Kedatangan Trump Peruncing Permusuhan Saudi-Iran

0
154

Nusantara.news Kedatangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump seminggu lalu ke Timur Tengah meninggalkan ekses terhadap hubungan Arab Saudi dan Iran. Trump semakin memperuncing permusuhan antara Saudi dan Iran, dimana presiden AS itu telah menyerukan pemimpin negara-negara Muslim Sunni, termasuk Arab Saudi untuk menekan Iran. Trump meyalahkan Iran sebagai “biang keladi” terorisme di kawasan Timur Tengah.

Sikap Saudi dan AS itu tentu saja mendapat respon sangat keras dari Iran. Sebagaimana dilansir Reuters (28/5) Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada Sabtu (27/5) bahwa penguasa Arab Saudi akan menghadapi “kejatuhan” karena menyelaraskan diri dengan AS.

Sikap keras Khamenei ini keluar hanya beberapa jam setelah presiden Iran terpilih, Hassan Rouhani, yang bersikap lebih pragmatis, meminta agar Iran memperbaiki hubungan dengan negara-negara Teluk.

“Mereka (pemimpin Saudi) bersikap baik terhadap musuh-musuh Islam sambil memusuhi orang-orang Muslim Bahrain dan Yaman,” kata Khamenei dalam sebuah pertemuan keagamaan, sebagaimana dinyatakan dalam akun Twitter-nya.

“Mereka akan menghadapi kejatuhan,” demikian kata Khamenei dalam sebuah acara Tilawah al-Quran  menyambut bulan puasa Ramadhan di Iran.

Iran dan negara-negara Teluk Arab lainnya memang mendukung pihak-pihak “pemberontak” dalam perang di Suriah dan Yaman serta kerusuhan di Bahrain. Hubungan Saudi-Iran semakin menunjukkan permusuhan setelah pekan lalu ketika Presiden AS Donald Trump mengunjungi Arab Saudi dan menuduh Teheran mendukung terorisme di Timur Tengah.

Sementara Iran membantah tuduhan tersebut dan justru mengatakan sebaliknya bahwa Arab Saudi, musuh utamanya, adalah sumber pendanaan untuk para militan Islam.

Presiden Iran Hassan Rouhani, seorang pragmatis beraliran moderat, tapi memiliki kekuasaan lebih rendah ketimbang Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, sebelumnya menyerukan perbaikan hubungan dengan negara-negara Teluk Arab dalam sebuah pembicaraan telepon dengan emir Qatar. Qatar mendapat kecaman dari para tetangganya di Teluk atas hubungannya dengan Teheran tersebut.

“Kami ingin aturan moderasi dan rasionalitas dalam hubungan antar-negara dan kami percaya bahwa solusi politik harus menjadi prioritas,” demikian tulis kantor berita negara IRNA mengutip Rouhani yang mengatakan kepada Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani.

“Negara-negara di kawasan ini membutuhkan lebih banyak kerja sama dan konsultasi untuk menyelesaikan krisis di Kawasan, dan kami siap untuk bekerja sama di bidang ini,” kata Rouhani kepada Sheikh Tamim, IRNA menambahkan.

Rouhani sebelumnya juga menanggapi tudingan Trump terhadap Iran dengan mengatakan bahwa stabilitas di Timur Tengah tidak dapat dicapai tanpa bantuan Iran.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyatakan kesal setelah media resmi Qatar menerbitkan pernyataan, yang konon telah dibuat oleh Sheikh Tamim, yang mengkritik kebijakan luar negeri Trump yang menciptakan ketegangan baru dengan Teheran.

Otoritas Qatar sendiri mengatakan bahwa penyataan tersebut, yang dipublikasikan pada Selasa malam yang lalu, adalah palsu. Mereka mengklaim kantor berita mereka telah diretas.

Permusuhan Saudi dan Iran telah berlangsung puluhan tahun, kedua negara dipenuhi rasa saling curiga, antara lain karena tindakan Saudi yang menutup tempat-tempat ziarah kaum Syiah di Mekkah dan Madinah. Perseteruan yang awalnya berbasis agama berubah menjadi politis seiring eskalasi konflik di Timur Tengah dan Revolusi Islam tahun 1979.

Ada sejumlah alasan kenapa Saudi dan Iran bermusuhan hingga sekarang. Pertama, masalah Agama, masing-masing negara merasa sebagai pemangku agama Islam dalam versi masing-masing, Saudi Sunni dan Iran Syiah. Perpecahan bermula dari pertikaian yang terjadi tak lama setelah Nabi wafat. Polemik berawal dari masalah siapa yang seharusnya memimpin umat Muslim.

Saudi adalah negara dimana terdapat dua tempat paling suci dalam Islam, Mekkah dan Madinah, sehingga menyatakan diri sebagai pemimpin Islam Sunni dunia.

Sementara Iran memiliki penduduk Syiah terbesar di dunia dan sejak revolusi Iran tahun 1979 menjadi pemimpin Syiah di dunia.

Kedua, secara geopolitk. Keduanya bersaing untuk memengaruhi negara-negara tetangganya. Ada kecurigaan Saudi, bahwa Iran secara aktif memberi pengaruh terhadap kelompok minoritas Syiah di Arab Saudi, selain juga di Bahrain, Irak, Suriah, dan Lebanon.

Program nuklir Iran, dan kemungkinan suatu hari negara itu memiliki senjata nuklir, juga membuat Arab Saudi Khawatir.

Ketiga, Ideologi politik. Arab Saudi dikuasai seorang raja dengan bentuk pemerintahan Islam konservatif. Sementara, Iran memiliki bentuk pemerintahan Islam yang lebih revolusioner dan pemimpin revolusi tahun 1979,  Ayatollah Khomeini, memandang monarki tidak sesuai dengan Islam.

Iran juga sangat mendukung usaha Palestina menentang Israel dan menuduh negara-negara seperti Arab Saudi tidak memperhatikan nasib warga Palestina, malah justru mewakili kepentingan Barat.

Sejak tahun 1979, hubungan Iran dengan Barat menegang dan Barat menerapkan sanksi ekonomi selama bertahun-tahun terhadap Iran dengan tudingan kepemilikan senjata nuklir. Sementara Saudi memiliki hubungan erat dengan barat terutama AS.

Keempat, konflik Suriah. Sebagaimana Rusia, Iran merupakan pendukung setia Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sementara, Arab Saudi sebagai pendukung dan penyandang dana kelompok pemberontak Sunni penentang pemerintah. Saudi juga menjadi tuan rumah bagi konferensi yang bertujuan menyatukan berbagai kelompok pemberontak menentang pemerintahan Presiden Assad.

Kelima, Konflik Irak, Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya mendukung Saddam Hussein saat perang Iran-Irak tahun 1980-1988 dan mengalami serangan Iran terhadap kapal-kapalnya. Hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi dibekukan selama tiga tahun setelah perang.

Keenam, masalah minyak. Minyak adalah komoditas penting bagi kedua negara, Arab Saudi adalah produsen dan eksportir terbesar di dunia, dan mereka memiliki kepentingan berbeda tentang seberapa besar minyak yang dihasilkan dan berapa harganya. Arab Saudi relatif kaya dan memiliki penduduk yang lebih sedikit dibanding Iran. Dalam jangka pendek, Saudi masih dapat mengatasi rendahnya harga minyak saat ini. Sementara, Iran lebih menginginkan harga minyak lebih tinggi. Iran beberapa tahun ini tidak dilibatkan dalam pasar minyak dunia karena pemberlakuan sanksi.

Iran dan Saudi sejauh ini telah terlibat saling ancam mengancam karena permusuhan antar-kedua negara. Belum lama ini, sebelum kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah, Menteri Pertahanan Iran, Hossein Dehghan, mengecam Saudi dan mengancam untuk menghancurkan negara kerajaan tersebut.

Hossein Dehghan mengatakan bahwa tidak akan ada yang “tersisa di Arab Saudi kecuali Mekkah dan Madinah”, dua kota suci bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Iran.

Perang kata-kata itu terjadi setelah Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengatakan, tidak ada tempat untuk berdialog dengan musuh bebuyutan Saudi, Iran, karena ambisinya “untuk mengendalikan dunia Islam”. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here