Kecelakaan Tak Digubris, Setnov Dinyatakan Resmi Buronan KPK

0
1649
Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunandi menunjukkan foto Setya Novanto yang sedang dirawat di RS Medika Permata Hijau, Jakarta, Kamis (16/11). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama/17

Nusantara.news, Jakarta – Berita kecelakaan Setyo Novanto yang dikabarkan menabrak tiang listrik di kawasan Kebon Jeruk justru menuai bahan candaan di media sosial. “SN dipanggil KPK, tiang listrik menyerahkan diri untuk diperiksa,” tulis Mila Nuh di akun Facebook miliknya.

Kendati pengacaranya berusaha meyakinkan wartawan dengan menyodorkan gambar Setyo Novanto yang kepalanya diperban, namun kebanyakan masyarakat menanggapi dengan senyuman saja. Bahkan ada yang menduga Setyo Novanto mengikuti gaya sintron, sudah itu gegar otak, kena amnesia. Lagu lama. Tulis seseorang di Facebook.

Untuk memastikan berita itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengirimkan tim penyidiknya ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Kamis (16/11) sekitar pukul 19.00. Di rumah sakit itu Tim KPK sempat bertemu Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham. Mengutip pengakuan Idrus, mereka sempat bersalaman dan berbincang-bincang.

Namun Idrus enggan mengungkap secara rinci apa yang dibicarakan dengan penyidik KPK. Idrus hanya mengatakan kepada penyidik KPK tentang posisinya sebagai Sekjen Partai Golkar. Sebaliknya penyidik itu juga menyampaikan maksud kedatangannya. Idrus pun mengaku menghargai kedatangan penyidik KPK untuk melaksanakan tugasnya.

Di tempat terpisah KPK menetapkan Setyo Novanto masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Dengan demikian, jelas Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Setyo Novanto secara resmi berstatus buronan alias orang yang sedang dicari atas pengusutan suatu perkara pidana.

Keputusan itu diambil oleh para pimpinan KPK, terang Febri, sebab Novanto tak kunjung menghadiri pemeriksaan hingga Kamis (16/11/2017) malam setelah kembali ditetapkan tersangka. Surat pencantuman nama Novanto dalam DPO pun telah diserahkan ke Mabes Polri dan Interpol.

Febri juga menerangkan bahwa penetapan DPO merupakan satu diantara kewenangan KPK sebagaimana tercantum dalam pasal 12 ayat 1 huruf H dan I UU KPK. Selain itu, KPK juga bisa meminta bantuan kepolisian untuk melakukan proses pencarian dan tindakan-tindakan hukum yang lain.

“Perlu kami sampaikan bahwa sejak kemarin tim KPK mendatangi rumah tersangka SN di jalan Wijaya, walaupun belum bisa menemukan yang bersangkutan, tim terus melakukan proses pencarian karena surat perintah penangkapan sudah dikeluarkan kemarin dan tentu saja itu harus dilaksanakan,” ucapnya.

Tidak Kooperatif

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, KPK kembali menetapkan Novanto sebagai tersangka pada Jumat (10/11/2017).  Sebelumnya pada Juli 2017 Setyo Novanto sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Namun dia lolos dari status tersangka dalam penetapan sebelumnya setelah memenangi gugatan praperadilan terhadap KPK.

Karena yang sudah-sudah Setyo Novanto dianggap tidak kooperatif setiap mendapat panggilan oleh KPK, bahkan pengacaranya bermanuver melaporkan dugaan tindak pidana pimpinan KPK dan masyarakat yang dianggap menyerang pribadi Novanto, maka Rabu (15/11) kemarin lusa penyidik berupaya menjemput paksa. Upaya itu gagal karena Novanto tidak ada di rumah.

Ada banyak alasan yang disampaikan Novanto atau pengacaranya. Bahkan Rabu siang kemarin lusa sebelum rumahnya didatangi penyidik KPK, Setyo Novanto mangkir dari pemeriksaan KPK. Sepanjang siang itu Novanto diketahui memimpin Rapat Paripurna DPR. Kala itu pengacaranya beralasan, Novanto tak hadir karena sedang mengajukan uji materi terhadap Undang-Undang KPK.

Setelah 5 jam mencari Novanto di rumahnya Jl Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tidak ketemu, KPK memberikan ultimatum dalam waktu 1 x 24 jam apabila Setyo Novanto tidak menghadiri pemeriksaan oleh KPK maka akan dinyatakan masuk dalam DPO.

Menanggapi ultimatum itu, Setyo Novanto sebagaimana diungkapkan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham menyatakan akan menghadiri pemeriksaan KPK. “Bukan menyerahkan diri ya. Tapi menghadiri pemeriksaan oleh KPK,”ucap Idrus Marham, Kamis (16/11) siang kepada wartawan.

Kamis (16/11) malam itu, hampir semua Ketua DPD I Partai Golkar se-Indonesia sudah berkumpul di Hotel Mandarin, Jakarta Pusat. Rencananya, sebelum mendatangi gedung KPK, Ketua Umum Partai Golkar akan mampir terlebih dulu ke Hotel Mandarin, menemui Ketua-Ketua DPD I Partai Golkar yang sudah menunggu di sana.

Karena Setyo Novanto urung hadir, pertemuan tetap dilanjutkan di Lantai II Hotel Mandarin dalam pertemuan tertutup. Selain para Ketua DPD I, pertemuan juga dihadiri Sekjen Partai Golkar Idrus Marham yang didampingi Ketua DPP Partai Golkar Yahya Zaini.

Dikabarkan mobil Fortuner yang membawa Setyo Novanto yang rencananya akan menghadiri pemeriksaan KPK menabrak tiang listrik di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Lokasi kecelakaan, ungkap Fredrich Yunadi, pengacaranya, tidak jauh dari RS Medika Permata Hijau tempat Novanto dirawat. “Mobilnya hancur cur,”sebut Fredrich Yunadi, pengacaranya.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengaku belum menentukan apakah akan menunjuk rumah sakit (RS) tertentu untuk merawat Setyo Novanto agar proses pemeriksaannya sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi e-KTP bisa lebih mudah dilakukan.

Toh demikian Febri memastikan kecelakaan yang dialami Novanto tidak akan memengaruhi proses penyidikan kasus e-KTP. “Kami harap apa yang terjadi malam ini tidak menghambat proses penanganan itu. Bahwa ada kondisi yang tidak dikehendaki tentu saja perlu dihitung lebih lanjut,” tandas Febri.

Ketegasan KPK memang sangat dinantikan oleh masyarakat. Sebab, sebesar apa pun dukungan masyarakat kepada KPK tentu ada batasnya. Selain menindak Setnov, KPK perlu juga membidik terduga pelaku lainnya. Biar masyarakat bertambah Cinta kepada KPK.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here