Khawatir Didikte China

Keberanian Mahathir Batalkan Proyek Senilai Rp292 Triliun

0
227
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad membatalkan dua proyek raksasa senilai Rp292 triliun yang dibiayai China. Keputusan besar dan berani itu ditempuh Mahathir demi menghindari Malaysia terjerat dalam jebakan utang China.

Nusantara.news, Jakarta – Belum genap 100 hari kepemimpinannya, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengambil keputusan besar untuk dunia investasi Malaysia. Ia membatalkan dua proyek strategis yang dibiayai dari pinjaman China sebesar US$20 miliar atau setara Rp292 triliun.

Dua proyek yang dimaksud adalah proyek East Coast Rail Link (ECRL) dan proyek pipa gas alam di Sabah. Mahathir tahu persis efek samping atau dampak dari proyek dengan pinjaman China yang amat besar tersebut, sehingga ia membatalkannya. Proyek itu sendiri digagas dan dijalankan oleh mantan PM Najib Razak yang dikalahkan dalam Pemilu Mei 2018 lalu.

Keputusan tersebut disampaikan perdana menteri berusia 93 tahun itu dalam lawatan 5 harinya di negeri tirai bambu. Ia mengatakan, proyek bakal ditunda hingga Malaysia benar-benar mampu.

Kantor perdana menteri Malaysia mengonfirmasi kebenaran pernyataan yang disampaikan Mahathir kepada awak media di Beijing tersebut, seperti dikutip Reuters.

Mahathir mulai membatalkan dan menunda proyek-proyek China di Malaysia sejak dia memperoleh kembali kepemimpinannya sebagai perdana menteri dalam pemilihan umum pada Bulan Mei lalu.

Proyek ERCL merupakan proyek inti di sektor infrastruktur di Malaysia yang dibiayai lewat pinjaman China. Pekerjaan sempat ditunda lantaran ada kajian yang menyebut biaya proyek ini terlalu mahal hingga isu korupsi yang mewarnai proyek.

Itu sebabnya Mahathir mengangggap China ikut berkontribusi dalam atas proyek yang kemahalan tersebut. Diduga terjadi mark up dalam pengerjaan proyek itu oleh mantan PM Najib, dan dana hasil mark up itu digunakan untuk biaya Pemilu Mei 2018 lalu oleh kroni Najib.

Sebelum kunjungannya ke China, Mahathir sering kali menyebut akan membahas sejumlah proyek infrastruktur yang dibiayai China dengan kesepakatan kerja sama yang dianggap ‘tidak adil’ yang disahkan oleh PM Najib.

China sendiri belum bereaksi atas keputusan besar dan berani yang diambil Mahathir. Sebab

Jebakan China

China menawarkan bantuan ke beberapa negara-negara yang tengah krisis seperti Sri Lanka, Angola, dan Turki yang baru saja dilanda krisis fiskal dan moneter. Namun, bantuan tersebut tak selalu berujung manis, seperti yang terjadi di Sri Lanka. Fenomena Sri Lanka sebagai salah satu alasan Mahathir lainnya dalam pembatalan proyek infrastruktur tersebut.

Bantuan yang diberikan China malah berujung buntung karena Sri Lanka malah harus merelakan pelabuhan dan bandara miliknya untuk dikelola China.

China diketahui membiayai proyek pelabuhan Hambantota yang terletak di pantai Selatan Sri Lanka melalui bantuan utang sebesar US$1,5 miliar. Bantuan tersebut diberikan pada tahun 2010.

Namun, pada 2017 Sri Lanka harus merelakan pelabuhan tersebut kepada China karena tidak mampu membayar utangnya. Keputusan tersebut dilakukan dengan menandatangani kontrak untuk melayani perusahaan milik negara China selama 99 tahun.

Pasalnya, kala itu Sri Lanka tercatat memiliki utang sebesar US$8 miliar kepada China. Bila dihitung, untuk membayar utang laur negeri kepada China dan negara lain akan menghabiskan 94% dari produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka.

Analis Senior di Australian Strategic Policy Institue, Malcolm Davis menilai langkah China mengambil alih pelabuhan tersebut menguntungkan. Sebab dengan begitu China bisa memiliki keuntungan untuk mengekspor barang ke India lebih mudah.

“Pelabuhan itu tidak hanya menjadi jalur yang strategis ke India bagi China, tetapi juga memberi China posisi yang menguntungkan untuk mengekspor barang-barangnya ke dalam lingkup ekonomi India, sehingga mencapai sejumlah tujuan strategis dalam hal itu,” jelasnya.

Sebagai informasi, baru-baru ini China juga menawarkan bantuan kepada Turki yang sedang mengalami krisis mata uang. Rencanannya, China akan memberikan bantuan likuiditas melalui surat utang yang akan diterbitkan oleh Turki.

Seperti diketahui China juga menawarkan bantuan kepada Turki yang saat ini tengah mengalami krisis mata uang. Namun, bantuan tersebut dianggap sebagai obat temporer karena ada efek sampingnya, yakni dominasi China.

Center for Global Development (CGD), menilai ada 8 dari 23 negara yang berpotensi mengalami kesulitan pembayaran utang ke China melalui bantuan untuk pembangunan infrastruktur Jalur Sutra. Terutama, melalui dua sumbu utama, yaitu Silk Road Economic Belt (Jalur Sutra Darat) serta 21st Century Maritime Silk Road (Jalur Sutra Laut).

Belt and Road Initiative Plan (BRIP) China berusaha menghubungkan jalur perdagangan dunia. China lewat program ini China berusaha memastikan jalur perdagangannya akan menguasai dunia.

Adapun, negara tersebut adalah Pakistan, Djibouti, Maladewa, Laos, Mongolia, Montenegro, Pakistan, dan Kyrgzstan.

Menurut CGD, dari keenam negara tersebut, Pakistan menjadi negara dengan risiko paling tinggi karena bantuan utang China membiayai 80% atau sekitar US$62 miliar dari proyek yang dikerjakan.

“Proyek besar BRI dan tingkat suku bunga yang tinggi oleh China menambah beban Pakistan dalam pembayaran utang,” tulis CGD.

Selain itu, ada pula Laos yang dianggap berisiko. Pasalnya, negara tersebut mendapatkan bantuan utang dalam proyek kereta China-Laos senilai US$6,7 miliar atau setara dengan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.

CGD juga mengingatkan bahwa bantuan China memiliki rekam jejak yang bermasalah. Tidak seperti pemberi utang pemerintahan yang lainnya. China tidak memberikan bantuan utang syarat yang mengikat pada awalnya tapi waktu jatuh tempo masalah utang pun muncul.

Itu sebabnya keputusan Mahathir sangat tepat, sebelum semuanya terlanjur, maka proyek yang dibiayai China di Malaysia senilai Rp292 triliun itu dibatalkan. Sebua keputusan yang tepat dan berani.

Akankah Indonesia mengikuti langkah Mahathir? Atau justru akan membebek kepada China?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here