Kekerasan dari Bangsa yang Lembek

0
198

PEKAN-PEKAN terakhir ini, jagat politik Indonesia kembali dikisruhkan oleh pernyataan kontroversial dari elite politik yang tidak menunjukkan kelasnya sebagai elite. Sebut saja ucapan Arif Puyuono, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, yang menyamakan PDIP dengan PKI. Lalu ada pula Victor Laiskodat. Ketua Fraksi Partai Nasdem di DPR ini berpidato dengan menyebut Partai Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat sebagai pendukung kaum intoleran. Pidatonya juga mengandung ujaran kebencian yang dinilai menyinggung umat Islam.

Arief Puyuono sudah meminta maaf. Victor Laiskodat belum memberi penjelasan, tapi menurut Partai Nasdem, rekaman pidato Victor itu sudah diedit.

Apa pun, kita ingin mencatat satu hal, bahwa di lapisan elit bangsa ini, udara pergaulan sudah penuh dengan aroma kebencian. Kecerdasan, kedewasaan atau kematangan akal budi  rupanya tidak lagi menjadi syarat mutlak untuk bergaul di lapisan terhormat itu. Satu-satunya syarat adalah kelihaian merebut peluang. Lain dari itu tidak.

Politisi saling mencari kelemahan lawan agar bisa dijatuhkan, menebar fitnah dan bahkan seringkali pula mereka saling beradu fisik.

Politik semestinya jauh dari bau-bau kebencian, kekerasan, atau kriminal, apalagi bau amis darah. Kalau politik dipahami dengan cara demikian, apa yang bisa diberikan kepada bangsa ini.

Sesama lembaga negara bertikai dan saling melemahkan. Birokrasi pemerintahan dipenuhi dengan intrik perebutan jabatan dan kesempatan.

Itulah gambaran elit dari negara yang nyaris lumpuh ini, dan itu pula yang terjadi di masyarakat. Lihat saja, tiap detik terjadi kekerasan di negeri yang konon dihuni bangsa pemaaf ini. Entah di pergaulan sehari-hari, atau bahkan di lembaga pendidikan. Tawuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu, bahkan untuk perkara yang mereka sendiri pun tak tahu.

Anehnya, bangsa ini tak sanggup berbuat tegas terhadap koruptor, karena jumlah mereka sudah terlalu banyak dan mengisi berbagai posisi strategis. Penyimpangan sedahsyat apa pun dibiarkan. Kalau ada yang berani menegakkan hukum terhadap para koruptor, yang dibutuhkan di situ bukan kelihaian investigasi atau kemampuan hukum, melainkan nyali! Mengusik pelaku korupsi bisa jadi merupakan tindakan paling berbahaya di negeri ini.

Bangsa ini juga lembek jika berhadapan dengan orang lain. Dalam pergaulan dunia, bangsa ini tak mampu memberikan warna apa-apa. Bahkan menolak agar kita tak diwarnai orang lain pun, kita tak sanggup. Kita pasrah diberi warna oleh bangsa lain, dan malah dengan bangga mengatakan bahwa itu adalah warna dunia. Bangsa ini seperti berlomba menggelar karpet merah untuk negara-negara asing yang datang dengan janji, tetapi sejatinya adalah perangkap infiltrasi dan aneksasi.

Melihat kenyataan begini, barangkali apa yang ditulis oleh para pendiri negara ini dalam kalimat pertama Pembukaan UUD 1945, ada sebuah pengakuan yang sangat jujur: Bahwa kemerdekaan bangsa ini hanya karena rahmat Allah semata.

Itu mungkin “pengakuan historis” bahwa perjuangan bangsa ini tidak sehebat yang mestinya dilakukan anak negara terjajah. Karena sejatinya kita lembek![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here