  menjadi salah satu destinasi pariwisata di Lamongan.

Namun kisah di balik tenggelamnya kapal Van der Wijc belum usai. Adalah Wakil Gubernur Jatim Saifulloh Yusuf yang membuka kembali ceritanya. Memang Gus Ipul, sapaan akrabnya tidak menyebut nama atau sosok tertentu. Namun melihat lokasi yang dia sebut jelas merujuk kepada kapal Van der Wijc

Usai diskusi “Tenaga Kerja Asing Peluang atau Tantangan” yang diadakan Forum Jurnalis Ekonomi Bisnis Surabaya (Forjebs), Hotel Harris Surabaya, Jumat (3/3/2017),  Wagub mengungkapkan, adanya kapal berbendera asing yang membawa 30 orang penyelam. Mereka merupakan tenaga kerja asing (TKA) asal Cina yang ditemukan bekerja di tengah perairan Lamongan (dekat Pelabuhan Brondong-Sedayu Lawas). Mereka berbulan-bulan berada di tengah laut dan tidak mendarat.

“Ada TKA asal Cina kapal di perairan dekat Lamongan. Mereka tugasnya diduga sedang mencari harta karun di bawah laut. Tapi ada juga informasi yang menyebutkan mereka sedang membersihkan bangkai kapal tenggelam di Alur Perairan Barat Surabaya (APBS),” katanya.

Gus Ipul mengaku mendengar informasi tersebut dari Dishub Jatim yang sebelumnya dilapori oleh nelayan sekitar. Nelayan di sana mengaku resah dan merasa terganggu dengan adanya aktifitas kapal pembawa TKA itu.

“Infonya kapal itu tidak boleh merapat ke daratan. Pernah dilakukan sidak oleh aparat setempat pada Desember 2016, ternyata mereka memiliki izin resmi dari Kemenkumham. Tapi nggak tahu kalau malam hari mendarat atau tidak,” tuturnya.

Sejak saat itu tak sekalipun kapal itu pernah berlabuh ke daratan.  “Warga di sana ramai-ramai mau demo. Keberadaannya memang membuat takut warga,” ucap Gus Ipul yang terus memantau pekembangan kapal asing ini.

Pihaknya belum berani bersikap atas keberadaan kapal asing itu. Yang membuat geger adalah nelayan melihat ada penyelam-penyelam asing profesional. Terlebih, kisah tentang tenggelamnya kapal Van Der Wijck 81 tahun yang lalu kembali muncul di kalangan masyarakat pesisir di daerah itu.

“Orang asing itu khusus menyelam untuk mengangkat bangkai kapal,” ucap Wagub Jatim Gus Ipul. Dirinya mengaku curiga dan penasaran dengan keberadaan kapal itu. “Nggak mungkin mereka berbulan-bulan tinggal di atas kapal hidup di tengah laut. Ayo kapan-kapan sidak ke sana. Saya ingin tahu lebih lanjut,” jelasnya.

Memang Kapal Van Der Wijck adalah peninggalan penjajah, namun apakah kita rela simbol bahwa kita pernah dijajah tersebut di curi asing? Jangan sampai ketika anak cucu kita berpendapat bahwa Buya Hamka itu menulis tenggelamnya kapal  Van der Wijck yang ada di china. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here