Pilpres 2019 dan Politik Kaum Milenial (2-habis)

Ke Mana Arah Politik Pemilih Milenial?

0
98

Nusantara.news, Jakarta – Sesungguhnya, jika diukur lewat pencitraan, perebutan suara milenial pada Pilpres 2019, terletak pada daya tarik Jokwo Widodo (Jokowi) dan Sandiaga Uno. Pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin tentu yang akan di branding adalah sosok Jokowi-nya ketimbang Ma’ruf. Sementara dari sisi Prabowo, vermak milenial lebih kepada Sandi, bukan Prabowo. Baik Sandi ataupun Jokowi punya potensi dan dianggap ‘millenialable’, paling tidak jika dilihat dari gaya mereka selama ini.

Jokowi punya gaya, gimmick, dan cara berpakaian yang sesuai dengan selera milenial. Bahkan gimmick-gimmick yang menyasar kaum milenial kerap membikin heboh pemberitaan di sosial media. Tak kalah dari Jokowi, Sandiaga juga punya style, rupawan, komunikatif, dan sosok muda yang sukses. Ia bahkan menjadi simbol politik kaum muda hari ini.

Pun begitu, Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha, menyarankan, agar kedua pasangan calon tidak berfokus pada pemilih milenial. Sebab menurutnya, pemilih milenial cenderung tidak aktif di politik dan kebanyakan golput. Hal menarik lain dari  keterlibatan generasi milenial dalam pilpres mendatang, adalah generasi ini menyatakan masih mungkin berubah dalam menentukan/memilih siapa kandidatnya. Karena itu, pemilih milenial terbilang pemilih kritis yang masih ‘galau’.

“Pemilih muda-milenial itu selain soal politiknya ke mana, ada dua catatan saya. Satu, soal partisipasi lebih rendah. Kedua, soal pemantapan pilihan, biasanya paling galau. Jadi pendekatannya harus tepat,” ungkapnya.

Namun, yang perlu dipahami, bahwa karakter generasi milenial ialah melek informasi. Hidup mereka banyak dicurahkan untuk berselancar di dunia maya. Mereka terkoneksi satu sama lain melalui media sosial. Inilah titik pembeda antara generasi milenial (17-35 tahun) dengan generasi X (36-55 tahun) serta generasi baby boomers (55 tahun ke atas).

Besarnya kuantitas generasi milenial tidak membuat mereka sebagai mayoritas yang diam (silent majorities). Mereka bukan entitas yang pasif, melainkan aktif. Sebab, dunia maya, tempat mereka beraktivitas, tersedia informasi yang melimpah dan bisa diperoleh secara cuma-cuma. Sehingga, riwayat dan jejak rekam kandidat akan diselidiki lebih jauh. Informasi yang diperoleh tentang kandidat bisa menjadi dasar politisnya dalam memberikan suara.

Keberhasilan kandidat ditentukan oleh sejauh mana ia dikemas, dicitrakan, dan diinformasikan dalam dunia maya. Berdasarkan survei Poltraking 2018, faktor rasional berada di atas faktor sosiologis yang menjadi dasar penentu bagaimana pemilih milenial melabuhkan pilihannya. Perbandingannya ialah 39% untuk faktor rasional dan 30% untuk faktor sosiologis. Setidaknya, mereka tidak tertipu oleh iming-iming politik uang (money politic) dan pencitraan semu ala politisi sehingga mereka tetap mampu menjaga nalar kritisnya dalam menentukan pilihan.

Data tersebut menunjukkan bahwa tim pemenangan perlu melakukan kerja ekstra untuk mengarahkan kebijakan yang ditawarkan secara proporsional, aplikatif, dan komprehensif. Petahana harus melakukan inovasi dan perbaikan terhadap kinerja serta kebijakan yang telah dijalankan. Sementara itu, di kubu oposisi harus ada koreksi dan inovasi program kerja serta kebijakan yang akan ditawarkan.

Hasil survei yang dilakukan oleh Centre For Strategic and International Studies (CSIS) 2017 menunjukkan bahwa kesulitan yang dihadapi generasi milenial saat ini ialah terbatasnya lapangan pekerjaan (25,5%), tingginya harga sembako (21,5%), tingginya angka kemiskinan (14,3%), dan beberapa persoalan lain di bawah 10%. Jika pemilih milenial setia pada sikapnya, mereka akan mengkristalkannya menjadi pilihan rasional. Oleh sebab itu, agar mendapat dukungan elektoral dari pemilih milenial, kesulitan tersebut perlu dipecahkan oleh capres dan cawapres melalui paket program kerja yang ditawarkan.

Dua pasang kandidat capres-cawapres 2019: Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (kiri) dan Joko Widodo-Ma’ruf Amin (kanan)

Tak hanya itu, tim kampanye nasional pasangan calon Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno nampaknya harus bekerja keras untuk merebut suara pemilih milenial. Bagaimana tidak, klaim prestasi pemerintah ataupun narasi kerakyatan yang didengungkan pihak oposisi, tak terlalu dipedulikan oleh mereka. Sebab, generasi milienial umumnya tidak suka ngomong hal-ha yang berat ataupun bahasa politik.

Untuk mendekati pemilih milenial, kubu Jokowi dan Prabowo harus mendekati mereka dengan bahasa mereka: mudah dipahami dan future oriented. Sayangnya, selama ini para politisi hanya mengganggap pemilih milenial penting dari sudut pandang pasar suara dalam industri politik, namun mengabaikan karakteristik politik dan kebutuhan mereka.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here