Trump Effect (2)

Kebijakan Imigrasi 7 Negara Islam “Ngawur”

0
530
Ilustrasi foto: Daily Express

Nusantara.news – Executive Order (Perintah Eksekutif) mengenai “Muslim Ban” (Larangan Muslim) memperoleh penolakan besar, baik di internal publik Amerika Serikat (AS) maupun di luar AS, karena bersifat sangat rasis. Presiden AS Donald Trump melarang warga dari 7 negara mayoritas Muslim memasuki AS dalam jangka waktu 90 hari. Trump mengatakan bahwa ini pemeriksaan ekstrim untuk mencegah teroris Islam radikal dari luar AS. Tujuh negara yang dimaksud adalah: Suriah, Irak, Iran, Sudan, Libia, Somalia, dan Yaman.

“Muslim Ban” akhirnya ditetapkan pengadilan sebagai kebijakan ilegal karena bertentangan dengan Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan Tahun 1965, dimana dikatakan bahwa dilarang semua diskriminasi terhadap imigran atas dasar kebangsaan. Lebih fatal lagi, dianggap melanggar Undang-Undang Amerika Amandemen Pertama mengenai kebebasan beragama.

Trump rasisme puritan

Akhirnya dengan kebijakan Muslim Ban yang membenci Islam, Trump juga memilih bertemu Perdana Menteri Inggris, Theresa May dengan kebijakan Brexit-nya. Kemudian berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hal ini menjelaskan bahwa posisi Donald Trump dalam konspirasi Yahudi dunia. Populisme hanya menjadi alat kampanye untuk pemenangan Pilpres.

Dipilihnya Steven Mnuchin, mantan eksekutif Goldman Sachs, sebagai Menteri Keuangan; mantunya, Jared Kushner yang Yahudi Ortodoks sebagai Staf Khusus;  Rex Tillerson, mantan CEO ExxonMobil  sebagai Menteri Luar Negeri, memperjelas bahwa Trump merupakan bagian dari konspirasi Yahudi dunia. Inggris dengan Brexit-nya, yang keluar dari Uni Eropa karena salah satu alasan mendasar, yaitu  Jerman yang mendapat manfaat besar atas keberadaan Uni Eropa. Kita mengetahui sentimen Yahudi terhadap bangsa Arya (Jerman) dengan Hitler sebagai pembasmi bangsa Yahudi pada abad yang lalu, menjadi catatan hitam bagi Inggris untuk berada di Uni Eropa.

Trump dengan kebenciannya terhadap Islam, setelah ‘Arab Springs’ meninggalkan negara-negara Sunni yang porak-poranda, dan Wahabi (Arab Saudi) yang sedang krisis ekonomi karena fluktuasi harga migas dunia. Hanya Syiah yang menjadi perhatian utama Trump dan Yahudi, sehingga sekarang dipersoalkan uji coba rudal balistik pada awal Februari 2017 yang lalu. Pada masa kampanye, Trump menganggap kesepakatan nuklir tersebut sebagai kesalahan sejarah yang harus dirobek, dan sekarang dievaluasi sehingga hubungan dengan Iran memanas.

Bersama Benjamin Netanyahu, Trump mengajak Perdana Menteri Inggris, Theresa May untuk kembali memperpanjang sanksi pengaturan batasan yang jelas untuk Iran. Jelas Rusia dan Cina akan menolak kebijakan ini, karena membatalkan kesepakatan nuklir akan menyebabkan ketegangan baru di Timur Tengah, demikian menurut Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov. Jelas bagi Trump, ancaman Islam utama saat ini bukan lagi Islam Sunni yang sudah porak-poranda, melainkan Syiah (Iran). Islam di Timur Tengah dihancurkan karena potensi aset migas yang dimiliki. Oleh karena itu AS dan sekutunya tidak pernah membiarkan pemerintahan yang kuat di kawasan ini.

Kebijakan tentang Palestina

Secara garis besar, pernyataan Trump yang seolah tidak lagi mendukung kemerdekaan Palestina yang merupakan kebijakan Obama, sangat mengejutkan.

“Menerima apapun keputusan perundingan kedua negara, dan diharapkan ada kompromi di kedua sisi,” ujar Trump. Presiden Trump menyambut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dengan karpet merah, artinya bendera Palestina merdeka diturunkan, dan diganti dengan bendera Israel.

Sebagian pengamat menganggap hal ini terus memperbesar citra buruk AS dalam diplomasi internasional. Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengingatkan AS yang meninggalkan gagasan negara Palestina Merdeka dengan jawaban “tidak ada pilihan lain, harus menerima!!”

Sikap Trump membela Israel atas Palestina, memperlihatkan kebijakan geostrategis AS yang anti-Islam, karena dianggap memproduksi radikalisme dunia.

Apakah karena stok migas AS dan Shale Gas yang ditemukan, membuat AS menganggap Timur Tengah bukan lagi sebagai wilayah strategis, sehingga tidak peduli akan kegaduhan yang bakal terjadi, dengan menekan Iran, dan mementahkan kemerdekaan Palestina sebagai negara, yang tentu akan menghidupkan kembali ekstremis Islam di kawasan tersebut. Atau ini yang dimaksud dengan American First, masa bodo amat dengan negara lain? Kepentingan AS selalu berkoalisi dengan kepentingan Yahudi.

Trump terlalu cepat dan sangat emosional

Donald Trump adalah donatur tetap pemukiman Yahudi Beit El, dekat Ramallah. Pemukim tersebut sangat senang ketika Trump dilantik menjadi Presiden AS. Pemukiman ini mulai dibangun di wilayah Palestina pada tahun 1977. Trump juga akrab dengan David Friedman (tokoh “Sayap Kanan”) yang dijadikan Duta Besar AS untuk Israel.

Sebagai Presiden negara terbesar dunia, Trump dinilai terlalu cepat dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Mulai dari pembatalan Obama Care, tembok Meksiko, Muslim ban, menarik diri dari TPP/Trans Pacific Partnership (kemitraan perdagangan AS dengan 12 negara lain di kawasan Asia Pasifik), sampai 12 Executive Order Trump. Kebijakan-kebijakan Trump tersebut, dari hasil polling-polling di AS, dinilai terlalu cepat dan gegabah.

Pengungsi Suriah memang menjadi kekhawatiran bagi pencari kerja di AS karena mengganggu pengangguran di AS. Mereka pasti menjadi pekerja imigran di sektor informal.

Dengan alasan terorisme, tentu 43% rakyat AS mendukung kebijakan tersebut, dan 57% menolak karena dianggap rasis, serta melanggar HAM (Hak Azasi Manusia). Memang yang menyetujui adalah rakyat AS dari partai Republik. Namun lain dengan rakyat partai Demokrat, bahkan politikus gaek Bernie Sanders menyerang Trump sebagai “pembohong patologis”. Bernie Sanders, adalah calon presiden dari Partai Demokrat yang kalah dari Hillary Clinton. Bahkan Al Franken, rekan senator partai Demokrat berpikir bahwa Trump sakit mental. Hal ini dikhawatirkan berdampak buruk bagi AS.

Sikap Trump yang menyerang sistem hukum AS yang dituduh rusak karena telah membatalkan perintah eksekutif “Muslim ban”.

“Sistem hukum kami rusak, 77% pengungsi Suriah telah masuk AS karena kebijaksanaan ditangguhkan. Ini berbahaya”, ujarnya.

Trump lalu mempertimbangkan larangan baru dengan perintah eksekutif baru agar AS aman dari terorisme. Benarkan seperti itu? Atau justru sebaliknya? Dengan sikap rasis Trump justru akan membuat rasa tidak adil bagi umat Muslim dunia, dan teroris kembali mengarahkan “Thogut” kepada AS, dan kepentingannya sebagai target terorisme karena akarnya juga dari konspirasi Yahudi. ISIS disemai setelah Osama bin Laden dihabisi oleh Arab Springs (Pemberontakan Arab).

Setelah kebijakan tentang Palestina akan memicu persoalan baru, apalagi Iran telah ditekan dan diincar oleh AS dan Israel sebagai seteru baru di Timur Tengah, menambah ruwet dan dalamnya sengketa yang terjadi di kawasan panas ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here