Kapan AHY Temui Megawati?

0
103

Nusantara.news, Jakarta – Kedatangan Agus Harimurti Yudhoyono menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Kamis pekan lalu, menjadi perbincangan politik yang menarik. Agus meminta doa restu dan wejangan terkait The Yudhoyono Institute yang akan dipimpinnya, sekaligus mengundang Presiden untuk hadir pada peresmian lembaga itu pada malam harinya.

“Saya memohon doa restu dari Pak Presiden sekaligus juga mendapatkan wejangan nasehat dan hal-hal lain yang perlu saya jadikan pedoman dalam rangka kesuksesan institut tersebut,” ucap Agus.

Presiden Jokowi menerima dengan senang hati, meski tak sempat memenuhi undangan mendadak tersebut.

Nyaris tak ada orang yang menyangka pertemuan itu akan terjadi. Sebab, hubungan Jokowi dengan ayah Agus, Susilo Bambang Yudhoyono, agak kurang bagus belakangan ini. SBY mengritik pemerintahan Jokowi melakukan abuse of power, karena menerbitkan Perppu tentang Ormas. “Banyak di negara ini kekuasan melampaui batas, abuse of power,” kata SBY, di rumahnya di Cikeas, Bogor, 27 Juli lalu.

Tak pelak lagi, Jokowi tersinggung. “Sangat berlebihan. Jangan dibesar-besarkan hal yang sebetulnya tidak ada,” jawab Jokowi keesokan harinya, dalam sebuah acara di Cikarang, Bekasi.

(Baca: https://nusantara.news/manuver-cantik-agus-yudhoyono/)

Aksi berbalas kata dua tokoh ini seperti menemui antiklimaks dengan kehadiran Agus dan Gibran Rakabuming, putra Jokowi, di depan Presiden.

“Tadi spontan saja. Dari dulu saya mau ketemu Mas Agus. Izin ke Bapak, boleh gabung enggak? Lalu boleh, saya langsung lari ke Istana,” ujar Gibran. Gibran yang pengusaha katering ini juga meminta izin kepada ayahnya agar bisa memasak untuk Agus. Setelah disetujui, Gibran memasak gudeg dan bubur lemu. “Terima kasih Mas Gibran, enak sekali, luar biasa,” puji Agus.

Aksi dua anak muda ini jelas membantu menurunkan tensi hubungan kedua orang tua mereka. Memang belum bisa dipastikan seberapa besar dampak pertemuan itu terhadap peredaan hubungan Jokowi-SBY yang sedikit menghangat.

Batu penarung hubungan Jokowi-SBY memang tidak besar, yang sebetulnya pasti bisa mencair hanya dengan jabat tangan. Tapi, faktor penghambat terbesarnya adalah Megawati.

Antara Megawati dengan SBY memang sudah belasan tahun tidak akur. Berawal dari keputusan SBY mencalonkan diri sebagai presiden pada 2004. Sebelumnya Megawati sempat bertanya kepada SBY soal pencalonannya itu. Tetapi, SBY menjawab, dia akan belum memikirkan hal tersebut dan masih berkonsentrasi pada tugasnya sebagai Menko Polkam di bawah Presiden Megawati.

Ketika duet Menko Polkam SBY dan Menko Kesra Jusuf Kalla benar maju, Megawati kabarnya marah besar. Apalagi dua bekas menterinya itu pula yang terpilih menjadi presiden dan wakil presiden 2004-2009.

Sejak itu Mega patah arang dengan SBY. Ketika SBY dilantik sebagai presiden, Megawati tak mau hadir. Selama SBY memerintah, PDIP beroposisi. Megawati juga menolak datang dalam upacara peringatan kemerdekaan di Istana. Bahkan, Megawati juga mengabaikan undangan pernikahan anak-anak SBY. Dalam acara peresmian The Yudhoyono Institute di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Kamis malam (10/8/2017), juga tak terlihat Presiden Indonesia kelima itu. “Setahu saya, semua mantan presiden diundang,” ujar Roy Suryo, pengurus Partai Demokrat.

Satu-satunya pertemuan SBY dengan Megawati adalah ketika suami Mega, Taufik Kiemas, meninggal, 9 Juni 2013. SBY, yang waktu itu masih jadi presiden, menyambut jenazah Taufik di Bandara Halim Perdanakusuma. SBY pula yang memimpin upacara pemakaman Ketua MPR itu di TMP Kalibata, Jakarta.

Waktu itu banyak yang berharap, hubungan kedua pemimpin ini akan membaik. Tetapi, yang terjadi sebaliknya.

Hubungan penuh kesumat inilah yang kelihatannya menghambat rukunnya Jokowi dengan SBY. Kendati ganjalan keduanya tak begitu berarti, namun karena menimbang perasaan Megawati, Jokowi jelas tak enak hati. Mungkin itu pula sebabnya dia tak memenuhi undangan Agus untuk hadir dalam peresmian The Yudhoyono Institute, yang dibentuk SBY itu.

Agus sudah melakukan manuver cantik. Kedatangannya menemui Jokowi sudah dipuji banyak orang. Ibarat pertandingan, skor 1-0 untuk Agus. Kini dia berpeluang membuat skor baru: Menemui Megawati.

Jika dia berinisiatif mendatangi Presiden kelima itu, bola sepenuhnya di tangan Agus. Sebab, diterima atau ditolak, dia tetap mencetak skor. Seandainya, Megawati menerima, hubungan dua mantan presiden bisa berubah jadi baik. Megawati juga bisa memetik nilai dari sini. Sebab, itu akan mencerminkannya sebagai ibu yang bisa memisahkan urusan anak dengan urusan orang tua.

Apalagi, jika dilanjutkan dengan pertemuan dengan Puan Maharani, putri mahkota trah politik Sukarno. Pertemuan dua anak muda yang sama-sama putra mahkota di dinasti masing-masing itu, terlepas dari sisi politiknya, jelas dapat makin mempercepat turunnya “darah tinggi” orang tua mereka.

Tapi, apabila Megawati menolak bertemu, Agus mencetak skor telak. Karena kerugian citra berada di pihak Megawati. Agus bisa mengulang sejarah ayahnya dengan “politik simpati” ketika dulu disebut Taufik Kiemas sebagai jenderal yang bertingkah seperti anak kecil. Waktu itu, awal Maret 2004, SBY kepada media mengatakan dia dikucilkan dalam kabinet. Sebagai suami presiden, Taufik bereaksi. “Anak kecil kan begitu, ngomong di luar. Masak jenderal bintang empat takut bilang kepada presiden yang mengangkatnya. Tanya dong sama Ibu Presiden,” katanya waktu itu.

Apa pun pertemuan Agus dengan Jokowi kemarin agak mengubah peta politik. Sejauh apa perubahannya, ini yang ditunggu publik. Yang jelas, permainan masih akan panjang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here