Indonesia Poros Maritim Dunia (3)

Karakter Bangsa Kita Saat Ini Lebih Kontinental

0
330

Nusantara.news – Indonesia sebagai poros maritim dunia merupakan negara maritim yang makmur, kuat dan berdaulat. Basis kelautan, pertahanan dan keamanan serta budaya maritim menjadi panutan secara geo-politik. Itulah cita-cita Bung Karno sewaktu mendeklarasikan hal tersebut ke penjuru dunia.

Jika ingin melakukan rekonstruksi sebagai negara maritim, Indonesia tentu harus melakukan revitalisasi peningkatan produktivitas, efisiensi dan pengembangan sektor-sektor ekonomi kelautan yang berkelanjutan. Pengembangan sektor-sektor kelautan baru seperti industri bioteknologi kelautan, Shale dan Hidro gas, fibre optics, dan deep sea water industry (industri air laut dalam) harus dilakukan. Selain itu, pusat-pusat pertumbuhan sepanjang ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), pulau-pulau kecil dan terluar harus dikembangkan.

Selanjutnya, Indonesia harus melakukan penguatan dan pengembangan konektivitas maritim (Tol Laut) dengan armada kapal dan pelabuhan labuh, basis logistik serta kawasan industri terpadu. Tentunya, juga harus dibangun galangan kapal agar terjadinya kesinambungan operasional, selayaknya sebuah negara maritim.

Usaha kelautan yang berkelanjutan

Usaha-usaha kelautan yang menerapkan: (1) Skala ekonomi; (2) Integrated Supply Chain Management System (Sistem Manajemen Rantai Pasokan Terpadu); (3) Inovasi teknologi pada setiap mata rantai pasokan; dan (4) Sustainable Development Principle (Prinsip Pembangunan Berkelanjutan), harus menjadi orientasi pengembangan di bidang maritim.

Sektor utama ekonomi kelautan terdiri dari perikanan tangkap, perikanan budaya, industri pengolahan hasil ikan, industri bioteknologi, ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), pariwisata, coastal industry (industri pesisir), transportasi laut, pulau-pulau kecil, industri jasa maritim, dan sumber daya alam non-konvensional. Jadi, cukup banyak industri dan jasa berbasis kelautan yang bisa dikembangkan Indonesia sebagai negara maritim menuju negara poros maritim dunia.

Harus diakui bahwa saat ini kita sangat lemah dalam bidang-bidang usaha tersebut di atas, jadi perlu dilakukan rekonstruksi dan road map jangka menengah serta jangka panjang. Dipastikan tidak bisa dilakukan dalam satu periode pemerintahan, tapi minimal 25 tahun atau 5 periode.

Oleh karena itu, perlu ditata kembali ruang wilayah laut dari pesisir dan darat secara terpadu. Ini menjadi dasar usaha-usaha kelautan semacam RT/RW Land. Negara maritim harus mau merehabilitasi lingkungan dan konservasi bio-diversify, sebagai misal merehabilitasi hutan bakau (mangrove) bukan justru merusaknya, seperti halnya dilakukan dalam proyek reklamasi.

Negara maritim juga harus mau melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap climate change (perubahan iklim), tsunami dan bencana alam laut lainnya. Selanjutnya, meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) di bidang maritim, agar semua potensi kelautan Indonesia bisa dioptimalkan sebagai usaha-usaha di bidang kelautan. Penguatan SDM yang handal dan pengembangan R&D bertujuan guna menguasai, menghasilkan dan menerapkan IPTEK di bidang kelautan.

Sebagai contoh, melalui rumput laut saja bisa dikembangkan sekitar 40 produk turunannya, baik untuk farmasi, kosmetik, makanan, dan berbagai produk lainnya yang berpotensi sebagai produk ekspor. Selain berbiaya murah dan bersifat alami, juga sangat potensial dikembangkan di Indonesia.

Pemerintah harus mendorong usaha kelautan dengan penciptaan iklim investasi yang kondusif  dan menjadi fasilitator untuk akses modal, membangun infrastruktur kelautan dan membuat kebijakan perbankan untuk sektor-sektor kelautan. Kebijakan-kebijakan fiskal, moneter, otonomi daerah dan penegakan hukum, didorong untuk mendukung kelancaran usaha-usaha kelautan.

Lebih strategis lagi, tentu saja mengubah pola pikir orientasi pembangunan nasional dari land based (berbasis tanah) menjadi ocean based development (pengembangan berbasis laut). Namun demikian, disadari bahwa hal ini tidak cukup hanya dengan political will, apalagi sekadar bersifat sloganistik dan pencitraan.

Usaha di sektor kelautan mengandung local content yang tinggi dan banyak item produknya yang dibutuhkan oleh pasar ekspor sehingga menghemat devisa dan mengurangi inflasi, serta menyediakan lapangan pekerjaan. Tanpa konektivitas dan logistik maritim yang mumpuni daya saing ekonomi Indonesia menjadi rendah.

Budaya bahari (maritim)

Keyakinan masyarakat bahari adalah terhadap horizon dan cakrawala. Tepi laut yang dianggap sebagai batas pandang bagi masyarakat kontinental, bagi masyarakat bahari justru sebagai titik awal untuk menjangkau dunia, atau sebagai awal bagi kehidupan.

Garis horizon merupakan simbol cara pandang manusia di masyarakat bahari. Garis horizon yang datar memperlihatkan bahwa masyarakat bahari lebih open minded (berpikiran terbuka) dan egaliter. Mereka lebih tolerans sebagai penduduk pesisir terhadap pendatang dari berbagai berbagai suku bangsa, agama, ras yang berbeda, karena justru perbedaan merupakan dinamika masyarakat bahari untuk membangun jati dirinya.

Budaya masyarakat bahari lebih progresif dan dinamis ketimbang masyarakat darat, karena bersifat lebih cair dan sangat rasional, sementara masyarakat darat lebih spiritual dan mistis. Budaya yang mengalir sesuai dengan karakter alamnya, masyarakat bahari lebih kolegial serta lebih berani dalam mengambil risiko, karena laut senantiasa bergerak dan berubah. Oleh karena itu, pembangunan di masyarakat Papua misalnya, kawasan yang cepat beradaptasi dengan pembangunan dan perubahan adalah masyarakat di pesisir.

Alam bagi masyarakat bahari adalah subjek, bersama alam mereka lebih simbiosis mutualistis, berbagi dan sangat dinamis. Jujur, terbuka, tekun dan rileks, serta sukses secara kolektif karena hidup sebagai nelayan di laut. Oleh karena itu, masyarakat bahari lebih bisa berbagi (sharing) atau satu hasil dibagi semua dan bersifat pluralistik dan sangat toleran.

Penguatan budaya bahari sepertinya sudah nyaris tidak dimiliki lagi oleh bangsa Indonesia, karena masyarakat pesisir juga sudah terpolusi oleh kultur masyarakat darat. Orientasi pada masyarakat bahari seperti mengalami loncatan budaya sehingga Indonesia sebagai poros maritim dunia hanya bersifat sloganistik. Jika diartikan dalam konteks, hanya untuk eksistensi pada perdagangan dunia, masih masuk akal, hanya saja nilai tambah harus diperoleh, jika tidak, kita hanya akan menjadi jalur perdagangan saja bagi negara-negara lain.

Siklus dari negara maritim era Sriwijaya (abad ke-7) dan Majapahit (abad ke-12) adalah masa lalu, karena setelah Islam berkuasa kita berorientasi ke darat, tak lagi ke laut. Belanda juga meneruskannya selama 350 tahun.

Soeharto dengan Orde Baru kemudian melegitimasi kekuatan tersebut di darat, penguatan sistem pertahanan kita berada di darat (Angkatan Darat/AD). Fokus mata pencaharian juga agraris, sehingga pertanian di era Soeharto sempat menjadi fokus pembangunan, bahkan pernah mendapat penghargaan FAO (Food and Agriculture Organization) ketika terjadi swasembada pangan pada awal tahun 1990-an.

Hal ini sesuai dengan kultur masyarakat Jawa (Mataram) yang berorientasi pada daratan dan gunung, sehingga terkesan mistis dan sakral. Artinya, poros maritim harus dimulai dengan perubahan budaya dari SDM-nya, bukan dari materi infrastruktur dan suprastrukturnya belaka.

Kita sempat mendengar isu bahwa KASAL (Laksamana TNI Ade Supandi) akan menggantikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, terkesan rencana pergantian tersebut berbasis bandulan kemaritiman Joko Widodo, namun ternyata hal tersebut hanya isu belaka.

Jadi, terlalu luas konteks maritim sehingga Indonesia sebagai poros maritim dunia adalah sebagaimana visi Bung Karno tentang Indonesia. Sementara, Presiden Joko Widodo rupanya hanya tergoda paparan R.J. Lino mengenai Tol Laut untuk mengurangi dwelling time (waktu tunggu) dan efisiensi biaya logistik, karena Presiden Joko Widodo sangat terganggu dengan disparitas harga di Indonesia Barat dibanding Indonesia Timur, khususnya di Papua. Tentu terlalu jauh jika berpikir poros maritim seperti visi Bung Karno, dengan “jales veva jaya mahe (di laut kita jaya).

Namun, seorang selalu pelaut memahami arah agar sampai pada tujuan, kapan harus mendukung, berbelok dan bagaimana menghadapi tantangan ombak dan badai, dilakukan secara kolegial, serta semangat kebersamaan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here