Karir Gemilang Pesilat Miskin yang Didemo Warga Rembang

0
3872
Foto : Eksplorasi.id

Nusantara.news, Jakarta – Jika anda anak orang kaya dan sukses itu hal biasa. Tapi kalau anda anak orang pas-pasan dan sukses menjadi Dirut PT Semen Padang,  PT Semen Gresik, PT Semen Indonesia dan terakhir kali PT Pertamina itu hanya Dwi Soetjipto lah orangnya.

Sayang sekali, karir gemilang lelaki kelahiran Surabaya, 10 November 1955 itu terganjal pada Jumat pekan lalu. Aura intrik membuat Dwi terlempar dari jabatan Dirut Pertamina. Padahal, meskipun sebelumnya Dwi tidak pernah berkarir di perminyakan, namun kemampuan manajerial lulusan tekhnik kimia ITS ini mampu mendongkrak performa Pertamina menjadi perusahaan migas yang disegani di level Asia.

Suami dari Handini yang memiliki putra tunggal Adityo Hadi Wicaksono ini diangkat menjadi Dirut Pertamina oleh Presiden Joko Widodo pada 28 November 2014. Dwi adalah direktur utama BUMN pertama yang diangkat dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, berdasarkan prinsip meritokrasi. Dwi Soetjipto dipilih berdasarkan hasil tes tertinggi di antara kandidat lain, dan dibebani tugas khusus memberantas mafia migas dalam tubuh Pertamina.

Kurang dari setengah tahun menjabat, mantan peraih juara nasional pencak silat itu mengumumkan pembubaran Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), anak perusahaan Pertamina yang berbasis di Singapura pada 13 Mei 2015. Petral yang dikendalikan RezaChalid selama ini dijadikan sarang mafia minyak yang menjadi bancakan sejumlah elite politik. Gebrakan lain adalah dikenalkannya produk Pertalite untuk mendongkrak daya saing Pertamina di industri hilir. Selama kepemimpinannya, Pertamina mampu meningkatkan laba hingga Rp 40 triliun dan meninggalkan Petronas yang selama ini menjadi pesaing Pertamina.

Tidak mengherankan bila Dwi Soetjipto meraih penghargaan Asia Best CEO dalam Oil and Gas Awards 2015 oleh majalah internasional World Finance. Karena Dwi Soetjipto yang selalu gemilang paling tidak sejak dipercaya menjadi Dirut PT Semen Padang, Dirut PT Semen Gresik dan Dirut PT Semen Indonesia, selalu mengutamakan profesionalisme yang acap kali bertentangan dengan kepentingan pemain-pemain migas yang berlindung di belakang nama orang-orang penting di kekuasaan.

Hal utama yang sering dijadikan dalih oleh para pemain migas adalah dia bukan orang perminyakan. Maka lewat skenario rapat umum pemegang saham (RUPS) dimunculkan struktur baru yang bernama Wakil Direktur Utama. Kebetulan, Ahmad Bambang yang ketika itu menjabat Direktur Operasional adalah direksi yang paling mengerti bisnis perminyakan diangkat menjadi Wakil Direktur Utama. Mangkraknya pembangunan sejumlah kilang dijadikan dalih restrukturisasi sebagai suatu kebutuhan.

Sejak itu terjadi bagi-bagi tugas. Dirut hanya mengurusi persoalan hulu sedangkan wakilnya diberikan keleluasaan di hilir, termasuk impor minyak dan pembangunan serta revitalisasi sejumlah kilang Cilacap, Tuban dan Balikpapan. Terakhir kali terjadi ketidak-harmonisan diantara keduanya sehingga pada Jumat pekan lalu, baik Dwi Soetjipto maupun Ahmad Bambang terusir dari Pertamina. Maka Guru Besar ITS Surabaya menyebut restruktusirasi hanya instrument (untuk menciptakan ketidak-harmonisan sehingga ada alasan) mencopot Dwi Soetjipto.

Sebelum di Pertamina, rekam jejak Dwi Soetjipto terbilang gemilang. Sebelum berkiprah di PT Semen Indonesia dengan prestasi sangat membanggakan itu, Dwi Soetjipto pernah menangani PT Semen Padang yang nyaris bangkrut. Sukses di Padang yang juga tempat Dwi meraih ijazah Magister Manajemen di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, membawanya pulang kampung dengan jabatan Direktur Utama PT Semen Gresik.

Selama menjabat Dirut PT Semen Gresik (Tbk) yang dijalaninya sejak 2006 muncul gagasan holding company yang menyatukan 3 BUMN pabrik semen, masing-masing PT. Semen Padang, PT Semen Gresik dan PT Semen Tonasa. Penyatuan ketiga pabrik semen yang bertransformasi menjadi PT Semen Indonesia terlaksana pada 2013. Dwi Soetjipto adalah eksekutif pertama sepanjang sejarah yang membawa BUMN Indonesia menjadi perusahaan multinasional, terutama setelah sukses mengakuisi pabrik semen Thang Long di Hanoi Vietnam. Pers di negeri Paman Ho itu memanggil Dwi dengan sebutan Vu Van Qui atau Vu Vi Tho.

Maklum saja. Selama PT Semen Gresik di bawah kendalinya, peraih gelar Doktor Ilmu Manajemen Kekhususan Manajemen Stratejik dari Universitas Indonesia ini mampu mensejajarkan Semen Gresik dengan BUMN besar sekelas Pertamina dan PLN. Kala itu Dwi mampu mendongkrak kapasitas produksi Semen Gresik 26 juta ton per tahun dan mampu melibas Siam Cement yang hanya mampu memproduksi 23 juta ton per tahun. Padahal, sebelumnya Siam Cement disebut-sebut sebagai rajanya Semen Asia Tenggara.

Selain sukses menangani BUMN, diam-diam Ketua Ikatan Keluarga Alumni Institut Teknologi 10 November (IKA-ITS) Surabaya itu juga penggerak koperasi yang andal. Terbukti, berkat tangan dinginnya, Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG) mampu menghimpun anggota 6000 orang dan mencatat total penjualan Rp1,4 triliun, alias terbesar kedua di Indonesia. Lumrah kiranya bila pemerintah menyematkan penghargaan Satya Lencana Pembangunan di bidang pembinaan koperasi usaha kecil dan menengah (UKM) untuk Dwi yang besar dari keluarga miskin.

Dwi Soetjipto tidak pernah menyembunyikan latar belakangnya yang berangkat dari keluarga miskin. Ayahnya hanya tamatan kelas 3 SD. Sejak sekolah dasar dia sudah terbiasa mondar-mandir ke rumah kepala desa untk mengurus surat keterangan keluarga miskin supaya dapat potongan 50 persen biaya pendidikan. Dia bias kuliah juga karena ketekunannya belajar sehingga mendapat bea-siswa yang mengantarnya ke Institut Tekhnologi10 November (ITS) Surabaya.

Di sela-sela kehidupannya yang keras sejak di bangku kuliah, Dwi Soetjipto berlatih pencak silat. Keseriusannya dalam melakukan sesuatu membawanya sukses menjuarai Kejuaraan Nasional Pencak Silat. Sukses ini yang membawanya sukses meniti karir, dari staff biasa di pabrik semen dan di usianya yang ke-50 tahun menjadi Dirut PT Semen Gresik yang kini di bawah satu atap PT Semen Indonesia.

Namun bukan berarti hidupnya mulus tanpa rintangan. Sebelum karirnya diganjal dengan diberhentikan sebagai Dirut Pertamina pekan lalu, selama empat bulan berturut-turut menjalang purna tugasnya sebagai Dirut PT Semen Indonesia, Dwi Soetjipto didemo warga yang tidak setuju dengan rencana berdirinya pabrik semen di desa Timbrangan, Kecamatan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Dalam pandangan masyarakat lereng pegunungan Kendeng yang diwakili oleh Sedulur Sikep dan Jaringan Masyarakat Penyelamat Pegunungan Kendeng (JMPPK), pembangunan pabrik semen yang menambang batuan karst akan mematikan mata air yang saat ini digunakan oleh ribuan masyarakat di lembahnya. Demo warga Kendeng ini bahkan memunculkan petisi melalui situs www.change.org yang mendesak Presiden Joko Widodo agar memecat Dwi Soejtipto yang ketika itu baru menjabat Dirut Pertamina.

Toh demikian, di lingkungan alumni ITS, Dwi Soetjipto tetap dipandang sebagai alumnus yang sangat dibanggakan dan diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi “ädik-adiknya””.yang sekarang masih kuliah. Bahkan di lingkungan grup face-book “Palanta Urang Awak”Dwi Soetjipto yang lama berkiprah di Padang sebagai kebanggaan orang Minang.

“”Melihat suksesnya selama memimpin Pertamina mudah-mudahan saja Pak Dwi tidak direkrut Petronas. Kalau itu yang terjadi, rugi kita,” ucap seorang netizen asal Surabaya yang mengunggah statusnya di facebook. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here