Kartini, Pergumulan Panjang Menjadi Muslimah Sejati

0
638

Nusantara.news, Jakarta – Pada tanggal 1 Agustus 1903, tibalah sepucuk surat dari Kartini ke tangan Rosa Abendanon Mandri. Di situ, Kartini menulis, “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”

Rosa, wanita warganegara Belanda kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi ini, tercengang. Lama dipandanginya surat itu. Tak biasanya Kartini menulis seperti ini. Kalimat suratnya itu memang seperti menggambarkan bahwa Kartini sudah sampai ke titik puncak pencariannya, yakni Hamba Allah. Kalimat itu mencerminkan kepasrahan Kartini sepenuhnya kepada Tuhannya.

Padahal biasanya surat-surat wanita bangsawan Jepara itu selalu menunjukkan kegelisahan pencarian spiritualitas yang tiada henti. Rosa mencari surat-surat Kartini yang disimpannya.

Ada sebuah surat yang dilayangkan Kartini kepadanya setahun sebelumnya. Dalam surat bertarikh 15 Agustus 1902 itu, Kartini mengatakan, “Aku tidak mau lagi membaca Alquran. Belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Apa yang dikatakan Kartini ini adalah puncak dari pergumulan batinnya terhadap agama yang dianutnya. Kartini memang sosok wanita Jawa yang tidak pernah berhenti mempertanyakan kemapanan keadaan. Apa pun digugatnya, meski dilakukan dengan cara-cara yang memungkinkan menurut ukuran zamannya.

Jangankan adat istiadat Jawa, agama Islam pun dipertanyakannya. Pada tanggal 6 November 1899, Kartini bersurat kepada sahabatnya, Estella H. Zihandelaar, seorang yahudi feminis di Amsterdam. Stella, demikian perempuan itu dipanggil Kartini, adalah sahabat penanya sejak 25 Mei 1899.

“Stella, mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?” tulisnya.

“Alquran terlalu suci. Sehingga tak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca,” lanjutnya lagi.

Kekalutannya itu akhirnya bermuara pada kepasrahan, sebagaimana terungkap dalam suratnya yang dilayangkannya kepada Ny Abendanon pada 15 Agustus 1902 tadi.

Dari surat-suratnya itu tergambar bahwa Kartini memang orang yang selalu opgewonden (gelisah). Pikirannya tidak pernah berhenti mempertanyakan, dan menggugat kemapanan. Dan yang luar biasa pertanyaan itu sudah menggelayut di benaknya sejak berusia sangat muda, 20-23 tahun. Usia yang kalau menurut ukuran zaman sekarang, adalah masa di mana gadis remaja menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan masa muda.

Barangkali juga karena dia hidup dalam tradisi Jawa masa itu yang tidak menyisakan sedikit pun jendela untuk memandang luasnya dunia.

Niscaya Kartini akan terus menggembara dan terjebak dalam ketiadaan jawaban tentang keyakinannya, seandainya dia tidak bertemu dengan Kiai Soleh bin Umar dari Darat, Semarang, sekitar September 1902. Dia berjumpa dengan ulama yang lebih dikenal dengan nama Kiai Soleh Darat itu dalam sebuah pengajian di rumah Pangeran Ario Hadiningrat, pamannya yang menjadi bupati di Demak.

Kiai Soleh Darat memberikan pengajian tafsir Alfatihah. Tidak ada dokumen yang menjelaskan apa yang disampaikan oleh sang kiai. Tapi yang jelas, Kartini sangat terkesima. Isi ceramah Kiai Darat menghunjam dalam ke hatinya.

Seusai ceramah, setelah sang kiai pulang, Kartini merengek ke pamannya untuk mengantarkannya ke rumah Kiai Darat. Pangeran Ario Hadiningrat heran tak habis pikir. Biasanya, kemenakannya ini sangat kritis terhadap isi ceramah agama. Tapi kini mendesak ingin bertemu si kiai.

“Saya ingin bertanya, Kiai,” ujar Kartini sesampai di rumah Kiai Darat.

“Silakan, Raden Ajeng,” jawab sang kiai.

“Apa hukumnya orang yang menyembunyikan ilmu,” tanya Kartini lagi.

“Maksudmu apa, nduk?”

“Kiai, baru kali ini aku dapat mendengarkan makna surat Alfatihah. Hatiku bergetar,” kata Kartini.

“Aku tak habis pikir, kiai. Mengapa kita dilarang menerjemahkan Alquran ke Bahasa Jawa,” lanjutnya.

Kiai Darat sejak pertemuan itu mengerjakan terjemahan Alquran ke Bahasa Jawa. Sebagian terjemahan tersebut diberikan Kiai Darat sebagai kado pernikahan Kartini dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Sejak itu pulalah Kartini berubah. Bukti perubahan itu terlihat dari suratnya kepada Ny Van Kol pada 21 Juli 1902. “Saya bertekad memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai,” tulisnya.

“Filsafat keagamaan Kartini sangat dalam sekali. Saya bisa memahami hal ini karena dia santri Kiai Soleh Darat, guru pendiri NU K.H. Hasyim Asy’ary dan juga guru pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan,” kata Mensos Khofifah Indar Parawansa berziarah ke makam Raden Ajeng Kartini di Rembang Jawa Tengah, dan meresmikan makam itu sebagai salah satu destinasi wisata ziarah nasional. (Lihat: https://nusantara.news/mensos-resmikan-makam-r-a-kartini-sebagai-destinasi-wisata-ziarah-nasional/)

Menjadikannya makam Kartini sebagai tujuan wisata ziarah mungkin berupa pengakuan bahwa Kartini telah berjuang untuk agamanya. Sebab wisata ziarah biasanya mengunjungi makam atau tempat-tempat yang kental nuansa agama dan spiritualitasnya. Sementara Kartini selama ini dikenal lebih sebagai sosok yang memperjuangkan kesempatan wanita untuk mendapatkan pendidikan yang layak, agar mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya.

Kartini, cucu K.H. Madirono dari Telukawur, Jepara, telah mencapai titik tertinggi pengembaraan spiritualnya. Ia khusnul khatimah, karena tak berapa lama setelah menemukan jatidirinya yang sempurna sebagai muslimah, dia menghadap Sang Khalik, 17 September 1904 di Rembang.

Terlalu muda dia meninggal, baru berusia 25 tahun. Tapi dia sudah mencapai puncak yang hendak didakinya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here