China Perantauan Dalam Sorotan: Masih China atau Sudah Indonesia? (bagian 2)

Kata Kata Kasar Ahok, Indikasi Belum Indonesia

0
370

Nusantara.news, Jakarta – Pengalaman Pilkada DKI Jakarta yang menegangkan karena meyentuh masalah SARA, NKRI, dan isu sensitif lainnya seyogyanya tidak terulang lagi. Terlalu besar energi yang terkuras untuk membicarakan hal-hal yang sebenarnya sudah tuntas. Isu isu panas itu juga bikin pilkada sebagai ajang adu progam tidak jalan. Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang akhirnya kalah, malah menempatkan China perantauan kini dalam sorotan. (Pengantar Redaksi, Red)

Ahok Belum Indonesia?

Prilaku Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang suka marah-marah dan bicara kasar di depan umum, tidak hanya membuatnya ditolak oleh masyarakat Jakarta, tetapi juga merusak masyarakat. Penilaian ini datang dari seorang ahli yang bukan sembarang ahli. Yakni, pakar neurobiologi bernama Prof. Taruna Ikrar, seorang ilmuwan Indonesia, Guru Besar Neurobiologi di Universitas California, Amerika Serikat.

Prof Taruna Ikrar mengatakan sudah mencermati sikap dan retorika Ahok selama memimpin Jakarta dari sudut pandang imagineering (rekacita). Hasilnya, setidaknya didapati tujuh  faktor negatif yang melekat pada diri Ahok sebagai negative energizer untuk merusak masyarakat.

Pertama, kesengajaan merendahkan orang lain (terutama lawan politik).  Kedua, resistensi terhadap kritik yang dianggap merusak citra.  Ketiga, mendorong opini (secara penetratif hipodermis) untuk menafikan nalar khalayak. Keempat, memaksakan kehendak dan impian dengan beragam cara.

Kelima, mendiskreditkan anak buah dan rakyat.   Keenam, men-deframe kemampuan kompetitor untuk menunjukkan diri sebagai superhero. Ketujuh, tidak konsisten (ingkar pendapat) yang pernah dikemukakannya.

Sedemikian rupa Ahok, sehingga dalam pandangan Prof Taruna Ikrar, termasuk pemimpin yang perlu diobservasi otaknya.

Dari segi emosi, Prof. Taruna Ikrar menyimpulkan, Ahok terindikasi mengalami ketidakstabilan kimia otak di dalam tubuhnya. Ahok juga tidak memiliki empati terhadap persoalan sosial. Dalam mengambil keputusan, Ahok masuk kategori  orang yang tidak disertai pertimbangan-pertimbangan matang, terutama fungsi insaniahnya.

Dari ketiga hal tersebut, menurut Prof Taruna Ikrar, yang pernah dinominasikan menerima hadiah Nobel, Ahok termasuk seseorang yang ketika memperoleh otoritas besar, akan sangat berbahaya, karena secara sadar bisa melakukan sesuatu yang tak lazim untuk kepentingan menunjukkan dirinya serba positif dan orang lain serba negatif.

Terkait kata-kata Ahok yang kotor, menurut Prof.Taruna Ikrar, dilatari oleh sistem interaksi logical kognitif dan emosinya, di mana Ahok sesungguhnya mengalami disorder personality.

Dengan kondisi demikian, Ahok selalu cenderung memutar balik realitas. Misalnya, mengesankan seolah-olah dirinya korban rasisme, padahal dia sendiri yang rasis dan secara sadar mengembangkan rasialisme. Dengan cara ini dia dapat menjadi pemicu terjadinya friksi dan konflik sosial.

Gangguan neurobiologis Ahok juga memicu dirinya yang sangat mudah mengklaim kejujuran, padahal belum terbukti dia jujur, seperti dia mengklaim seolah-olah dirinya tidak korupsi, tetapi memberi peluang bagi lingkungan sosial terdekatnya untuk melakukan tindakan koruptif.

Pernyataan-pernyataan Ahok, seperti “karena saya Cina, kristen lagi, secara sadar dilakukan untuk memicu friksi sosial. Karena, setiap terjadi friksi sosial, dia akan mengais keuntungan bagi kepentingan pencitraannya.

Efek yang dia kehendaki dari sikap dan ucapan semacam itu adalah memasukkan ke dalam pikiran semua orang, bahwa multikulturalisme pluralis mentolerir pluralitas budaya.

Lagi pula kata-kata Ahok yang kasar di depan umum, sangat bertolak belakang dengan kesopanan yang dikenal dalam kebudayaan Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia, bahasa memiliki sifat interpersonal di mana bahasa berfungsi sebagai sikap penutur dan sebagai pengaruh pada sikap dan perilaku petutur. Fungsi ini mencakup fungsi ekspresif dan fungsi informatif.

Bahasa juga memiliki fungsi phatik, yaitu fungsi untuk menjaga agar garis komunikasi tetap terbuka, dan untuk terus menjaga hubungan sosial secara baik.

Saat seseorang berbahasa, mengucapkan atau menulis kalimat dalam suatu bahasa, sebenarnya juga sedang menjaga hubungan sosial. Ia akan mempertimbangkan norma apa yang berlaku di lingkungan sosial budaya di mana ia berbahasa. Hal tersebut dilakukan agar terjadi hubungan harmonis dan komunikasi yang efektif.

Hubungan yang harmonis dalam masyarakat termasuk dalam hal kehidupan berbahasa akan terwujud dengan memperhatikan adat budaya. Salah satu bagian budaya yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat adalah sopan santun.

Di dalam bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia, sopan santun menyangkut sikap dan tata cara yang baik, kesopanan, atau kesantunan. Sopan santun telah mengaitkan nilai baik atau buruk, pantas atau tidak pantas.

Orang yang bersikap atau berbicara kasar pada orang lain dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak sopan atau tidak santun, sebaliknya orang yang bersikap santun ketika berbicara dengan orang lain dapat dikategorikan orang yang sopan.

Kesantunan dalam berbahasa merupakan ciri khas masyarakat berbudaya tinggi. Kesantunan dimaksudkan agar tidak ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan merasa tidak nyaman. Sikap berbahasa yang tepat akan mendukung suasana yang menyenangkan dalam komunikasi sebagai peristiwa bahasa. Oleh karena itu, terkadang untuk mengungkapkan kesantunan pengguna bahasa dituntut untuk mengatakan sesuatu yang buruk atau jelek dengan bahasa yang halus dan meminimalkan ketersinggungan untuk menjaga muka seseorang.

Inilah yang dikenal dengan eufimisme, yaitu salah satu cara untuk mengungkapkan sesuatu hal yang buruk dan jelek agar terkesan baik. Seperti misalnya, untuk mengatakan anak cacat digunakanlah kata-kata seperti tuna rungu (untuk orang tuli), tuna netra (untuk orang buta), tuna daksa (untuk orang yang cacat tubuh).

Eufimisme juga dikenal dalam komunikasi politik. Untuk mengatakan pemecatan bagi anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dikatakan recall.  Pergantian pemimpin negara tabu dikemukakan di zaman orde baru. Gantinya adalah suksesi.

Setelalah reformasi, eufimisme masih dipakai dalam berkomunikasi. Jaring Pengaman Sosial (JPS) digunakan untuk menggantikan kata dana untuk orang miskin. Kata bekas pemimpin digantikan kata mantan pemimpin.

Dalam keseharian terjadi hal sama. Kamar kecil digunakan sebagai kata ganti tempat kecing. Bahasa seperti ini masih berlaku dalam proses komunikasi sosial dan juga komunikasi politik di Indonmesia.

Bahasa eufimisme memang pernah jadi sorotan di Indonesia. Tetapi faktanya tetap menjadi pedoman dalam berkomunikasi sampai sekarang setidaknya di depan umum.

Oleh sebab itu, jika kemudian Ahok berkata kasar dan tidak sopan di depan umum seperti itu, maka mudah muncul tafsir, jangan jangan Ahok belum Indonesia, dan oleh sebab itu memang patut tidak dipilih. Kata-kata kasar dan tidak sopan itu malah jadi sorotan budaya siapa yang dia sedang perankan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here