Kapitalisme Vs Komunisme

2
694
ilustrasi: reference.com

Nusantara.news, Jakarta – Pada tahun 1921 berdiri CFR (Council on Foreign Relations), dengan tujuan mendorong pengaruh kapitalisme dalam satu supervisi organisasi. Ditumbuhkan organisasi swasta yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) dalam suatu forum tukar pikiran. Dengan skema utama interdependence, semua negara menyerahkan kedaulatannya kepada supra-pemerintahan dunia, yakni AS. Maka kedaulatan negara-negara dunia di bawah kendali Yahudi. Dibuatlah sistem ekonomi dunia untuk memonopoli kekuasaan kapitalisme, dimulailah rezim mata uang, sistem perbankan, kredit, industri manufaktur dengan bahan baku diatur oleh kapitalisme.

Federal Reserve (the Fed)

Salah satu organisasi swasta yang diciptakan adalah Federal Reserve (the Fed) yang dimiliki 12 pemegang saham, dan berdiri sejak 1913. AS merelakan the Fed mencetak uang dan penerimaan pajak melalui IRS (International Revenue Services), dan disahkan oleh Kongres.

Melalui undang-undang AS dinyatakan bangkrut pada tahun 1929, dan seluruh hak warga negara, serta kepemilikannya menjadi milik the Fed. Setelah itu, the Fed mengontrol tidak saja keuangan AS, juga keuangan dunia. Khusus untuk pembangunan negara berkembang diciptakan IMF dan World Bank, sedangkan untuk Asia dengan ADB (Asian Development Bank), dimana Prof. Iwan Jaya Azis (Guru Besar Cornell University, New York) pernah menjadi salah satu pemimpinnya. Begitu juga dengan Sri Mulyani Indrawati pernah menjadi Managing Director World Bank sebelum direkrut Joko Widodo menjadi Menteri Keuangan RI (2014–saat ini).

The Fed dimiliki oleh 12 pemegang saham, yakni: Sach of New York, Goldman of New York, Lehman Brothers yang pada tahun 2008 bangkrut, dan AS mengalami resesi karena kredit properti. Berikutnya, Chase Manhattan Bank, JP Morgan salah satu perusahaan keuangan Chase yang baru menurunkan peringkat Indonesia 2 tingkat dan seminggu kemudian menaikkan kembali 1 peringkat menjadi netral, setelah Sri Mulyani Indrawati memutuskan JP Morgan sebagai dealer utama SUN Indonesia. Lalu ada Lazard Brothers of Paris–Finance, Rothschild Bank of London–England, Rothschild Bank of Berlin–Germany, yang kita ketahui berseteru dengan grup Bakrie di Bumi Resources. Selanjutnya adalah Warburg Bank of Hamburg and Amsterdam. Itulah yang menguasai the Fed yang kita tahu sangat menentukan ekonomi dunia termasuk Indonesia. Jadi jelas AS sebagai soko guru kapitalisme korporatif yang bank sentralnya dimiliki swasta.

Komunisme Engels dan Marx

Engels adalah filosof dan tokoh kapitalis yang sangat kaya, membantu sahabatnya, Karl Marx menulis “The Communist Manifesto 1848”. Tahun 1859, Illuminati, Nihilist, Atheist bertemu di New York membentuk International Communism. Komunis hadir sebagai keseimbangan didikotomikan dengan kapitalisme agar keduanya mempunyai pengikut besar dan mendorong revolusi di Rusia untuk menghancurkan aristokrasi dengan pertentangan kelas (1917). Pada perjalanannya seperti kita ketahui, jadilah Uni Sovyet di Eropa Timur. Cina sebagai negara komunis di Asia, selain Vietkong dan Korea Utara. Di Amerika Latin ada Kuba dengan Presiden Fidel Castro, dan hadirnya tokoh revolusioner sekelas Che Guevara, paham sosialisme hidup di Amerika Latin. Namun pada era Gorbachev (Uni Sovyet), bubar pada tahun 1989, dan menjadi Rusia di tahun 1991. Kemenangan kapitalisme menghancurkan negara-negara yang bernaung di bawah Uni Sovyet dan kapitalisme berjalan sendiri 1991–2008. Cina sebagai negara komunis “cerdas” beradaptasi dengan kapitalisme, dengan motor Deng Xiaoping menjadi negara State Capitalism. Skema One State Two System memperlihatkan bahwa Cina berhasil sebagai negara No.1 dalam WTO dan pemilik GDP terbesar. Hal ini menjadi salah satu isu sentral kemenangan Trump pada Pilpres AS tahun 2016 dan dilantik pada 20 Januari 2017 lalu. Sebuah pertanyaan menohok, “AS dapat apa selama 20 tahun ini?”

Cina berjaya di perdagangan, karena AS terjadi krisis ekonomi (tahun 2008) dengan masalah kredit properti, sehingga Lehman Brothers bangkrut, dan Goldman Sachs nyaris bangkrut, padahal keduanya adalah soko guru perusahaan Yahudi dunia. Ketika Trump memasukkan nama salah satu keluarga Sachs dalam kabinetnya, ia mendapat protes keras dari rakyat AS, karena dianggap menjadi penyebab krisis di tahun 2008. Kritikan tajam ini dari kelompok populis yang memilih Trump pada Pilpres 2016.

Trump mengecam Cina habis-habisan karena menguasai dunia, sementara AS mendapat apa? Posisi sebagai polisi dunia, stabilisator moneter dunia dan penjaga demokrasi, serta membutuhkan biaya triliunan USD setiap tahunnya, tapi Cina yang menikmati, dan AS dapat apa? Trump, lebih jauh ingin memenangkan perang dingin dengan Cina.

Pertanyaannya, apakah AS sebagai negara kapitalis atau lebih jauh perseteruan antara ‘kapitalisme vs komunisme’ atau tetap dalam kerangka keseimbangan dunia, karena kapitalisme jalan sendiri, dan menjadi tidak stabil.

Cina sudah berubah wujud menjadi ‘Yahudi Kuning’ (kapitalisme global). Apapun, kedua negara besar ini adalah ancaman kedaulatan dan mengancam aset-aset strategis negara kaya sumber daya alam (SDA) seperti Indonesia. Saat ini pasca-reformasi tahun 1998, kapitalisme global melalui multinational corporations telah menguasai SDA Indonesia sebanyak 85%.

Pertanyaannya, SDA Indonesia yang masih kaya saat ini, apakah juga menjadi incaran Cina sebagai State Capitalism atau China Overseas? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh pemerintahan Joko Widodo yang terkesan “mesra” dengan pemerintah Cina, dan sangat akomodatif terhadap taipan, khususnya mengizinkan proyek reklamasi, dan membuat Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2015 tentang pemilikan rumah tempat tinggal oleh orang asing yang tinggal di Indonesia, dan terkahir Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2016 tentang BUMN agar mudah untuk pinjam uang dan melakukan privatisasi tanpa melalui DPR. Bagaimana masa depan Indonesia? Tanya saja jawabannya pada rumput yang bergoyang! [ ]

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here