Ke Mana Arah Reuni 212?

0
125
Lautan Massa dalam Aksi Bela Islam 212 tahun 2016 lalu

Nusantara.news, Jakarta – Secara umum, kekuatan-kekuatan politik kerap dibagi ke dalam beberapa pemangku kepentingan (stake holders). Kelompok-kelompok seperti partai politik, kelompok ekonomi, birokrasi (sipil dan militer), kelompok kelas menengah, masyarakat sipil dan media/pers, merupakan kelompok yang lazim menjadi kekuatan politik di negeri ini.

Belakangan, kelompok Islam muncul sebagai kekuatan baru di negeri ini. Secara konsep, mereka bisa saja jatuh ke dalam kelompok kelas menengah atau mungkin masyarakat sipil (civil society). Tetapi mereka berbeda. Mereka berhimpun dalam satu gerakan tanpa identitas tunggal ormas tertentu, tanpa kekuatan tunggal politik tertentu.

Gerakan ini membatin, karena di sana terdapat muatan rohaniah yang mengetuk setiap nurani umat Islam untuk membela agamanya. Gerakan yang sontak menjadi perhatian dunia itu bernama ‘Aksi Bela Islam’ 212 (2 Desember 2016). Kekuatan 212 kini hadir sebagai kelompok yang tidak hanya diperhitungkan, tetapi juga memiliki pengaruh.

Seolah ingin mengambil spirit kebangkitan dan persatuan umat Islam pada momen dua tahun lalu, kini para ‘alumninya’ berniat menggelar Reuni Akbar 212 pada 2 Desember 2018 (hari Minggu) di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Polemik tentu saja mewarnai rencana kegiatan tersebut. Satu pihak menuduh ada aroma politik terkait Pilpres 2019, pihak lain menegaskan Reuni 212 hanya ajang silaturrahmi seluruh elemen umat Islam.

Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab yang sekaligus tokoh sentral gerakan 212 memberi seruan menjelang reuni 212. Bagi Habib Rizieq, reuni 212 bukan sekadar nostalgia, tapi juga konsolidasi melawan kezaliman. Seruan ini disampaikan Rizieq lewat video yang diunggah akun Front TV di YouTube pada Kamis (29/11/2018). Habib Rizieq mengajak umat Islam hadir dalam reuni 212.

“Reuni akbar 212 bukan sekadar reuni untuk bernostalgia para pejuang 212, tapi juga merupakan media konsolidasi umat Islam dan rakyat Indonesia untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Reuni akbar 212 adalah momentum kebangkitan umat Islam dan rakyat Indonesia untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik, insyaallah,” ujar Habib Rizieq, yang hingga saat ini berada di Arab Saudi.

Ada Tendensi Politik di Reuni 212?

Gerakan 212 tidak dapat dipungkiri merupakan gerakan terbesar yang telah menyatukan umat muslim di Indonesia, dari berbagai golongan, aliran serta daerah untuk membela agamanyaKala itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama menjadi musuh bersama. Penyebabnya pidato Ahok di pulau Pramuka yang menyinggung surat Al-Maidah 51 pada 27 September 2016 dianggap menistakan agama Islam. Sontak gelombang demonstrasi nyaris tak surut di Ibukota. Aksi-aksi berjilid dengan “tanggal cantik” terus bergulir sampai akhirnya Ahok diganjar hukuman.

Pasca-Ahok dipenjara, eksistensi gerakan 212 ini pun tak langsung sirna. Mereka justru mengkristal dalam berbagai aksi moral, ekonomi, dan politik. Secara moral mereka merawat ukhuwah Islamiyah untuk saling menyeru pada kebaikan dan membela Islam dari ketidakadilan serta kriminalisasi ulama. Mereka juga membangun wadah gerakan alumni 212 seperti: Presidium Alumni 212, Persaudaraan Alumni (PA) 212, dan Garda 212.

Dari spektrum ekonomi, mereka mendirikan toko-toko ritel berjaringan dengan bendera 212-Mart, Kita-Mart, dan lain-lain. Sementara dalam konteks mobilisasi gerakan 212, ekonomi masih menjadi motivasi bagi masyarakat. Masyarakat mungkin mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok Islam yang menawarkan berbagai cara bertahan hidup, seperti kesempatan kerja, pinjaman bisnis, atau layanan pendidikan dan kesehatan.

Dari segi politik, kekuatan ini tampaknya mengambil posisi berseberangan dengan Jokowi, bahkan cenderung anti terhadap pemerintah. Tak heran, beberapa tokoh 212 terus mengkapitalisasi gerakan ini sebagai kekuatan oposisi non-partisan, sebagian lagi masuk ke dalam struktur Barisan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Namun, ada pula tokoh alumninya yang sudah merapat ke kubu Jokowi, misalnya mantan pengacara Habib Rizieq yaitu Kapitra Ampera dan Cawapres Jokowi, KH Ma’ruf Amin.

Barangkali karena itulah, dalam konteks Reuni 212, sebagian kalangan menuding punya tendensi politik. Kapitra Ampera, alumni 212 yang kini menjadi caleg PDIP, misalnya, menolak Reuni 212 dan berencana membuat aksi tandingan. Dia kecewa dengan PA 212 yang menggerakkan acara dengan tujuan yang tak jelas. “Kami dulu itu dukung untuk bela agama dan penistaan, tapi sekarang sudah berubah,” tuturnya.

Kubu petahana bahkan menyebut Reuni 212 adalah kampanye terselubung untuk Prabowo-Sandi, mengingat para penggeraknya seperti Penanggung Jawab Reuni 212 sekaligus Ketua PA 212 Slamet Maarif, Ketua GNPF Ulama yang juga Koordinator Dewan Pengarah Reuni Akbar 212 Yusuf Muhammad Martak, Anggota Divisi Acara Reuni Akbar 212 Neno Warisman, Bendahara 1 Reuni Akbar 212 Haekal Hasan, dan Wakil Ketua 1 Reuni Akbar 212 Muhammad Al Khathath, masuk jajaran tim sukses paslon no urut 02.

Konferensi pers panitia Reuni Akbar 212

Namun, panitia mengklarifikasi sejumlah kabar miring yang beredar di masyarakat jelang aksi Reuni 212. Melalui keterangan tertulisnya, panitia menyampaikan tidak membuat dan menyebarkan susunan panitia dan susunan acara, baik berupa gambar atau tulisan seperti yang tersebar di media sosial.

Tudingan Reuni 212 sebagai agenda politik praktis juga dibantah. Juru bicara PA 212 Novel Bamukmin mengakui jika Reuni 212 dilakukan untuk mengkritik Jokowi. Pasalnya, pemerintahan Jokowi saat ini kerap mengesampingkan agama dari kehidupan bernegara karena mendukung penista agama. Tak hanya itu, dia menuduh Jokowi kerap mengkriminalisasi ulama dalam empat tahun terakhir.

Meski demikian, Novel berdalih Reuni 212 tak mengusung agenda politik, terutama Pilpres 2019. Novel mengklaim Reuni 212 merupakan wadah silaturahmi akbar antaraulama, tokoh, serta aktivis yang peduli terhadap agama.

Hal senada disampaikan Penanggung Jawab Reuni 212, Slamet Maarif, Rabu (28/11). Slamet mengatakan ini hanya aksi silaturahim tokoh lintas agama. “Bukan ajang politik praktis atau kampanye paslon tertentu,” katanya dalam konferensi pers di Gedung Dewan Dakwah Islam Indonesia, Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Itu sebabnya, acara yang diklaim akan diikuti oleh sekitar empat hingga tujuh juta orang ini juga mengundang Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno (calon presiden dan wakil presiden Pilpres 2019). Khusus untuk pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf, panitia mengaku sudah mengirimkan undangannya pada Kamis, 29 November 2018.

Lepas dari prokontra Reuni 212, sebuah gerakan moral berskala besar seperti 212 yang posisinya “dipandang”, entah secara politis maupun ekonomis, pasti melahirkan dua konsekuensi yang sangat lumrah. Pertama, dari eksternal kelompok, akan lahir ambisi untuk mengkooptasi agar potensi yang dahsyat itu dapat diberdayakan untuk tujuan tertentu. Kedua, dari internal kelompok, akan terpancing pula keinginan melakukan kapitalisasi atas potensi itu.

Baca: https://nusantara.news/jokowi-memecah-gerakan-212/

Karena itu, elemen 212 harus benar-benar menjaga marwah gerakan dan konsisten berada di tengah kepentingan umat. Jika tidak, gerakan 212 akan ditinggalkan umat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here