Kejatuhan Kedua PT Asuransi Jiwasraya

0
1581
PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mengalami tekanan likuiditas hingga Rp802 miliar. Bahkan hasil audit PWC menyebutkan laba bersih Jiwasraya merosot dari Rp7,6 triliun menjadi hanya Rp360 miliar akibat salah kelola.

Nusantara.news, Jakarta – Seperti tak putus dirundung malang, industri asuransi mengalami tekanan likuiditas berulang-ulang. Setelah masalah mismatch antara pendapatan premi dan kewajiban polis Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, kini giliran PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Ada apa dengan Jiwasraya? Sebelumnya Jiwasraya sempat sempoyongan gegara salah investasi di PT Bumi Resources Tbk. Kini giliran Jiwasraya mengalami asset liability mismatch, ketidaksereasian antara penerimaan polis dengan kewajiban yang jatuh tempo. Praktis Jiwasraya mengalami tekanan likuiditas yang cukup serius.

Akankah persoalan Jiwasraya akan membuat perusahaan asuransi yang cukup tua ini rontok ditelah zaman? Ataukah mampu bangkit di tengah keterpurukan?

Seperti diketahui, Jiwasraya mengalami tekanan likuiditas hingga Rp802 miliar. Darimana publik mengetahui adanya tekanan likudiitas Jiwasraya yang demikian besar?

Ihwal tekanan likuiditas pada Jiwasraya berawal dari terpilihnya mantan Dirut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Asmawi Syam terpilih menjadi dirut Jiwasraya dalam RUPS 18 Mei 2018 silam. Asmawi begitu duduk langsung mengecek laporan keuang, ia mencium ada yang tak beres dari laporan keuangan unaudited Jiwasraya non konsolidasi tahun 2017.

Dalam laporan keuangan tersebut disebutkan laba bersih Jiwasraya mencapai Rp2,43 triliun. Karena melihat adanya ketidakberesan, Asmawi meminta auditor asing PriceWaterhouseCoopers (PWC) untuk melakukan audit atas laporan keuangan Jiwasraya 2017.

Feeling keuangan Asmawi ternyata benar. Hasil audit PWC menyebutkan laba bersih riil Jiwasraya ternyata hanya Rp360 miliar. Ditambah pula adanya selisih perhitungan cadangan aktuaris internal hingga Rp7,6 triliun.

Jiwasraya sendiri diketahui melayangkan surat pada 10 Oktober 2018 ke sejumlah mitra bancassurance menyatakan keterlambatan pembayaran polis asuransi JS Proteksi Plan yang jatuh tempo. Soal kesulitan likuiditas menjadi alasan keterlambatan pembayaran yang disampaikan oleh perusahaan asuransi plat merah tersebut. Nilainya mencapai Rp802 miliar.

Ada tujuh bank yang memasarkan produk JS Proteksi Plan Jiwasraya, yakni PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Standard Chartered Bank, Bank KEB Hana Indonesia, PT Bank Victoria Tbk, Bank ANZ, Bank QNB Indonesia dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Terhadap polis nasabah yang sudah jatuh tempo, Jiwasraya melalui bank mitra menawarkan skema roll over, memperpanjang masa investasi nasabah dengan memberikan imbal hasil 6% per tahun.

Sedangkan bagi nasabah yang tidak bersedia dan tetap ingin meminta pelunasan, Jiwasraya akan memenuhi sampai dana tersedia. Selama nasabah menunggu, Jiwasraya akan memberikan imbal hasil atas polis yang jatuh tempo sebesar 5,75% net per tahun, prorata hingga dana nasabah cair.

Penyebab tekanan likuiditas

Sedikitnya ada tiga penyebab terjadinya tekanan likuiditas pada Jiwasraya.

Pertama, terjadi aset liability  mismatch (ketidakseimbangan aset dengan kewajiban) seperti juga yang dialami oleh asuransi AJB Bumiputera 1912.  Jiwasraya tercatat mempunyai lima besar penempatan investasi tahun 2017 pada reksadana Rp19,17 triliun, saham Rp6,63 triliun, tanah dan bangunan Rp6,55 triliun, deposito berjangka Rp4,33 triliun dan obligasi korporasi Rp1,8 triliun untuk membayar manfaat polis yang jatuh tempo.

Dalam hal terjadi tekanan likuiditas salah satu yang harus dilakukan adalah menjual instrumen investasi tersebut. Masalah yang timbul saat ini nilai seluruh investasi tengah tertekan kondisi pasar keuangan domestik dan global yang sangat tidak stabil. Dipicu oleh perang dagang AS China dan defisit transaksi berjalan RI yang berkelanjutan.

Bila harus dijual untuk menjaga kepercayaan nasabah akan terbentur protokol investasi yang harus dipatuhi agar tidak merugi. Inilah mismatch antara kewajiban produk bancassurance yang umumnya jangka pendek dengan jangka waktu investasi yang lebih panjang.

Dibutuhkan ketrampilan manajemen  investasi untuk mengexplorasi berbagai  instrumen investasi yang sesuai dengan profil resiko kewajiban aktuarial kepada pemegang polis. Harus ada stress test sensivitas cash flow terhadap tekanan penebusan polis dibanding return investasi. Trade off antara kebutuhan likuiditas dengan yield investasi menjadi keniscayaan

Kedua, dugaan karena perolehan premi anjlok, cash flow tidak cukup bayar klaim. Terlebih karakter bisnis bancassurance premi tidak sepenuhnya dalam kontrol asuransi dan rekonsiliasi penerimaan  premi sering menjadi pekerjaan rumah yang menyita waktu dan energi tidak sedikit. Bila sudah dibentuk cadangan yang memadai, seharusnya tinggal mencairkan investasi. Sepanjang asset dan liability tidak terjadi gap, secara normatif tinggal mencairkan investasi untuk membayar klaim habis kontrak maupun nilai tunai polis.

Masalahnya dengan mencairkan investasi mengakibatkan kerugian karena seluruh instrumen investasi sedang mengalami penurunan cukup besar. Hal ini merupakan  risiko investasi yang harus diperhitungkan dan semestinya sudah dilindungi dengan underlying aset yang dimiliki. Disinilah perlunya pengelolaan manajemen risiko investasi .

Ketiga, auditor sebelumnya patut dipertanyakan dan tentu manajemen dalam periode laporan sebelumnya. Terbukti dari revisi opini  yang dilakukan audit PWC menjadi  “Dengan Modifikasian“ dari Opini “Dengan Pengecualian” sebelumnya.

Tentu saja ini bukan peristiwa pertama Jiwasraya mengalami tekanan likuiditas. Dimasa lalu Jiwasraya juga pernah mengalami tekanan likuiditas karena salah investasi membeli saham PT Bumi Resources Tbk. Bahkan sampai-sampai saham Bumi di-suspend oleh Bapepam hingga harganya jatuh.

Oleh karena Jiwasraya memiliki portfolio bancassurance berbasis saham cukup tinggi, khususnya di saham Bumi, maka Jiwasraya ikut mengalami kerugian signifikan karena tekanan likudiitas yang hebat.

Kini Jiwasraya kembali mengalami tekanan likuiditas yang kedua, artinya masalah demi masalah terus menghantam. Akibatnya kita patut bertanya.

Bagaimana dengan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), khsusunya pengawasan di industri asuransi? Dengan berulangnya penyakit yang dialami Jiwasraya, patut diduga ada pengelolaan asuransi yang tidak benar, tidak transparan, dan oleh karenanya tidak menguntungkan.

Selain itu kita juga patut bertanya bagaimana profesionalitas pengelola Jiwasraya. Dengan berulang-ulangnya masalah tekanan likuiditas, menunjukkan ada masalah serius pada aspek profesionalisme Jiwasraya.

Perlu kiranya OJK lebih serius mengawasi, mengingatkan, dan bahkan menghukum dengan tegas pengelola asuransi yang main-main. Bahkan bila perlu hukum berat para pengelola asuransi yang cenderung hengky pengky.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here