Kebijakan Trump Memicu Rasisme?

0
187
sumber: Getty Images

Nusantara.news, Jakarta – Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pekan terakhir ini telah memicu kekhawatiran akan maraknya aksi kekerasan berlatar belakang rasisme, baik di kota-kota di AS maupun di sejumlah negara. Terutama kebijakannya soal pelarangan masuknya imigran dari 7 negara mayoritas muslim.

Apakah fenomena Trump yang kemenangannya disebut-sebut pertanda kebangkitan populisme dan nasionalisme di AS, sudah cenderung memicu perilaku rasis, sebagaimana dikhawatirkan banyak kalangan sejak awal?

Yang jelas, warga Amerika dan dunia sudah merasakan dampak dari kebijakan Trump yang cenderung rasis dan anti-imigran, terutama terkait perintah eksekutif presiden AS itu mengenai pelarangan imigran dari 7 negara Timur Tengah dan Afrika. Warga AS yang merasa haknya dilanggar sudah melakukan protes. Lembaga dunia untuk urusan pengungsi dan imigran UNHCR juga sudah mengingatkan kekeliruan presiden Trump.

Di belahan dunia lain, dampak kebijakan Trump malah sudah memicu kekerasan fisik yang memakan korban jiwa. Enam orang muslim meninggal dunia dan beberapa lainnya luka-luka saat salat Isya akibat penembakan brutal yang dilakukan dua orang di Masjid kota Quebec Kanada.

Otoritas Kanada mengumumkan, penembakan yang terjadi Sabtu (28/1) malam atau sehari setelah perintah pelarangan masuknya imigran dari 7 negara ke AS, dipicu pernyataan PM Kanada Justin Trudeau akan menampung pengungsi muslim yang ditolak AS. Kanada memang dikenal terbuka terhadap pengugsi imigran. Tapi tidak untuk wilayah Quebec, yang mayoritas penduduknya keturunan Prancis.

Alexandre Bissonnette (27), pelaku penembakan yang ditangkap dikenal oleh rekan-rekannya sebagai pengagum gerakan ekstrim kanan yang anti-imigran. Dia mahasiswa Kanada keturunan Prancis. Di kalangan pengguna dunia maya dia sebagai pendukung politisi ekstrim kanan Prancis Marine Le Pen, yang saat ini digadang-gadang sebagai capres di Prancis. Le Pen dianggap sebagai tokoh populis di Prancis saat ini.

Di laman Facebooknya, Bissonette mengatakan mengagumi Marine Le Pen, Presiden Donald Trump, kelompok separatis Parti Quebecois dan juga Partai Demokrat Baru Kanada yang berhaluan kiri, Angkatan Bersenjata Israel, Megadeth dan Katy Perry.

“Saya menganggap dia sebagai antipendatang. Saya tidak memandang dia benar-benar rasis, tetapi dia terbawa dengan gerakan yang mengarah nasionalis rasis,” kata Vincent Boissoneault, teman pelaku di Universitas Laval, sebagaimana dilansir CNN.

Ancaman Teror

Sementara itu, para kritikus Presiden Trump mengatakan, apa yang dilakukan presiden AS ke-45, melarang masuknya imigran dari negara tertentu dengan alasan mencegah terorisme, justru malah membuka ruang bagi meningkatnya kekerasan dan teror di AS.

Trump dianggap, bukannya sedang memerangi terorisme, tapi malah mengundang terorisme ke AS.

Kenyataannya, dalam 15 tahun terakhir kota-kota di AS menjadi kota yang paling sulit ditembus para teroris, karena memang para penegak hukum lokal di sana sudah mengadopsi sistem pengamanan yang ketat dengan melakukan pemantauan terhadap masyarakat AS yang beragam.

Pengamat kontraterorisme Brian Jenkins dari RAND Corporation menunjukkan sebuah studi tentang serangan teror 9/11 yang menyimpulkan, bahaya justru tidak datang dari para pengungsi, tetapi justru dari warga AS sendiri yang terinspirasi.

Jenkins menghitung, 89 orang Amerika tewas dalam tujuh serangan teroris sejak peristiwa 9/11. Ini termasuk penembakan di LAX pada 2002, pembunuhan seorang perwira Angkatan Darat di Little Rock 2009, penembakan Nidal Hasan di Ft. Hood 2009, pemboman Boston Marathon 2013, penembakan Chattanooga 2015, serangan San Bernardino 2015, dan serangan Orlando 2016.

Melihat serangan-serangan mematikan itu, penting untuk memahami bahwa “sebagian besar pelaku adalah warga negara AS,” tulis Jenkins. “Tidak ada yang berasal dari negara-negara luar, termasuk dari negara yang dilarang Trump,” katanya. Menurut Jenkins, para teroris itu diproduksi di dalam negeri AS sendiri.

Richard Barrett, mantan kepala M16 Inggris juga mengatakan kepada BBC, kebijakan Trump adalah anugerah bagi mereka yang ingin menginspirasi teror di Barat.

Sementara Senator Partai Republik John McCain dan Lindsey Graham menyebutnya sebagai “luka yang ditimbulkan sendiri dalam memerangi terorisme.”

Artinya, kebijakan Trump soal deportasi imigran ilegal dan pelarangan warga 7 negara mayoritas muslim AS, akan membuat sekitar 11 juta lebih orang yang kehilangan masa depannya di AS. Bukan berarti orang-orang ini akan meninggalkan AS, tetapi mereka akan masuk dalam perangkap kejahatan terorganisir yang menjanjikan cara untuk bertahan hidup di negeri Paman Sam itu, termasuk untuk melakukan tindakan terorisme sebagai sikap balas dendam.

Bagi orang Amerika, salah satu yang membuat kota-kota di AS tetap aman adalah gagasan American Dream, yang didasarkan pada keyakinan bahwa dunia yang lebih baik dapat dibangun di tanah kebebasan, dan terikat pada penghormatan dasar bagi martabat manusia martabat. Itulah yang telah membuat Amerika menjadi besar. Tapi Presiden Trump kini dianggap telah  menghancurkan gagasan-gagasan itu setiap hari.

Apakah pemerintahan Trump, yang presiden populis itu, perlahan-lahan sudah cenderung bersikap rasis atau fasis? Tentu belum dapat disimpulkan sekarang.

Tapi Griffin (1991) dalam buku ‘The Nature of Fascism’ sudah mengingatkan bahwa fasisme tidak jauh dari tiga karakter dasar, yaitu cita-citanya untuk mencapai kembali kejayaan nasional, instrumen politik penguasanya cenderung populis, serta nasionalismenya yang berlebihan dan salah arah. [ ]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here