Kekalahan Ahok di Mata Media Asing: dari Kemenangan Islam Radikal Hingga Ancaman bagi Jokowi

0
1011

Nusantara.news Kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang digelar Rabu 19 April lalu, tidak hanya mengejutkan media nasional, media asing juga cukup surprise dan punya beragam pandangan tentang kekalahan gubernur incumbent itu.

Sebagian melihat sebagai kemenangan kelompok Islam atas Kristen, bahkan ada juga yang melihatnya sebagai kemenangan Islam radikal atau garis keras. Sebagian lagi, kekalahan Ahok yang didukung oleh partai penguasa ini, dianggap sebagai ancaman bagi masa depan Presiden Joko Widodo. Diperkirakan, langkah Joko Widodo dalam Pilpres 2019 akan lebih berat.

Bagaimanapun kemenangan Anies Baswedan (57,95%) atas Ahok (42.05%) menurut versi SITUNG KPU yang dirilis Kamis, 20 April 2017 menjadi penanda kemenangan rival lama Joko Widodo pada Pilpres 2014, yaitu Prabowo Subianto. Anies, mantan menteri pendidikan yang dipecat dari kabinet kerja Joko Widodo kemudian diusung oleh Partai Gerindra besutan Prabowo, berpasangan dengan kader Gerindra, Sadiaga Uno. Tentu saja peta Pilpres 2019 akan sangat berubah ketimbang jika Pilkada DKI dimenangkan Ahok yang tak lain pasangan Joko Widodo waktu menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Media asal Amerika CNN melabeli Pilkada DKI Jakarta sebagai pilkada dengan kampanye yang memecah belah. CNN menyebut, bahwa kekalahan Ahok akan dilihat sebagai kemenangan bagi Muslim konservatif, yang telah berkampanye dengan keras melawan gubernur Kristen beretnis Cina.

Tapi media itu juga menyebut bahwa isu agama hanya digunakan sebagai alat politik belaka.

“Tidak akan ada perubahan drastis bagi Jakarta, Anies tidak akan menerapkan hukum Syariah, tapi pilkada ini adalah pembelajaran bagi politisi dan partai politik untuk melihat bagaimana isu keagamaan (efektif), bahkan untuk digunakan melawan incumbent yang sedang melakukan kerja sangat baik sekali pun,” demikian CNN mengutip seorang peneliti di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Jakarta, Tobias Basuki.

Sementara, Reuters media yang bermarkas di London, Inggris menulis judul beritanya “Kandidat Muslim Indonesia memenangkan Pilkada Jakarta” seolah menggambarkan bahwa pilkada ini merupakan pertarungan dua kekuatan agama, Islam dan Kristen.

Reuters menggambarkan kampanye Pilkada DKI dengan menyebut demonstrasi besar-besaran yang dipimpin Islam garis keras, yang menurutnya telah menguat dalam beberapa tahun belakangan di sebuah negara yang menganut Islam moderat.

“Ke depan, politik agama akan menjadi kekuatan yang kuat,” demikian Reuters mengutip Keith Loveard, seorang analis di Concord Consulting yang berbasis di Jakarta, seorang penulis buku tentang politik Indonesia.

Media itu juga menyebut bahwa marjin kemenangan Anies Baswedan yang cukup besar itu mengejutkan karena jajak pendapat menjelang pilkada menunjukkan persaingan yang ketat. Lebih-lebih, Ahok memenangkan pilkada pada putaran pertama Februari lalu dengan tiga pasangan calon.

Saking mengejutkannya, Reuters sampai-sampai mengutip komentar dari pengguna twitter yang menyamakan kemenangan Anies dengan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat atau kemenangan rakyat Inggris di Uni Eropa dengan Brexit.

Begini media itu mengutip komentar pengguna twitter: “Seorang pengguna Twitter, @fuadhn, mengatakan bahwa orang Indonesia dapat merasakan apa yang dirasakan warga AS dan Inggris sekarang. Selamat datang populisme …”

Media tersebut juga melihat Pilkada DKI Jakarta sebagai barometer pemilihan presiden tahun 2019 nanti, mengingat pentingnya kota tersebut sebagai pusat modal dan komersial nasional.

Ahok didukung oleh partai yang sedang berkuasa, juga partai dari Presiden Joko Widodo. Anies didukung oleh mantan jenderal Prabowo Subianto, yang kalah tipis dari Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2014 dan diperkirakan akan menantangnya lagi.

Beberapa pemilih mungkin enggan memilih Ahok karena kekhawatiran mereka tentang “demonstrasi jalanan selama lima tahun ke depan oleh kelompok Muslim garis keras,” kata Loveard dalam sebuah wawancara telepon dengan Reuters.

Al Jazeera, media Timur Tengah berbasis di Qatar, menggambarkan Pilkada DKI sebagai terlemparnya gubernur Cina-Kristen pertama di Jakarta dalam setengah abad terakhir. Media ini menyebut Ahok sebagai gubernur yang populer di kalangan orang Yahudi kelas menengah atas dengan upayanya memberantas korupsi dan membuat kota Jakarta menjadi layak huni. Tapi, sikapnya yang kasar dan menggusur warga pinggiran membuat dirinya tidak disukai warga kota yang berpenduduk sekitar 10 juta itu.

Media itu menyebut, warga Islam Jakarta mencemooh Ahok, menginginkan dia dipenjara atau bahkan dibunuh karena kelakuannya yang dianggap menista agama Islam. Ratusan ribu orang telah memprotesnya di ibukota dengan demonstrasi massa besar-besaran.

Media asal Australia, The Australian memberi judul pada salah satu ulasannya, “Anies mengalahkan Ahok: Pemilu Jakarta memicu ketakutan terhadap kelompok Islam”. Judul yang tendensius, yang menganggap kemenangan Anies dan kekalahan Ahok sebagai kebangkitan Islam garis keras.

“Sebuah kemenangan dari sebuah negara yang memiliki komitmen dengan tetangga terdekat di Asia sebagai negara Muslim moderat, sehingga prinsip-prinsip itu menjadi semacam klise,” demikian tulis media tersebut.

“Kekalahannya adalah sebuah kemenangan bagi kelompok-kelompok Islam dan kelompok garis keras yang sebelumnya telah menginginkan Ahok mundur, sama seperti ketika memenangkan Anies Baswedan dalam pemilihan,” sebut The Australian.

Pakar Indonesia dari Australia National University, Marcus Mietzner mengatakan bahwa hasil Pilkada DKI mencerminkan kekuatan yang berkembang dari kelompok-kelompok Islam yang dulu marjinal untuk mendominasi pemilihan di Indonesia.

“Isu yang seharusnya menjadi inti kampanye seperti masalah banjir, pendidikan dan kesehatan, kemacetan, dibayangi oleh perdebatan mengenai, ‘apakah sebuah kota berpenduduk mayoritas Muslim harus diperintah oleh seorang non-Muslim”, kata Mietzner.

“Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa politisasi agama Ahok (terbungkus dalam penghujatan) adalah satu-satunya faktor terpenting yang menentukan dalam pemilihan ini,” Mietzner menyimpulkan dalam sebuah analisis yang dikutip The Australian.

Media Australia lainnya, The Sidney Morning Herald memberikan opini bahwa hasil pemilu Jakarta bisa menjadi berita buruk bagi Jokowi.

Dalam analisisnya, Pilkada DKI adalah kecerdasan oposisi untuk menggunakan kelompok konservatif dalam menonjolkan isu agama dan ras yang kebetulan ada pada Ahok. Motivasi tersebut dilakukan mengingat tawaran yang menggiurkan dalam pemenangan Pilkada DKI: jabatan gubernur DKI dipandang sebagai pintu awal untuk meraih kursi kepresidenan.

Presiden Jooko Widodo tentu merasa khawatir melihat masa depannya di pemilihan presiden 2019. Sama halnya ketika dia memanfaatkan mesin media, saat menjadi gubernur DKI  2012-2014, untuk menjadikan dirinya sebagai “kandidat capres” sejak hari pertama dia bekerja, Anies sekarang juga akan melakukan hal yang sama dengan Jokowi.

Jokowi mungkin masih tetap menjadi favorit, tapi kemenangan Anies menimbulkan kekhawatiran, karena Jokowi akan jauh lebih aman dengan sekutunya seperti Ahok.

Sementara, media di Malaysia Melayu Online memberi judul, “Malaysia: Pemimpin yang menghina Islam akan kalah seperti Ahok di Jakarta”.

Media itu memberikan analisis bahwa kekalahan gubernur Kristen beretnis Cina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menunjukkan, politisi tidak akan terpilih jika mereka menghina Islam, mengutip seorang pemimpin partai oposisi Malaysia.

Ketua Parti Islam se-Malaysia (PAS) Nasrudin Hassan mengatakan kepada media tersebut, bahwa hal serupa dengan Indonesia, pemilih Muslim di Malaysia akan menolak siapa pun yang merendahkan agama Islam, sebagaimana dilaporkan Melayu Online.

Apakah semua media asing melihat kekalahan Ahok sebagai kekalahan etnis Cina dan non Muslim? Karim Raslan, penulis berdarah Malaysia yang lama tinggal di Indonesia menulis kepada Koran Harian berbasis di Hong Kong, South China Morning Post, bahwa dia tidak percaya kekalahan Ahok semata-mata tentang Islam dan perasaan anti-Cina.

Apakah narasi media arus utama, bahwa ekstremis Islam mengambil alih kota berhadap-hadapan dengan Islam moderat adalah akurat? Tanya Raslan.

Untuk membuktikan hal tersebut dia menemui pemimpin masyarakat Betawi berusia 70 tahun dan mantan anggota parlemen Mahfudz Djaelani di Tebet, Jakarta Selatan.

“Bagi orang Betawi, agama (Islam) datang lebih dulu tapi bukan berarti kita tidak menerima orang dari agama lain. Saya memiliki banyak tetangga Kristen, Cina dan Batak,” katanya tokoh Betawi itu.

“Ini tentang cara Anda mendekati orang lain,” katanya mengomentari kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI.

“Ya, Tebet memang memilih melawan Ahok, tapi salah kalau itu karena dia orang Kristen. Bagi banyak orang, faktor yang menentukan adalah perilakunya. Banyak yang menganggap dia menyinggung dan sombong. Budaya Betawi dan tata krama juga sangat penting,” katanya.

Menurut Mahfudz, orang Betawi adalah orang yang jujur: yang baik untuk mereka akan dikembalikan sepuluh kali lipat, tapi  yang buruk akan dilunasi dengan balasan yang lebih besar lagi.

“Ya, Anies sangat diuntungkan dari sentimen anti-Cina. Tapi, ada faktor lain, suka atau tidak suka, pemilih di Indonesia ingin politisi mereka sopan dan berbudaya,” tulis Raslan di South China Morning Post.

“Jadi ya, agama itu penting dalam Pilkada DKI Jakarta, tapi begitu juga kepribadian dan kebijakan,” tutupnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here