Revolusi Media Massa (2)

Keberadaan Media Sosial dan Jurnalisme Khalayak

0
251
Ilustrasi Foto: heartland.org

Nusantara.news – Bagi orang yang berusia 50 tahunan, istilah media sosial tidak dipahami secara spesifik walaupun banyak juga yang menggunakannya, kecuali yang gagap teknologi (gaptek). Secara jurnalistik, media sosial tidak dikenal, karena tidak memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik. Namun dari segi fungsi dan pengaruh, sangat populer karena Indonesia termasuk negara terbesar pengguna media sosial.

Tidak heran, ketika kampanye Pemilihan Presiden 2014, popularitas Joko Widodo banyak ditopang melalui media sosial. Maka jangan heran jika dia senang melakukan selfie (swafoto) atau vlog (video blog) dengan kepala negara lain seperti pada saat kunjungan Raja Saudi Arabia yang sempat dikritik pers lokal Saudi Arabia karena dianggap kurang etis dan kurang pantas memperlakukan “raja”-nya seperti itu.

Kebiasaan Joko Widodo berlanjut di Hamburg, Jerman, ketika menghadiri KTT G-20, dia sempat membuat video blog dengan Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull.

Selain tidak sesuai kaidah jurnalistik, media sosial juga menembus ruang pribadi, dan belum ada etika serta regulasinya tentang ini. Keberadaannya adalah fakta sosial, tapi jika bermasalah barulah dikenakan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) apabila ada unsur pidananya.

Media sosial menjadi aneh karena tidak diterbitkan seperti media cetak, tidak disiarkan seperti media elektronik (radio dan televisi), akan tetapi diposting dan di-display sesuai format visual dari masing-masing jenis media sosial yang dipilih.

Kehadiran media sosial sangat fenomenal dan revolusioner mengubah gaya hidup masyarakat dunia. Konon, juga dikeluhkan ibu-ibu rumah tangga, karena mengganggu quality time suatu keluarga.

Media sosial melahirkan orang kaya baru

Sebut saja Mark Zuckerberg pendiri Facebook, Jack Dorsey pendiri Twitter, Larry Page dan Sergey Brin pendiri Google.

Gaya hidup baru yakni bergunjing dan berkeluh kesah lewat media sosial yang bukan saja dari rakyat biasa, tapi juga Presiden. Yang pasti, perilaku masyarakat ada yang etis tapi lebih banyak yang tidak etis atau di luar kepatutan. Ketika Pilkada DKI Jakarta kita melihat pendukung Ahok (Ahokers) dengan pasukan cyber media-nya “menggertak” (bully) Habib Rizieq  dan ulama-ulama yang anti Ahok. Di lain sisi, cyber Muslim juga mendegradasi keberadaan Ahok. Tidak heran, jika masing-masing kandidat kepala daerah dan kepala negara menyatakan wajib untuk memiliki tim cyber, khususnya media sosial.

Kategorinya dalam ilmu komunikasi politik adalah propaganda, agitasi, provokasi untuk mendiskreditkan musuh politik atau kampanye negatif. Bahkan kita amati terjerumus pada kampanye hitam. Secara spesifik, bagian dari opini publik yang bersifat sensasional dan insinuatif.

Kunci dari media sosial yang merupakan bagian dari media digital adalah kecepatan dan bisa diterima seketika, serta bersifat masif.

Kreativitas dalam media digital bersifat unlimited (audio visual) melalui internet, jadi relatif murah dibandingkan zaman dahulu dengan menggunakan satelit, bersifat seketika (simultan), feedback langsung, dapat diartikulasikan secara masif (jutaan orang sekaligus).

Dapat dikatakan, media sosial adalah media yang paling efektif dan efisien saat ini, karena Facebook sudah menawarkan audience untuk disasar berdasarkan geografi (wilayah), demografi (usia, pekerjaan, dan jenis kelamin), sehingga marketing online semakin efektif dan efisien.

Tidak heran kekayaan para pendiri (di masing-masing jenis media sosial) membumbung tinggi dan menempatkan mereka pada posisi oang-orang terkaya dunia dengan waktu relatif lebih cepat dari jenis usaha lainnya.

Media sosial mampu mempopulerkan seseorang, baik ketokohannya, gagasannya, serta karya-karyanya secara masif. Jika direkayasa, diviralkan dengan sistem pelontar atau beli “teman atau followers” yang saat ini tersedia, seperti layanan iklan di Facebook. Jelas, media sosial adalah media raksasa saat ini, khususnya dalam jumlah audience-nya. Namun harus tahu kiat agar efisien dan efektif sesuai target segmen yang dituju.

Media sosial adalah revolusi media, tapi bukan tergolong media massa dan bukan media jurnalistik, sehingga dinamakan “medsos” (media sosial).

Media sosial telah menjadi sumber informasi dominan walaupun perlu dikonfirmasi ulang untuk akurasinya karena banyak yang bersifat hoax (berita bohong). Namun secara sosial sudah menjadi realita secara kolektif untuk penilaian normatif terhadap peristiwa yang terjadi.

Dikatakan, media massa jika memenuhi unsur: publisitas (disebarluaskan kepada khalayak), unversalitas (pasar bersifat umum), periodisitas (pesan tetap/berkala), kontinuitas (berkesinambungan), dan aktualitas (hal-hal baru). Media sosial tidak tergolong media massa, tapi jumlah massa media tertentu sudah melebihi audience TV atau media massa terkuat sekalipun.

Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)

Tren media mainstream pasca reformasi harus dapat menciptakan jurnalisme khalayak atau istilah populernya, citizen journalism. Lahir dari konsep efisiensi jurnalistik tentang armada di setiap daerah liputan. Media kuat secara ekonomi bisa merekrut reporter di semua wilayah, tapi bagi media yang terbatas ekonominya harus berpikir memperoleh berita tanpa berbayar, memanfaatkan kecanggihan medium digital atau internet.

Ketimpangan akses agar tetap terlibatnya warga dalam diskursus publik maka media merekrut reporter dengan skema “jurnalisme warga”. Kegelisahan masyarakat untuk melaporkan fakta atau merespon peristiwa di daerahnya untuk berbagai kepentingan. Menghidupkan pola jurnalistik warga, kegelisahan atas fakta bahwa meskipun berstatus ruang publik, media massa ternyata tidak memberikan akses memadai kepada publik untuk terlibat (berpartisipasi) berbagai diskursus publik. Media massa terjebak mengutip elite, bukan publik (rakyat) sehingga terkesan media massa tidak dekat dengan publiknya (media elitis dalam memilih narasumber).

Dalam jurnalisme warga, setiap individu dijadikan sebagai subjek dalam ruang publik, sehingga setiap warga adalah jurnalis. Tidak heran, media mainstream sekarang memiliki jurnalisme warga. Skala media online membuka ruang komentar untuk sarana diskursus publik. Hanya saja media merasa terkait kaidah jurnalistik sehingga ada batasan-batasan yang harus dipenuhi dalam konten maupun teknis memproduksi berita.

Pelanggaran etika justru banyak terjadi di media sosial. Nyaris tidak ada perkembangan sosial politik yang luput dibahas pada media sosial, dan yang berinteraksi dari semua kalangan. Namun kehadiran media sosial mendorong menguatnya jurnalisme warga. Hyperaktualitas dan interaktivitas sebagai keunggulan media sosial seringkali menabrak etika dan kepantasan sosial.

Media sosial mengharuskan individu yang terlibat, kemampuan dialog dengan diri sendiri, dan mempertimbangkan kata hati sebelum berucap di media sosial. Menimbang akibat dari kata-kata kita terhadap orang lain jauh lebih penting sebelum mengunggah (upload). Kebanyakan pelanggar UU ITE selalu mengatakan: tidak sengaja, emosi, dan khilaf.

Toleransi, untuk menenggang nasib orang lain menjadi prioritas ketimbang mengikuti naluri estetik anarkis. Media sosial memungkinkan seseorang menyembunyikan identitas diri dan bisa anonim. Sosiolog kenamaan, George Simmel mengatakan bahwa dimana ada anonimitas di situ muncul sifat yang tidak bertanggungjawab. Anonymous bagaikan “penembak jitu”, tidak diketahui siapa tapi ada korbannya.

Anonymous dan hacker adalah peradaban buruk dari media digital, orang bisa merusak dan melakukan kejahatan tanpa bisa diidentifikasi dengan menyebarkan virus-virus mematikan yang merugikan banyak orang dan lembaga besar. Para hacker dibayar mahal oleh kompetitor sehingga menjadi profesi di era digital.

Akhirnya, revolusi media massa di era digital tetap ada sisi buruknya, namun intinya, “The man behind media”, kembali pada moral dan tujuan dari penggunaan suatu media. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here