Kartini, Paradoks ‘Si Jaran Kore’

0
105

Nusantara.news, Jakarta – “Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh ini sukar. Banyak duri dan onaknya. Begitu juga banyak lobang dan berliku … Biarpun aku tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan perasaan bahagia. Sebab, jalannya telah dirintis. Aku telah ikut membantu membuka jalan menuju ke arah perempuan bumiputra yang merdeka dan berdiri sendiri…..”

Itulah sepenggal surat Kartini kepada sahabatnya yang berkebangsaan Belanda, Estella Helena Zeehandelaar (Stella), tahun 1900.

Surat itu, menggambarkan suasana batin Kartini yang bergejolak. Betapa tidak, di tengah keinginannya yang kuat mengangkat emansipasi dan kebebasan perempuan, ia dihadapkan pada kungkungan kekuasaan feodal serta budaya patriarki yang membelenggu. Titik terang hanyalah saat dia bisa melahap bacaan dan menuliskan surat pada teman-temannya. Dari situlah, Kartini merumuskan semua gagasannya.

Ia tidak menulis sebuah karya akademik yang ketat dan teoretik. Ia melontarkan apa yang dipikirkan, termasuk kegalauan, kegundahan, kecemasan, kegelisahan, keinginan, dan hasrat, dengan bersandar pada apa yang sudah ia baca dan perbincangkan lewat surat-menyurat. Di sana terlihat campur-baur yang luar biasa, namun sebentuk garis pemikiran bisa kita peras dari seluruh artikulasinya: Ia mengoyak selubung kelam ketertindasan perempuan dalam adat, patriarkis, dan kolonialisme.

Lewat tulisannya itu, ia bisa menumpahkan segala pikirannya, menembus dinding rumah yang selama ini mengurungnya. Bahkan gagasan-gagasan yang dituliskannya mampu melampaui zamannya dan jauh melintasi kisah hidupnya sendiri, menabrak apa yang disebut “kelaziman” pada masa itu.

Kartini muncul dengan semangat baru: semangat kebebasan, kesetaraan, anti-feodalisme, kemajuan, dan keadilan. Ia berupaya menanggalkan semua tabiat lama yang bertentangan dengan apa yang diyakininya sebagai modernitas. Teks Kartini penuh dengan gugatan dan rasa marah. Namun, amarah Kartini bukanlah amarah yang berujung pada caci-maki dan umpatan. Ia menulisnya dengan langgam dan tutur bahasa yang halus, meski terkadang ungkapan marah terselip jelas dalam tata kalimatnya. Ia menemukan dirinya sebagai bagian dari zaman baru yang sedang merekah: zaman modernitas.

Ya, Kartini. Cukup dengan nama itu ia mau dipanggil. Tampaknya dia merasa risih dengan sebutan kebangsawanan yang menempel di depan namanya. Ia tidak peduli dengan gelar apa pun yang dimiliki moyangnya terdahulu. Menurutnya, hanya ada dua macam bangsawan, yakni bangsawan jiwa dan bangsawan budi.

“Apakah saya seorang anak raja? Bukan. Seperti kamu juga bukan? … Harapan saya selalu, agar kamu senantiasa memanggil nama saya dan tetap berengkau-kamu kepada saya,” tulis Kartini dalam suratnya kepada Stella, sahabat penanya itu, mengungkapkan kekesalannya karena banyak orang yang memanggilnya tuan puteri.

Namun, Kartini juga paradoks. Ia mencemooh status kebangsawanan dan menertawai unggah-ungguh serta sembah-sumpah, namun mengamini status kebangsawanan sebagai panutan rakyat kebanyakan. Memaki-maki kolonialisme, namun menerima kenyataan jasa besar kolonialisme bagi kaum Bumiputra dan bersahabat dengan para menak Belanda. Ia mengagumi Belanda dan Eropa lainnya sebagai ruang mental di mana akal-budi dan kemanusiaan mendapat tempat tinggi, namun membenci Belanda dalam ruang tindakannnya yang congkak di tanah Hindia (Indonesia).

Dia dipuja sekaligus dicerca. Dipuja karena pikirannya yang meneropong jauh melampaui zamannya. Dicerca akibat pilihan hidup yang bersebarangan dengan prinsip-prinsipnya, terutama pernikahannya dengan Bupati Rembang, K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki sejumlah istri. Prinsip menjadi perempuan bebas yang tidak ingin hidup dalam penindasan permaduan, ia justru masuk ke dalam penjara yang selalu ingin ia hindari. Kecintaan pada ayahnya, juga pribadi calon suaminya yang luhur dan keinginannya membantu Kartini mewujudkan impian mendirikan sekolah bagi perempuan, menjadi dasar pembenar atas pilihan yang ia ambil.

Meski demikian, di luar segala paradoks yang menyelubunginya, Kartini, dalam hidupnya yang teramat singkat, 25 tahun, mampu meretas jalan baru bagi apa yang selalu ia impikan sepanjang hayat, menjadi bagian dari sebuah bangsa yang merdeka. Dan di balik semua itu, Kartini berhasil menciptakan sebuah panggung. Panggung yang di kemudian hari menjadi arena yang kita kenal sebagai pergerakan nasional.

Tanpa tulisan-tulisan dan surat asli dari Kartini, Kata Pramoedya Ananta Toer, barangkali penyusunan sejarah modern Indonesia akan sangat sulit dilakukan. Tidak bisa dipungkiri pula, Kartini adalah penggerak gigi roda pertama yang mendobrak kemakluman atas represi gender. Dialah inspirasi pertama dari perjuangan rakyat (terutama wanita) untuk memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan atas status sosial dan hukum.

Sayangnya, selama ini, pemaknaan terhadap Kartini masih sebatas seremonial: membosankan, dan dibentuk sebagai mitos pahlawan yang pasif. Tanpa gagasan. Perayaan Hari Kartini pun selalu dirayakan dengan mengadakan lomba memakai konde dan kebaya saja. Mereka masih membatasi Kartini sebagai simbol perempuan berkebaya, bersanggul, yang — hanya menunjukkan simbol keibuan, keperempuanan, kelembutan, yang kemudian diklaim sebagi “perempuan Indonesia”. Hal ini berlawanan dengan ide yang ditulis Kartini.

Kartini bukanlah kebaya, konde, atau sekadar sosok ibu. Lebih dari itu, ia adalah penanda lahirnya zaman baru. Pencetus cara berpikir baru. Simbol kebangkitan harkat perempuan.

“Jaran Kore’’ yang Mendobrak Tradisi

Kartini dilahirkan di Jepara pada 21 April 1879 dalam sebuah keluarga bangsawan. Ayahnya, adalah Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sedangkan ibunya, M.A. Ngasirah, adalah istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Semua kakak lelakinya mencapai jenjang sekolah HBS (Hollandsche Burgerscholen), jenjang pendidikan tertinggi di Hindia. Kakak tertuanya, R.M. Sosrokartono, bahkan melanjutkan studi hingga ke Belanda. Kartini sendiri, bersama dua adik perempuannya, Roekmini dan Kardinah, hanya disekolahkan sampai jenjang Sekolah Rendah (ELS, Europeesche Lagereschoolen).

RA Kartini dan adik-adiknya (Kardinah dan Rukmini)

Sebagai anak perempuan, Kartini tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagaimana semua saudara laki-lakinya. Tawaran beasiswa dari pemerintah Belanda untuk bersekolah ke Eropa pun terpaksa ditolak lantaran ia harus menjalani masa pingit menjelang pernikahannya. Beasiswa itu kemudian dimintanya untuk diberikan kepada Agus Salim, satu di antara pemuda cerdas bumiputera yang ia kagumi.

Meski demikian, sang ayah kerap menyediakan bacaan dan membolehkan Kartini berhubungan lewat surat-menyurat, dengan para sahabat pena, yang semuanya orang Belanda. Diantara sahabat-sahabatnya itu tercatat nama Ny. Ovink Soer, Ny. Estella H Zeehandelaar, Ny. Van Kol, Hilda G de Booij, Annie Glaser, Mr. J.H. Abendanon dan nyonya, Mr van Kol dan nyonya, Prof Dr GK Anton dan Nyonya.

Dari buku-buku dan koran-koran yang ia baca, serta surat-menyurat dengan para sahabatnya itu, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir orang Eropa. Kartini bertamasya ke alam pikiran Eropa yang ketika itu sedang memasuki ‘masa perncerahan’ Barat. Dia pun mulai mengenal banyak pemikir tentang perempuan.

Ia membaca karya-karya Cécile de Jong van Beek en Donk (novelis Belanda); Augusta de Wit (novelis Belanda yang banyak menulis soal Jawa);  Henryk Sienkiewicz (penulis dan jurnalis Polandia yang kemudian memenangkan hadiah nobel, karyanya Quo Vadis sangat disukai Kartini); Petrus Augusta de Genenstet (novelis dan teolog Belanda yang bukunya sering dikutip Kartini); serta buku Moderne Maagden (Gadis-gadis Modern) karya Eugene Marcel Péevost, yang membuka matanya mengenai gerakan perempuan. Ia juga membaca Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli.

Pengembaraan wawasannya bersama modernitas Eropa, yang di saat bersamaan fisik dan jiwanya terkurung dalam adat feodalistik, ditambah penjajahanan Belanda yang disebutnya menjijikan, akhirnya memunculkan hasrat kuat Kartini untuk memberontak. Ujung pena Kartini, menjadi titik mula pengoyak keadaan dan “rezim” status quo yang selama ini telah lebih dulu mengoyak mimpi-mimpinya.

Ia menggugat feodalisme karena dianggapnya menghilangkan kemartabatan orang. Ia juga melawan kedudukannya sebagai perempuan keturunan terhormat yang selama ini tidak boleh bebas berekspresi, tidak boleh berbicara jika benar-benar perlu. Dan apabila bersuara, harus dengan suara pelan dan selembut mungkin. Berjalan setindak demi setindak seperti siput, tertawa halus tanpa suara, dan tak boleh terlihat gigi.

“Adikku harus merangkak bila hendak lewat di depanku. Kalau ada adikku duduk di kursi, apabila aku lewat, haruslah dengan segera ia turun dan duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tiada kelihatan lagi.” ucap Kartini dalam suratnya pada 18 Agustus 1899.

Kenekatan Kartini mendobrak segala feodalisme dengan prinsip egaliternya (kesetaraan), menjadikan dirinya dijuluki jaran kore atau kuda liar (sebagian orang mengartikan kuda gila) oleh lingkungannya.

“Jika seorang gadis berjalan, dia harus berjalan dengan tenang, langkahnya harus lamban dan sepelan bekicot; jika kamu berjalan lebih cepat sedikit saja orang akan mencacimu. Aku bahkan dijuluki ‘jaran kore’ (kuda liar) karena jarang sekali berjalan melainkan pecicilan ke sana ke mari. Dan mereka memanggilku apalagi ya? Aku sering tertawa keras-keras! Hingga gigiku kelihatan. Aku juga musuh formalitas. Apa peduliku soal peraturan-peraturan adat? Aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak peraturan adat Jawa yang konyol itu ….”

Dalam surat di atas, tentu tak terbayang oleh kita betapa kritisnya kata-kata yang ditulis Kartini, betapa jelas sikap pemberontakannya. Tak ada kelembutan di sana, tetapi adalah perlawanan. Ini bukan kalimat-kalimat yang biasa dilontarkan oleh seorang bangsawan, apalagi perempuan bangsawan, yang harus bicara hati-hati, pelan, dan berputar-putar.

Gambaran ini tentu kontras jika kita memandang potret Kartini yang kalem dengan mengenakan kebaya. Sosok Kartini dalam surat-surat aslinya justru menggambarkan sebaliknya: pecicilan, pemberontak, lincah, berpandangan luas, suka bercanda, dan tertertawanya begitu lepas. Hal yang sangat sulit diterima oleh lingkungan adat Jawa pada masa itu.

Kartini juga menyerang imperialisme dan Budaya Barat, perkara itu ia sampaikan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut sebagai peradaban?”

Kartini lalu menjelma menjadi seorang nasionalis saat berbicara mengenai bangsa Bumiputera, sebaliknya memandang kolonialisme Belanda dalam wajah yang sangat keji. Ia memberi contoh yang sederhana bagaimana pemerintah kolonial mengisi dompetnya dengan berataus-ratus ribu dan berjuta-juta dengan menjual candu kepada rakyat Bumiputera. Kejahatan itu hanya bisa dilepaskan jika bangsanya merdeka, lepas dari cengkraman kolonialisme.

“Aku ingin dan aku harus berperang untuk kemerdekaanku. Bagaimana aku bisa meraih kemenangan jika aku tidak berjuang? Tanpa perjuangan tidak akan ada kemenangan; aku harus berjuang Stella, aku hendak menggapai kemerdekaanku. Aku ingin menemukan seeorang yang kukagumi: perempuan yang melangkah dengan percaya diri, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas,” tulis Kartini, mengungkapkan keinginannya kepada Stella.

Bagi Kartini, tiada peralatan yang mumpuni untuk membebaskan rakyat Hindia, utamanya kaum perempuan yang terbelenggu, selain dengan pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan jalan untuk membuka horison dan peradaban baru bagi perempuan dan kaum Bumiputra. Pendidikan Eropa telah menghasilkan kebangkitan baru, suatu zaman yang mencerahkan.

Namun, buat Kartini, pendidikan Eropa bukan berarti meng-Eropa-kan bangsa Jawa melalui pendidikan bebas. Kartini menilai sifat-sifat baik yang ada pada bangsa lain, seperti: kebebasan, kesetaraan dan kemajuan, dapat melengkapi sifat-sifat baik yang sudah ada di dalam diri kaum pribumi Hindia. Pendidikan Eropa bukan berarti menyingkirkan sifat-sifat yang sudah ada pada orang Jawa, melainkan “untuk membuatnya lebih halus dan luhur!”

Karena itu, surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901, ia menuntut kebebasan bangsanya dalam hal keterbukaan informasi dan pendidikan.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan, agar perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Sekolah Kartini Batavia, 1925. (Foto: KITLV)

Penggalan-penggalan surat di atas, merupakan sedikit dari ratusan surat yang ditulis Kartini. Kartini bercerita mengenai banyak hal, tentang bangsanya yang menderita karena penjajahan, keresahannya mengenai aturan adat, hingga kepeduliannya terhadap pendidikan. Dalam surat-suratnya itu, ia mencoba mengimajinasikan dan mendefinsikan apa yang kemudian menjadi Indonesia.

Kumpulan surat Kartini tersebut kemudian diterbitkan di Belanda dalam bentuk buku dengan judul Door Duisternis Tot Licht, oleh Mr. JH Abendanon pada 1911. Lalu diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, oleh Balai Poestaka pada 1922. Buku tersebut menjadi bacaan wajib bagi para aktivis pergerakan. Kartini telah memantik kesadaran nasional di kalangan pemuda dan kaum terpelajar Hindia.

Namun, hari ini, tidak banyak orang yang tahu isi pemikiran Kartini yang dituangkan dalam surat-suratnya itu. Bahkan, tak banyak perempuan yang membaca buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Pemikiran modern Kartini, juga cita-cita dia tentang emansipasi perempuan, justru ditafsirkan sangat berlebihan di era perempuan modern saat ini.

Emansipasi dalam pengertian orang Indonesia tidak dilihat secara mengakar. Emansipasi masih dimaknai negatif, yaitu ingin menaklukkan laki-laki, dan meninggalkan urusan rumah tangga. Emansipasi dianggap ajang perang antara perempuan dan laki-laki, menyalahi kodrat, dan karena itu berbahaya.

Padahal, bila kita melihat asal muasal kata “emansipasi”, kata ini adalah jalan pembebasan setiap individu dari perbudakan, dari diskriminasi, dari penindasan. Siapapun yang melawan atau berjuang terhadap penindasan, dia telah melakukan emansipasi, atau disebut sebagai emansipatoris.

Kartini pun tentu saja tidak membenci laki-aki. Ia justru membutuhkan laki-laki untuk bekerjasama merobohkan banteng feodalisme dan kolonialisme. Hal ini tergambar dalam surat Kartini kepada Nyonya N. van Kol, pada Agustus 1901.

“Kami akan menggoyahkan gedung feodalisme itu dengan segala tenaga yang ada pada kami….. Tetapi sebelum itu, kami akan coba memperoleh kerjasama, meski dari hanya satu orang laki-laki Jawa yang paling baik dan terpelajar. Kami akan berhubungan dengan kaum laki-laki bangsa kami yang terpelajar dan maju. Kami hendak berusaha bersahabat dan mendapat bantuan dari mereka. Bukan orang laki-laki yang kami lawan, melainkan pendapat kolot yang turun-temurun, adat yang tidak terpakai lagi bagi tanah air kami masa depan….”’

Dengan hidupnya yang singkat (ia wafat di usia 25 tahun pada 17 September 1904), skala pencapaian Kartini memang relatif tidak besar. Bisa jadi, ada banyak sosok perempuan lain yang lebih layak dijadikan simbol perempuan nasional. Tapi yang menjadikannya istimewa, dan satu-satunya yang namanya ditetapkan menjadi hari nasional, rupanya karena ia menjadi tonggak dan pendobrak awal yang menguraikan ketidakadilan posisi perempuan di nusantara.

Memang, Kartini tidak berada di garis depan mengangkat senjata seperti Cut Nyak Dien dan Laksamana Malahayati melawan penjajah. Ia juga bukan seorang yang tampil di mimbar umum memimpin dan mengorganisasi massa. Ia hanya pembuka jalan, ia pencetus cara berpikir baru. Ia melakukannya hanya dengan tulisan. Gagasan-gagasannya bersemi dan bertumbuh. Ia menjadi rujukan. Menjadi sumber semangat. Dan yang terpenting, menjadi pelopor.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here