Kapolda Jatim: Tidak Ada Kaitan Dengan Operasi Ninja di Banyuwangi 1998

0
254
Pertemuan Kapolda Jatim dan Ulama Madura

Nusantara.news, Surabaya – Heboh soal pendataan kiai dan pengasuh pondok pesantren oleh Kepolisian Resor di lingkungan Kepolisian Daerah Jawa Timur, sejak kemarin, terus mendapat perhatian publik dan netizen, di Jawa Timur.

Pendataan para kiai oleh Polres itu jadi ramai di media sosial dan bahkan dikait-kaitkan dengan peristiwa kelam ‘operasi ninja’ di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 1998 silam yang menelan banyak korban jiwa. Korban ketika itu pada umumnya adalah nama yang masuk dalam pendataan.

Kapolda Jawa Timur, Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Machfud Arifin, langsung merespons dan meredam isu sensitif tersebut. Dikatakan, pendataan dilakukan untuk kepentingan silaturrahim.

“Saya bukan mendata ulama (seperti peristiwa kelam dulu). Saya hanya ingin tahu mana-mana ulama yang perlu disilaturrahimi,” ujarnya usai bertemu ulama se Madura dan Tapal Kuda di Markas Polda Jatim, Surabaya, Jumat (3/2/2017).

Selain ulama dan pesantren, dia juga meminta Polres jajaran mendata hal lain berkaitan dengan keunggulan wilayah di Jawa Timur, termasuk tempat wisata. “Cuma isunya kebablasan. Jadi, masyarakat jangan berpikir negatif,” tegasnya.

Silaturrahim dengan ulama, lanjutnya diperlukan untuk keperluan bekerjasama guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di tengah masyarakat, termasuk intoleransi.

“Bahasanya, sowan, kulonuwun, ketok pintu, saya jadi Kapolda Jatim,” tandas Machfud.

Terkait silaturrahim dengan ulama se Madura di Gedung Rupatama, Kapolda mengatakan, dalam silaturahim itu,  pihaknya menyampaikan kepala para ulama berbagai hal tentang kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat. Dia juga mengingatkan peran serta ulama ikut mencegah dan memberangus peredaran narkotika.

Secara terpisah, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi Frans Barung Mangera, mengatakan, secara bergiliran Polda Jatim akan mengundang semua ulama dan kiai di Jatim. Ulama Madura dan Tapal Kuda mendapat giliran pertama.

“Kapolda mengundang ulama se-Madura tidak ada hubungannya dengan situasi macam-macam. Kami, Polri, tidak bisa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat sendirian. Polri butuh ulama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk kepentingan itu,” pungkas Frans Barung Mangera.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here