Kata Pemerintah Stok Pangan Cukup, Tapi Harga Malah Naik

0
112
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kanan) bersama Walikota Bandung Ridwan Kamil (tengah) melakukan inspeksi mendadak ke pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/5). Mendag melihat stok barang kebutuhan pokok menjelang Puasa, Lebaran dan Idul Adha 2017 di beberapa pasar di Bandung. ANTARA FOTO/Agus Bebeng/ama/17

Nusantara.news, Jakarta – Bak ritual tahunan, sepertinya kenaikan beberapa harga bahan pangan tak terbendung jelang bulan Ramadhan. Bahkan kebijakan apapun yang ditempuh pemerintah seperti tak manjur. Itu sebabnya, kali ini pemerintah berupaya menggandeng para pedagang besar untuk menjamin stabilitas harga bahan pokok. Efektifkah?

Seperti menteri-menteri sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kali ini mengatakan bahwa stok kebutuhan bahan pangan hingga akhir tahun akan cukup. Sehingga tidak ada alasan harga-harga bahan pangan naik, terutama menjelang dan dimasa bulan puasa.

Mendag sudah mendeteksi perkembangan stok di sejumlah daerah, termasuk berkoordinasi dengan asosiasi terkait sampai ke pelaku usaha, itu sebabnya ia berkesimpulan bahwa stok cukup hingga akhir 2017.

Telah menjadi tradisi, setiap bulan jelang Ramadhan, permintaan bahan pokok jadi tidak terkendali dan harga mengalami kenaikan. Fenomena itu terjadi pula saat ini, harga bawang putih dan cabai merah meroket. Bawang putih dijual Rp60 ribu atau naik dua kali dari harga normal yang hanya Rp30 ribu per kilogram. Bahkan ada juga pedagang yang menjualnya hingga Rp80 ribu per kilogram. Sementara itu, cabai merah dijual Rp35 ribu dari sebelumnya Rp20 ribu per kilogram.

Menurut para pedagang, kenaikan harga tersebut sudah terjadi hampir sepekan terakhir. Penyebabnya dikarenakan stok yang sedikit sedangkan permintaan tinggi.

Selain bawang putih dan cabai merah, kenaikan harga juga terjadi pada telur dan daging ayam potong. Harga telur yang semula pada kisaran Rp18 ribu naik menjadi Rp23 ribu per kilogram. Sedangkan harga ayam potong, semula di level Rp27 ribu naik menjadi Rp32 ribu.

Untuk harga bawang putih, menurut Mansyur, pedagang sayuran di Kota Cirebon, naik cukup signifikan, dari semula pada kisaran Rp48 ribu naik menjadi Rp80 ribu.

Enggartiasto mengungkapkan kenaikan harga cabai disebabkan adanya cuaca, dimana curah hujan dengan intensitas tinggi di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini menyebabkan pasokan cabai mengalami penurunan. “Jadi ini bukan ulah spekulan, melainkan faktor cuaca.”

Terkait kenaikan harga bawang putih, Enggar mengakui hal ini tak wajar. “Kenaikan tak wajar ini harus kita sikapi dan kami akan laporkan kepada Ketua Tim Satgas. Kalau itu terjadi di Jawa Barat, kami akan koordinasikan Pak Kapolda Jabar,” tegasnya.

Memang Kapolri sudah menegaskan jika terjadi kenaikan harga bahan pangan tak wajar di satu daerah, maka Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus)-nya akan dipecat kalau tidak berbuat sesuatu. Sikap tegas ini sengaja ditempuh untuk menghindari adanya permainan yang melibatkan aparat Polda setempat.

Terkait kenaikan harga telur dan ayam potong, Enggar berpendapat masih dalam kisaran yang wajar. Namun demikian pemerintah akan meminta para pedagang tetap tidak menimbun atau mempermainkan harga. Pada saat yang sama pemerintah terus berupaya menjaga harga pada kisaran yang wajar.

Sedangkan harga daging sapi yang pada akhir 2016 sempat menyentuh level Rp150 ribu, dan diawal tahun ke posisi Rp120 ribu, kini sudah relatif turun ke level Rp90 ribu per kilogram. Namun di Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, sempat mencapai angka Rp140 ribu per kilogram.

Enggar menegaskan pemerintah telah menyiapkan daging beku seharga Rp80 ribu dan daging segar Rp100 ribu per kilogram. Sehingga kalau pedagang mau menjual di atas harga itu akan rugi dengan sendirinya.

Stok cukup

Untuk harga beras, para pedagang di Pasar Induk Cipinang yang menjadi gudang beras memiliki stok cukup hingga empat bulan ke depan. Sedangkan Bulog saat ini memiliki stok beras mencapai 1,6 juta ton yang diprediksi cukup untuk lima bulan ke depan.

Sementara untuk gula pasir, Bulog dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), menurutnya, telah menyiapkan stok mencapai 300 ribu ton jika memang harga di pasaran tiba-tiba melonjak. Dengan begitu sewaktu-waktu bisa turun ke pasar untuk meredakan kenaikan harga gula. Harga eceran tertinggi (HET) pun akan dipatok Rp 12.500 per kilogram (kg).

Sedangkan untuk harga daging sapi atau kerbau, Enggar menyebut komoditas ini stoknya sangat mencukupi. Kemendag juga telah berkoodinasi dengan sejumlah distributor, termasuk Asosasi Distributor Daging Sapi (ADDI), agar bisa menekan daging beku di angka Rp80 ribu per kg.

“Importir kita sudah lihat gudangnya. Jangan pernah bermain dengan harga, berapa pun masukan. Kalau nggak ada importir, BUMN akan masuk intervensi harga,” ujar Enggar meyakinkan.

Harga minyak goreng pun mulai mengalami kenaikan dalam dua pekan terakhir. Namun, Kemendag telah memanggil asosiasi yang berkecimpung dalam perdagangan minyak goreng, dan telah disepakati akan ada HET untuk komoditas tersebut.

“Kami ingatkan untuk sama-sama menjaga. Jangan memanfaatkan liburan ini dengan memaksimalkan keuntungan sepihak karena stok tersedia,” tegas Enggar.

Kementerian Perdagangan juga mengizinkan pedagang untuk menyetok komoditas pangan. Syaratnya, komoditas tersebut tidak ditimbun agar tak membuat komoditas justru sedikit di pasaran.

Enggar mengatakan, menyetok dan menimbun merupakan dua hal yang berbeda. Ketika menyetok, para pedagang mengumpulkan barang untuk menjaga agar pendistribusian dalam kurun waktu tertentu berjalan lancar.

“Sedangkan ketika pedagang menimbun, mereka mengumpulkan dan menahan barang sehingga ada lonjakan harga di pasaran. Kalau untuk menyetok tidak apa-apa. kita juga melakukan monitoring perputaran barang,” ujar Enggar.

Mendag menjelaskan, salah satu komoditas yang biasanya akan distok adalah beras. Komoditas ini lebih banyak distok karena kebutuhan akan beras kerap mengalami pelonjakan, seperti menjelang Ramadhan, Natal dan Tahun Baru. Dengan kondisi tersebut, pedagang juga sebenarnya tidak bisa menyetok terlalu lama karena pasar akan membutuhkan barang.

Berkoordinasi

Selain itu, Kemendag telah berkoordinasi dengan para pedagang di sejumlah pasar dan gudang komoditas untuk tidak melakukan penimbunan, tapi meningkatkan jumlah kapasitas barang. Untuk melakukan peningkatan barang dalam jumlah besar, para pedagang ini juga harus melaporkan tempat atau gudang yang akan digunakan, agar Kemendag bisa ikut serta mengendalikan kegiatan penambahan kapasitas tersebut.

Mereka harus melaporakan gudangnya di mana, berapa banyak yang distok. Sehingga kita ada manajemen yang bisa kontrol, kata Enggar. Dengan cara seperti ini, pengedalian akan lebih mudah dilakukan. Hal ini juga memperkecil kemungkinan pedagang menimbun komoditas.

Sementara itu, para pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan mengatakan, kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadhan mulai terjadi. Salah satu pedagang sembako, Suhaimi mengatakan, komoditas cabai seperti cabai rawit kembali naik sejak empat hari yang lalu. Cabai rawit merah, sampai 80 ribu, biasanya 50 ribu per kilogram.

Perbaikan menyeluruh

Tidak seperti ketika rupiah melemah, Bank Indonesia serta merta melakukan intervensi agar mata uang Indonesia itu stabil. Atau sebaliknya melakukan sterilisasi jika rupiah terlalu kuat. Lantas kalau harga-harga pangan naik, apa yang bisa dilakukan pemerintah?

Sebenarnya fakta-fakta di atas adalah rutinitas yang selalu terjadi setiap tahunnya. Termasuk cara-cara pemerintah menangani selalu menggunakan modus yang sama, sehingga ceritanya pun nyaris tidak berbeda walaupun Menteri Perdagangan-nya sudah berganti-ganti rupa.

Baik dengan memperbesar stok, melakukan operasi pasar, berkoordinasi dengan para pedagang dan distributor. Namun hasil dan ceritanya tetap sama. Itu sebabnya kita menjadi rindu dengan peran Perum Bulog pada masa Orde Baru, dimana Bulog menguasai 9 bahan pokok (sembako) sehingga harganya berlangsung stabil selama 32 tahun.

Tidak ada salahnya pemerintah mengembalikan taji Bulog dalam mengendalikan dan menjaga harga sembako.

Selain itu, pemerintah harus turun tangan untuk mengurangi beban penderitaan rakyat. Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan untuk mengontrol harga sembako. Langkah ini penting untuk melawan aksi spekulasi dan penimbunan. Di sini, ada pengalaman cukup menarik yang dilakukan oleh pemerintahan Venezuela. Di sana pemerintah membuat regulasi mengenai harga barang yang adil, yang mematok harga barang-barang kebutuhan pokok rakyat sesuai harga normalnya (biaya produksi, distribusi, dan keuntungan wajar).

Pemerintah bisa menciptakan toko-toko atau pasar khusus sembako dengan harga normal. Berbeda dengan operasi pasar yang sifatnya temporer dan jangkauannya terbatas, toko-toko sembako ini di tiap-tiap teritori dengan prioritas warga miskin. Hanya saja, sebelum membangun toko sembako murah ini, pemerintah harus punya stok atau tempat penyimpanan sembako yang memadai. Toko-toko sembako ini menggandeng Bulog dan BUMN di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Dan yang paling tokcer, dan ini tidak pernah diseriusi, pemerintah beserta aparat hukum harus menangkap para pelaku penimbun sembako dan menghukum berat. Mengapa demikian? Karena kejahatan menimbun sembako sama seperti jahatnya terosis yang meresahkan masyarakat, sehingga, mereka yang baik sendiri-sendiri ataupun membentuk kartel, wajib dihukum berat.

Jika langkah-langkah tersebut di atas ditempuh secara konsisten dan tegas, tampaknya tidak ada lagi yang berani bermain-main dengan harga pangan. Kecuali mereka tidak waras…![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here