Kekalahan Ahok Melemahkan Legitimasi Kepemimpinan Jokowi

0
599

Nusantara.news, Jakarta –  Kekalahan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dalam Pilakda DKI Jakarta adalah “kekalahan” Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga. Sebab, Ahok dan Jokowi berada dalam satu paket ciptaan para bohir yang dikenal sebagai China perantauan. Apa imbas kekalahan Ahok bagi Jokowi? Adalah melemahnya dukungan rakyat atau melemahnya legitimasi kepemimpinan Jokowi. Mengapa?

Isu China, Komunis, Kristen

Kekalahan Ahok bagi Jokowi, tidak hanya berupa hilangnya seorang personel yang sama-sama berbagi beban mengusung agenda para bohir, tetapi yang mendasar adalah, kaitannya dengan isu isu China, Komunis, Kristen yang mendominasi isu Pilgub DKI Jakarta 19 April 2017.

Isu isu ini dimaknai sebagai upaya China perantauan terutama yang sudah menjadi warga negara Indonesia yang dijadikan pion perpanjangan tangan oleh Pemerintah China  Komunis untuk menguasai Indonesia.

Isu-isu tentang China, Komunis, Kristen sebetulnya sudah muncul pada Pilkada DKI Jakarta 2012. Tetapi, ketika itu berhasil ditutup dengan isu-isu populis-nasionalis, antara lain melalui keberadaan Jokowi sebagai Walikota Solo yang digambarkan akan melahirkan industri otomotif dengan harga murah melalui mobil ESEMKA yang foto mobil contohnya beredar luas berplat merah dengan nomor polisi AD 1 A.

Isu-isu negatif itu semakin berhasil diredam oleh Isu isu populis-nasionalis lain seperti rekaman video pidato Jokowi tentang pemindahan pasar tradisional di Solo tanpa gejolak karena memang menguntungkan pedagang yang digusur.

Dalam video itu, Jokowi juga mengeluarkan pernyataan keras terhadap konglomerat kapitalis terkait kebijakannya sebagai Walikota Solo yang membatasi pemberian izin pendirian minimarket dan mal.

Isu-isu tentang China, Komunis, Kristen juga merebak pada Pilpres 2014 melawan Prabowo Subianto. Isu isu lagi lagi teredam oleh kehadiran Calon Wapres Jusuf Kalla ditambah isu-isu kreatif bersifat terobosan seperti Tol Laut, Nawacita, juga “negara harus hadir di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masalah.”

Isu yang terakhir ini disampaikan Jokowi saat bertemu korban lumpur Lapindo di Sidoardjo, Jawa Timur jelang hari pencoblosan pilpres. Kalimat “negara harus hadir” (hidup sampai sekarang) dan berhasil menyelesaikan masalah ganti rugi lumpur Lapindo yang kusut selama delapan tahun.

Isu-isu China, PKI, Kristen muncul lagi dan semakin membesar pada Pilkada DKI 2017. Isu ini nyaris tak terbendung setelah pernyataan Ahok tentang Surat Al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu.

Putaran pertama Ahok-Djarot yang masih memperoleh 43 persen memang agak anomali. Perolehan suara yang mengantar Ahok-Djarot masuk putaran kedua itu, tampaknya hasil counter isu berbasis kebinekaan yang dimainkan kubu Ahok melalui berbagai even keagamaan dengan melibatkan aparat keamanan.

Karena itu banyak yang pesimis akan hasil putaran kedua. Terlebih, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mendadak bertemu Presiden Jokowi, yang dimaknai sebagai indikasi suara AHY yang tersingkir pada putaran pertama, akan mengalir ke kubu Ahok. Belum lagi PPP dan PKB yang bergabung dengan kubu Ahok.

Untunglah hasil putaran kedua keluar dengan kemenangan bagi Anies – Sandi, sebuah hasil  yang disambut penuh suka cita.

Ahok kini sudah knock out, sudah “KO”. Ini tentunya dapat diartikan bahwa isu isu China, Komunis, Kristen yang mendominasi isu pilkada, ditolak oleh masyarakat Jakarta. Suka cita terhadap kemenangan Anies-Sandi yang meluas ke seluruh Indonesia, mengindikasikan penolakan itu juga diamini oleh masyarakat di luar DKI Jakarta.

Dalam perspektif ini pula, kekalahan Ahok diprediksi akan berimbas kepada Jokowi yang sekarang menjabat presiden. Sebab nyaris belum ada analisis yang menolak Jokowi dan Ahok sebagai dua orang yang berada dalam satu paket ciptaan para bohir, yakni bohir China perantauan yang isi pundi pundi keuangannya digambarkan tak berseri, tak habis-habisnya.

Faktanya berbucara sama, di mana sejak Jokowi jadi presiden, berkembang sejumlah isu tentang China, yang dibaca indikasi cara China menggunakan Jokowi menggapai ambisinya menjadikan Indonesia seperti Afrika yang sudah dikuasai China.

Indikasi ini bukan asal indikasi, karena adalah fakta pula, bahwa Jokowi pernah terang-terangan mengatakan akan merujuk rupiah dengan mata uang China, yuan. Begitu juga program Tol Laut, yang semula disanjung, rupa rupanya berada dalam kerangka konsep jalur sutra milik China.

Apa imbas kekalahan Ahok terhadap Jokowi? Satu kalimat, yakni melemahnya dukungan rakyat terhadap Jokowi, atau dalam bahasa lain, melemahnya legitimasi kepemimpinan Jokowi. Melemahnya legitimasi ini diprediksi akan menjadi problematika tersendiri bagi Jokowi dalam menjalani masa kepemimpinannya sampai 2019. Problematika ini tidak saja akan terkait dengan agenda para bohir, tetapi tidak tertutup kemungkinan juga terkait dengan efektifitas dan masa depan kepemimpinannya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here