Kekalahan Ahok – Djarot Lonceng Kematian Parpol

0
512

Nusantara.news, JAKARTA – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta menghasilkan Pasangan Calon (Paslon) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Syaiful Hidayat (Ahok-Djarot) kalah telak dari Paslon Anies Baswedan – Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Selisih angkanya jauh, dua digit atau di atas sepuluh persen.

Mengacu pada jumlah gabungan suara partai koalisi pendukung masing-masing kandidat yang diperoleh pada Pemilu Legislatif DKI Jakarta sebelumnya, maka pasangan Ahok-Djarot seharusnya menang telak karena dudukung oleh Partai Golkar, PDIP, PPP dan PKB, Hanura, Nasdem. Gabungan suara koalisi partai pendukung Ahok-Djarot ini jauh lebih besar ketimbang gabungan suara partai koalisi pendukung Anies-Sandi yakni Gerindra dan PKS.

Apa yang dapat dibaca dari realitas ini?

Jika dicermati, maka sikap atau keputusan pemilih lebih banyak dipengaruhi oleh penilaian pribadi. Di sisi lain, mesin politik partai pendukung kedua pasangan nyaris tidak bekerja.

Kehadiran parpol hanya sebatas sebagai syarat bagi paslon untuk maju bertarung. Hanya kendaraan politik, tanpa memiliki pengaruh signifikan pada pilihan pemilih. Nyatanya, Ahok – Djarot kalah telak.

Kondisi parpol di paslon Ahok – Djarot memang sangat parah. Mesin politik partai pengusung dan pendukungnya tidak bergerak maksimal.

Sementara di kubu Anies – Sandi, Gerindra pun kurang maksimal, kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki kader militan dan bergerak langsung ke tengah-tengah masyarakat. Mereka begitu gencar mensosialisasikan program Anies – Sandi, baik door to door maupun melalui sosial media (sosmed) hingga pengawalan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Kondisi parpol yang parah di kubu Ahok – Djarot itu diamini pakar politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun.

“Faktanya, mesin politik Ahok-Jarot tidak bergerak efektif. Meskipun secara kuantitas mesin politik Ahok-Jarot mengungguli pasangan Anies-Sandi, nyatanya, modal kuantitas tersebut tidak mampu bekerja efektif,” jelas Ubedilah.

Apalagi, pola kampanye Ahok – Djarot masih sangat konvensional, seperti bakri social (baksos) dan bagi-bagi sembako gratis yang justru jadi bumerang, karena pemilih Jakarta mayoritas pemilih rasional.

Di sisi lain, faktor figur kedua paslon juga sangat berpengaruh. Meskipun berdasarkan survei tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja Ahok mencapai 70 persen, namun mayoritas masyarakat tidak menyukai gaya komunikasinya yang dinilai tidak santun.

Sehingga, upaya meraih simpatik dari pemilih yang dilakukan tim Ahok – Djarot melalui dunia maya yang menggambarkan pasangan Ahok – Djarot sebagai korban diskriminasi dan intoleransi, tetap tak mampu mengubah cara pandang mayoritas masyarakat Jakarta.

“Berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk pola ‘kampanye udara’ yang cenderung menggunakan pola playing victim, sebuah kampanye melalui dunia maya untuk menggambarkan pasangan Ahok-Jarot sebagai korban diskriminasi dan intoleransi. tetapi tetap tidak banyak menolong, karena gaya komunikasi Ahok yang tidak pas,” papar Ubedilah.

Kini Pilkada DKI 2017 telah selesai, namun patut menjadi renungan khususnya bagi seluruh parpol, apakah mesin politik parpol yang tak mampu bekerja karena faktor kualitas kadernya atau memang tingkat kepercayaan masyarakat yang terus menurun terhadap parpol?

Apapun penyebabnya, ini peringatan bagi parpol untuk segera berbenah dan segera merespon perubahan yang terjadi. Jika tidak, maka inilah lonceng kematian bagi parpol. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here