Kebersamaan dalam Kebinekaan, Teladan Mahal dari Barack Obama

0
138

Nusantara.news, Jakarta –  Barack Obama, kini berada di Indonesia lagi. Ini adalah kali ketiga Obama berada di Indonesia. Pertama ketika ia masih anak-anak tinggal di kawasan Menteng. Kedua setelah menjadi Presiden Amerika. Ketiga, setelah menjadi mantan Presiden Amerika.

Obama yang di Indonesia terkenal dengan kefasihannya menyebut kata “Sate”, “Bakso” adalah sosok menarik. Mungkin tak berlebihan kalau ia disebut bak sumur yang tak pernah kering, atau bak buku yang tak pernah habis dibaca.

Betapa tidak, ayahnya tukang kawin cerai dan pemabuk, tetapi tetap dikaguminya sebagaimana ditulisnya dalam bukunya berjudul “Dreams from My Father.” Adik dan kakaknya semua tiri, tetapi semuanya dekat dengannya. Saudara-saudaranya memiliki ras yang beraneka, tetapi semua dihargai. Dia pernah berpacaran dengan gadis kulit putih, tetapi dia memilih Michelle, wanita berkulit hitam. Dia sengaja memilih Michelle sekaligus mempertegas jati dirinya sebagai kulit hitam, tetapi tidak menyudutkan kulit putih  dan meninggikan kulit hitam atau sebaliknya.

Hal lain yang menarik dari Obama adalah, bahwa dia bisa saja berlibur kemana dia suka di belahan bumi ini. Tetapi dia memilih liburan mudik ke Indonesia, seperti orang-orang Indonesia mudik ke kampung halaman saat Lebaran.

Satu hal lagi, di usianya yang masih 56 tahun,  usia emas (golden age), sesungguhnya bisa saja ia kembali berpolitik. Tetapi sampai saat ini tidak ada berita bahkan secuil gosip pun tentang keinginannya bermanuver untuk menanamkan kembali pengaruh politiknya.

Kulit Hitam yang Berbeda

Obama bukanlah kulit hitam pertama yang berniat dan kemudian masuk dalam bursa calon Presiden Amerika.

Ada beberapa kulit hitam yang pernah masuk dalam bursa calon Presiden Amerika. Pada 1972, ada anggota Shirley Chisholm. Chisholm terkenal karena menjadi wanita kulit hitam pertama yang terpilih menjadi anggota DPR Amerika tahun 1968.

April 1968, pejuang hak sipil, Dr Martin Luther King dibunuh. Orang kulit hitam marah, frustrasi, dan mengamuk di jalanan. Shirley Chisholm menjadi sangat terkenal karena dianggap menjadi pengganti Dr Martin Luther King sebagai simbol kebangkitan bangsa AS untuk pergerakan hak sipil serta menentang pemisahan rasial dan diskriminasi.

Tahun 1972, Chisholm masuk dalam bursa calon presiden. Namun dia gagal dalam persaingan dengan sesama bakal calon di tingkat partai.

Enam belas tahun kemudian, muncul Jesse Jackson yang berkampanye untuk memperebutkan nominasi Demokrat pada 1984. Dia mendulang 3,5 juta suara pada pemilihan primer partai, namun kalah bersaing dengan kandidat Demokrat lainnya. Pada 1988 dia muncul lagi, dan gagal lagi mendapat nominasi.

Jelang Pemilu 2016 lalu sesungguhnya muncul nama Benjamin Solomon Carson Sr., populer disapa Ben Carson dari Partai Republik. Ahli bedah saraf kelahiran 1951 ini, sempat memimpin bursa pencalonan Partai Republik, tetapi mengundurkan diri karena berbagal sandungan, termasuk hal-hal yang berbau rasial.

Selain Ben Carson juga muncul tokoh kulit hitam lain bernama Herman Cain juga dari Partai Republik. Cain adalah seorang pemilik restoran pizza, dan menjadi populer dengan slogan-slogan populis. Herman Cain semula dianggap sebagai contoh The American Dream, karena dia berasal dari tukang semir sepatu yang kemudian menjadi jutawan.

Cain juga gagal karena berbagai sandungan antara lain tuduhan melakukan pelecehan seksual terhadap dua wanita pada tahun 90-an, dan mengumbar slogan Islamophobia.

Barack Obama adalah hal yang berbeda. Thomas Mann, staf peneliti The Brookings Institution, Washington mengatakan, Obama mewakili dirinya sendiri sebagai sosok kandidat yang berbeda. Kampanye Obama telah menarik hati kalangan kulit putih, Latin, Asia-Amerika, selain kulit hitam sendiri. Pencalonannya juga telah menyemangati kaum muda.

Obama memang kulit hitam. Tetapi analis politik menyampaikan pandangan mereka. Profesor Larry Sabato dari University of Virginia misalnya berkata, warna kulit Obama merupakan hal yang tak bisa dihindari. Karena itu pula pencalonan Barack Obama telah mematahkan banyak hal. Dialah orang pertama dari kulit hitam yang berhasil dan diterima menjadi Presiden Amerika.

Kebersamaan dalam Kebinekaan

Obama hidup dan besar di lingkungan yang sangat beraneka. Ayahnya, Barack Obama, Sr adalah seorang kulit hitam, tetapi ibunya Ann Dunham adalah kulit putih. Ayah tirinya, Lolo Sutoro yang mengasuhnya selama berada di Indonesia adalah seorang Indonesia.

Keluarga besarnya lebih beraneka lagi. Kezia, istri pertama Barack Obama, Sr. adalah seorang kulit hitam, lahir dan besar di Nairobi, Kenya. Kezia memiliki empat sudara tiri, yakni Malik Obama, Auma Obama, Abo Obama dan Bernard Obama.

Adik tirinya dari Ann Dunham bernama Maya Kassandra Soetoro. Ayahnya adalah seorang Indonesia. Maya Kassandra Soetoro menikah dengan Konrad Ng, warga negara Kanada, tetapi orangtuanya berasal dari Sabah, Malaysia dan ia dibesarkan di Kanada.

Setelah bercerai dengan Ann Dunham, Barack Obama, Sr menikah untuk yang ketiga kalinya dengan Ruth Beatrice Baker, seorang wanita berdarah Yahudi Lituania yang pindah ke Amerika.

Adik tirinya dari Ruth Beatrice Baker bernama Mark Ndesandjo yang sekarang tinggal di China. Anak keduanya, David, meninggal dalam kecelakaan sepeda motor.

Obama masih memiliki satu adik tiri lagi, bernama George Hussein Obama. George lahir dari istri kempat Barrack Obama Sr.

George Hussein Obama yang lahir tahun 1982 dan adik tiri paling miskin. George Hussein Obama sekaligus bukti betapa Obama dihormati oleh saudara tirinya.

George Hussein Obama, pernah dihasut untuk menjelekkan Obama yang ketika itu masih menjabat Presiden Amerika dan hendak mencalonkan diri untuk periode kedua.

Tidak tanggung-tanggung, upaya menjelekkan Obama dilakukan dengan membuat sebuah film dokumenter yang digarap orang yang tidak asing lagi, yakni seorang profesional yang pernah melahirkan film Schindler’s dan Jurassic Park.

Film tersebut disetting bercerita tentang keburukan yang akan terjadi bila Obama terpilih dan menjabat sebagai presiden lagi.

Salah satu misi dari film ini adalah ingin menunjukan gambaran kontras antara Obama dengan adik tirinya George Hussein Obama.

Film ini ingin menggambarkan kenyataan bahwa Obama tinggal di Gedung Putih dengan kekuasaan dan kemewahan, sedangkan adik tirinya yang bernama George Hussein Obama, tinggal di perkampungan kumuh di Nairobi, Kenya.

Melalui film ini, tim sukses dari Partai Republik ingin mengatakan kepada publik Amerika, bahwa Obama tidak bisa mengurus negara, karena untuk mengurus keluarganya saja ia tidak mampu. Kenapa George tidak bisa hidup layak seperti keluarga presiden umumnya, sementara Obama punya segalanya dan berkuasa?” Pertanyaan inilah yang ingin disuntikkan untuk mengubah opini publik Amerika terhadap Obama.

Namun rasa saling menghormati di antara sesama saudara, walau saudara tiri, membuat rencana menjatuhkan Obama melalui George, gagal alias berjalan tidak mulus. Meskipun hanya saudara tiri, George menolak menjelek-jelekan Obama.

Penolakan itu terlontar saat DInesh D’Souza mewawancarai George dan meminta pendapatnya tentang Obama dan mengapa bisa terlibat dalam pembuatan film tersebut.

Apakah Anda merasa tidak diperhatikan oleh Obama? Dengan polos George menjawab, Obama punya keluarga sendiri yang harus diperhatikan. “Saya sudah besar dan saya bisa menolong diri saya sendiri,” kata George.

Pernyataan George membuat pewawancara tidak puas, karena ia menginginkan jawaban, Obama telah mentelantarkannya.

Tidak kehilangan akal DInesh D’Souza terus menanyai George dan mengarahkan ia untuk mengeluarkan pernyataan yang bisa menyudutkan Obama.

Obama pernah menyatakan bahwa dia adalah penjaga saudara-saudaranya dan Anda adalah saudaranya. Apakah Anda termasuk yang dijaga Obama?

George menjawab, “Tanyakan saja kepada yang bersangkutan. Dia punya banyak masalah yang harus diselesaikan.”

Tak mau menyerah begitu saja, karena film itu dianggap sebagai salah satu serangan yang bisa menjatuhkan Obama.

Ditanya lagi, Obama mengurus dunia tapi tidak mengurus keluarga (George dan saudara-saudaranya).

Pertanyaan ini dijawab George dengan mengatakan, “Dia (Obama) mengurus dunia dan tentu saja mengurus saya karena saya bagian dari dunia.”

George memang bukan dari keluarga kaya, hidupnya sederhana. Tetapi dia pernah menulis buku berjudul “Homeland” yang sempat popular di Kenya. Ia memang pernah memiliki masa lalu buruk dan sempat menjadi pecandu narkoba, namun akhirnya ia sadar dan memilih jalan hidupnya untuk membantu kaum miskin agar keluar dari kemiskinan, terutama anak-anak dengan mengajarkan bagaimana menghadapi tantangan hidup.

“Kakak saya telah menjadi pemimpin di negeri paling berpengaruh di dunia ini. Di sini, di Kenya, nasib saya menjadi seorang pemimpin di antara orang-orang paling miskin di Bumi, mereka yang tinggal di perkampungan kumuh,” tulis George dalam bukunya.

Kebersamaan dalam kebinekaan, menjadi prinsip hidup Obama. Itu yang membuatnya dihormati oleh saudara tirinya, itu pula yang tampaknya yang membuat Obama diterima oleh kulit putih Amerika.

Ayahnya adalah lulusan Harvard University dan mantan pejabat tinggi di Kenya. Tetapi ayahnya juga adalah tukang kawin, tukang cerai, tukang mabuk, dan saat mabuk suka memukuli istri Yahudinya. Obama sendiri hanya beberapa kali saja bertemu dengannya. Walau demikian, Obama tetap menghormati ayah kulit hitamnya dengan mempersembahkan buku yang ditulisnya berjudul “Dreams from My Father.” Sementara untuk ibu dan neneknya yang kulit putih ia menulis buku berjudul “The Audasity of Hope”

Kebersamaan dalam kebinekaan juga tercermin kuat dalam pidato Obama saat dilantik menjadi Presiden Amerika periode pertama.

Antara lain dikatakan, “Kita memegang kebenaran ini untuk menjadi bukti, bahwa semua orang diciptakan setara, bahwa mereka diberi oleh Pencipta hak-hak tertentu yang tidak terpisahkan, di antaranya adalah Kehidupan, Kebebasan dan mengejar Kebahagiaan.”

Di bagian lain Obama mengatakan,  “Melalui cucuran darah karena cambukan dan cucuran darah karena pedang, kita tahu bahwa tidak ada persatuan yang didirikan atas dasar prinsip kebebasan dan kesetaraan dapat bertahan dengan setengah-budak dan setengah bebas. Kita menjadikan diri kita baru, dan bertekad untuk bergerak ke depan bersama-sama. Bersama-sama, kita memastikan bahwa ekonomi modern memerlukan rel kereta-api dan jalan bebas hambatan untuk mempercepat perjalanan dan perdagangan; sekolah dan perguruan tinggi untuk melatih para pekerja kita. Bersama-sama, kita mendapati bahwa pasar bebas hanya bisa berkembang bila ada peraturan-peraturan untuk menjamin persaingan dan aturan main yang adil.”

Obama berkata lagi, “Karena kita, rakyat Amerika, memahami bahwa negara kita tidak bisa berhasil apabila ada segelintir orang sangat berhasil dan semakin banyak yang tidak mampu. Kita yakin bahwa kemakmuran Amerika harus bergantung pada kekuatan kelas menengah yang terus meningkat. Kita tahu bahwa Amerika akan maju pesat apabila setiap orang dapat menemukan kemandirian dan bangga akan pekerjaan mereka, apabila upah pekerja yang jujur membebaskan keluarga dari ambang kesukaran. Kita benar-benar patuh pada keyakinan kita apabila seorang anak perempuan yang lahir dalam kemiskinan yang parah tahu bahwa ia memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil seperti yang lainnya, karena ia adalah warga Amerika, ia hidup dalam kebebasan, dan ia setara, bukan hanya di mata Tuhan tetapi juga di mata kita.”

Kebersamaan dalam kebinekaan itu pula yang tampaknya membuat Obama bisa terpilih menjadi Presiden Amerika selama dua periode. Itu pula yang membuatnya tidak pernah dihinggapi isu rasis.

Prinsip kebersamaan itu pula yang diyakini yang membuat Obama ramah, akrab dan hangat saat santap siang bersama Presiden Jokowi di Grand Garden Cafe Bogor (dulu bernama Cafe Dedaunan berlokasi di dalam Kebun raya Bogor), Jumat (30/6/2017). Bukan hanya ramah kepada Jokowi, tetapi juga kepada pelayan Grand Garden Cafe Bogor. “Saya suka, baksonya enak, es kelapanya juga enak. Terima kasih,” ujar Nunung, kasir Grand Garden Cafe Bogor, menirukan ucapan Obama. Kebersamaan dalam kebiekaan, menjadi teladan mahal dari seorang Barack Obama.[]

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here