Ke Mana Arah Kelompok Islam Politik Pasca Pertemuan Prabowo-Jokowi?

0
289

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya bertemu untuk pertama kali dengan Prabowo Subianto usai ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai presiden terpilih 2019-2024. Berbagai tanggapan positif mengalir dari berbagai pihak saat ‘kedua seteru’ itu bertemu di stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019.

Namun tak sedikit yang mengutarakan kekecewaannya. Akun twitter Partai Gerindra, misalnya, jadi sasaran marah warganet tepat setelah sang Ketua Umum Prabowo Subianto menemui Jokowi. Mereka menyatakan kekecewaan dan menarik dukungannya terhadap mantan calon presiden nomor urut 02 di pilpres 2019 tersebut.

Sejumlah relawan Prabowo-Sandi, khususnya barisan emak-emak, bahkan berunjuk rasa menolak ‘rekonsiliasi’ dengan Jokowi. Kata-kata ‘Sayonara Prabowo’, ‘Selamat Tinggal Prabowo’ pun menggema di sosial media.

Tak hanya itu, beberapa kelompok ormas Islam atau katakanlah kelompok Islam politik, seperti Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, menyatakan bahwa pihaknya sudah tidak berada dalam barisan pendukung Prabowo. Mereka menganggap selama ini mendukung Prabowo karena merasa satu jalur perjuangan. Namun setelah pertemuan Prabowo-Jokowi di MRT Jakarta, harapan menjadi buyar. Mereka menilai masalah ini serius dan akan membawanya ke Ijtimak Ulama ke-4.

Hal senada juga dilakukan Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang menyatakan tak pernah merestui pertemuan Prabowo dengan Jokowi. "Atas peristiwa pertemuan Prabowo Subianto dan Presiden Jokowi, kami sampaikan selamat tinggal Prabowo Subianto," ujar Kepala Divisi Hukum Persaudaran Alumni (PA) 212 Damai Hari Lubis melalui keterangan tertulis, Sabtu, 13 Juli 2019.

Sejauh ini sikap Prabowo masih bisa disebut abu-abu. Dalam pertemuan itu dia tak tegas menjelaskan akan dibawa ke mana partainya, Gerindra. Apakah akan jadi oposisi (seperti PKS) atau masuk ke pemerintahan. "Oposisi juga siap, check and balance siap," demikian kata Prabowo usai bertemu Jokowi di fX Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat.

"Yang penting negara kita kuat, kita bersatu," tambah bekas menantu Soeharto ini. Meski demikian, seruan PKS, salah satu partai pendukung, agar Prabowo tegas mengatakan bahwa dia dan Gerindra jadi oposisi, tidak dihiraukan.

Jokowi dan Prabowo Akhirnya Bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta

Lantas bagaimana arah politik kelompok Islam politik ini pasca pertemuan Prabowo-Jokowi?

Tak bisa dipungkiri, kelompok Islam politik utamanya GNPF-U dan PA 212 telah menjadi kekuatan politik baru di Tanah Air sejak Pilkada DKI 2017 lalu. Kelompok ini juga menjadi tulang punggung Prabowo-Sandiaga Uno di pemilu 2019. Mereka bahkan menggelar tiga kali rapat tingkat nasional bertajuk Ijtimak Ulama sebagai bentuk dukungan dan kontrak politik kepada Prabowo.

Reuni 212 di masa-masa Pilpres 2019 pun diyakini sebagai manuver kelompok tersebut untuk mendekatkan Prabowo pada barisan mereka, sekaligus mendongkrak suara mantan Danjen Kopassus itu. Meski begitu, dukungan mereka tampaknya bukan semata-mata demi Prabowo, lebih dari itu karena mereka tak sepaham dengan gaya pemerintahan Jokowi yang mereka anggap merugikan umat Islam. Mereka pun merasa tak diayomi oleh Jokowi, baik dari segi kepercayaan, penegakan hukum, maupun isu-isu ekonomi.

Tak heran, saat Prabowo bertemu dengan Jokowi, kelompok tersebut merasa ditinggalkan. Atas kekecewaan tersebut, otomatis kelompok Islam politik kini menjadi kekuatan yang mengambang. Namun suara dan kepentingan politik kelompik ini diyakini tidak akan padam, ia akan terus hidup sebagai gerakan ‘antitesis’ Jokowi. Lantas kemanakah bola politik ini menggelinding?

Kemungkinan, kelompok ini akan mencari sosok baru ataupun partai politik yang sejalan dengan garis perjuangan mereka yang menempatkan diri di seberang Jokowi. Tak menutup kemugkinan pula kelompok ini akan membentuk kekuatan politik sendiri di luar partai atau lembaga politik yang ada. Bisa jadi mereka akan menjadi oposisi jalanan (di luar parlemen) sebagai kelompok penekan (pressure group) bagi pemerintahan Jokowi.

Menarik untuk ditunggu kelanjutannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here