Kekuatan 4 Pasang Peserta Pilkada Sumsel Berimbang

0
734
Ilustrasi

Nusantara.news, Palembang – Bisa dipastikan, Pilkada Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) diikuti oleh empat pasangan calon, masing-masing Herman Deru – Mawardi Yahya yang diusung PAN, Nasdem dan Hanura, Ishak Mekki – Yudha Pratomo Mahyudin yang diusung Partai Demokrat, PBB dan PPP, Dodi Reza Alex – Giri Ramandha Kiemas yang diusung PDI Perjuangan, Golkar dan PKB serta yang terakhir Saifuddin Aswari Rivai – Irwansyah yang diusung oleh Gerindra dan PKS.

Sejauh ini kekuatan dari keempat bakal pasangan calon yang hampir dipastikan akan mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat relative berimbang karena masing-masing memiliki rekam jejak pernah menjadi kepala daerah di wilayah Provinsi Sumsel, sehingga masing-masing memiliki basis massa territorial yang tidak bisa dianggap enteng.

Penguasa Teritorial

Herman Deru – Mawardi Yahya

 

Herman Deru sebagai Calon Gubernur Sumsel memiliki rekam jejak dua kali menjadi Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Sedangkan wakilnya Mawardi Yahya adalah Bupati pertama Ogan Ilir (OI) yang menjabat selama dua periode. Sehingga pasangan ini memiliki basis pendukung di wilayah OKU Timur dan OI. Selain itu Herman Deru juga memiliki pengaruh yang kuat di OKU dan OKU Selatan.

Dodi Reza Alex – Giri Ramandha Kiemas

Sedangkan Dodi Reza Alex selain masih menjadi Bupati Musi Banyuasin (MUBA) dia juga anggota DPR-RI selama 2 periode dari daerah pemilihan Sumsel I. Dodi juga anak sulung dari Gubernur petahana Alex Noerdin yang memiliki pengaruh kuat, selain di MUBA juga di wilayah Kabupaten Empat Lawang. Basis territorial pasangan Dodi Reza Alex – Giri Ramandha Kiemas adalah Muba dan Empat Lawang.

Namun kekuatan utama pasangan ini sebenarnya bukan di basis territorial, melainkan di basis kekuatan politik dua partai pengusungnya, masing-masing PDI Perjuangan selaku partai pemenang Pemilu yang memiliki 13 kursi dan Partai Golkar yang memiliki 10 kursi  di DPRD Sumsel. Apabila ditambah PKB yang memiliki 6 kursi maka kekuatan politik pasangan ini mencapai 29 atau 38,6% dari total 75 kursi anggota DPRD Sumsel.

Kekuatan politik Dodi – Giri jauh lebih besar ketimbang kekuatan politik HD-MY yang hanya 16 kursi. Namun Herman Deru pernah mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur Sumsel pada periode sebelumnya yang hanya kalah tipis dari Gubernur petahana Alex Noerdin yang berpasangan dengan Ishak Mekki.

Bahkan Herman Deru berhasil menang dalam pemilihan suara ulang di sejumlah TPS yang berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi ketika itu harus diulang, tapi secara keseluruhan suaranya belum berhasil mengungguli perolehan suara pasangan Alex – Ishak Mekki.

Ishak Mekki – Yudha Pratomo Mahyudin

Ishak Mekki yang pernah menjabat Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) selama 2 periode sebelum digandeng Alex Noerdin untuk memenangkan Pilkada Sumsel 2013, tidak bisa pula dianggap sebelah mata. Selain sebagai calon petahana, Ishak Mekki juga memiliki basis territorial di OKI. Dengan Pilkada yang diikuti oleh 4 pasangan calon peluang menangnya tetap terbuka.

Meskipun basis dukungan politik pasangan Ishak Mekki – Yudha Pratomo pas-pasan 15 kursi atau 20 persen dari total anggota DPRD Sumsel, namun peluang menang tetap ada. Terlebih wakilnya adalah putra Wakil Gubernur Mahyudin yang juga memiliki pengaruh di Sumsel bagian Bagian Barat (Musi Rawas, Lubuklinggau dan Maratara).

Saifudin Aswari Rivai – Irwansyah

Ada pun Saifudin Aswari Rivai atau acap dipanggil Wari adalah Bupati Lahat selama 2 periode yang masa jabatannya akan berakhir pada 2018 ini. Untuk itu dia juga memiliki basis territorial di Kabupaten Lahat meskipun jumlah penduduk di Kabupaten ini tidak begitu banyak atau hanya 384.600 jiwa (BPS, 2013). Dengan didukung Partai Gerindra dan PKS pasangan Aswari – Irwansyah memang hanya memiliki kekuatan politik 15 kursi di DPRD Sumsel atau pas 20 persen saja.

Tinjauan Demografis

Demografis Sumsel secara etnis memang sebagian besar dari suku Melayu (34,37%), disusul Jawa (27,01%), Komering (5,68%), Sunda (2,45%), Tionghoa (1,10%), Minangkabau (0,94%) dan suku lainnya (28,45%). Sedangkan secara agama Islam dengan pemeluk 94,30%, Kristen Protestan 1,96%, Buddha 1,76%, Katolik 1,11% dan Hindu 0,87%.

Artinya, secara demografis pembeda utamanya hanya pada persoalan etnis yang cenderung beragam. Sebagai etnis yang dianggap asli Sumsel, etnis Melayu terdiri dari 11 sub-etnis. Satu etnis lainnya, Komering, bukan dianggap sebagai etnis Melayu. Namun suku-suku asli di Palembang yang bahasanya juga beragam sejak Kasultanan Palembang Darusalam sudah dipersatukan oleh bahasa Palembang.

Sentimen yang dibangun dalam permainan kekuasaan (game of throne) di Sumsel, biasanya bukan atas dasar etnis atau agama. Melainkan antara Komering dan non-Komering. Sebab selama Orde Baru, sirkulasi kekuasaan di antara keduanya bergantian selama 1 dekade. Paska Orde Baru pun, tokoh dari kedua etnis juga sudah menduduki jabatan Gubernur secara bergantian

Pada dekade awal (1968-1978), jabatan Gubernur Sumsel dipegang Asnawi Mangkualam yang asal Komering, selanjutnya digantikan Sainan Sagiman (1978-1988) yang asal Muaraenim yang non Komering dan pada akhir Orde Baru (1978-1998) dipegang oleh Ramli Hasan Basri yang asal Ranau (Komering). Pokoknya, selama Orde Baru Komering berkuasa dua dekade dan Non Komering hanya satu dekade.

Pada dua periode lalu, kemenangan Alex Noerdin dianggap sebagai kemenangan yang mematahkan dominasi Komering. Syahrial Oesman adalah Gubernur Sumsel dari suku Komering yang terakhir. Dan sekarang Herman Deru adalah calon Gubernur yang berasal dari suku Komering. Dengan demikian pengaruh Herman Deru di lingkungan warga berbahasa Komering diperkirakan sangat kuat.

Revenge Deru Vs Alex

Namun secara etnis jumlah keseluruhan warga Komering hanya 5,68% dari keseluruhan penduduk Sumsel. Artinya bukan sebagai penentu kemenangan. Militansi relawan dari masing-masing calon dalam memasarkan program dan gagasan calon yang didukungnya tetap menjadi penentu dari masing-masing calon untuk memenangkan Pilkada Sumsel.

Pada Pilkada 2013 lalu pasangan Herman Deru – Maphilinda memang kalah tipis dari pasangan Alex Noerdin – Ishak Mekki dengan selisih 58.630 suara. Kekalahan tipis itu tentu saja bukan karena sentiment Komering dan non Komering, melainkan karena adanya banyak faktor yang membuat Herman Deru kala itu sangat diperhitungkan sebagai penantang calon petahana. Kalau saja Eddy Santana Putra tidak ikut dalam Pilkada Sumsel 2013 belum tentu Alex Noerdin yang akan muncul sebagai pemenang.

Begitu pula sekarang. Dalam sejumlah jajak pendapat memang menempatkan Herman Deru di urutan paling atas. Namun dengan munculnya 4 pasangan calon, suara-suara anti Alex Noerdin yang pada Pilkada 2013 tersebar di dua calon (Herman Deru dan Eddy Santana Putra), kini tersebar untuk tiga calon, termasuk calon petahana Ishak Mekki yang dulu mendukung Alex Noerdin.

Di luar itu, pasangan Dodi Reza Alex kendati dianggap oleh sebagian khalayak meneruskan dinasti politik Alex Noerdin, namun pencalonannya bukan semata-mata lahir dari warisan politik orang tuanya tanpa kapasitas personal yang memadahi. Dodi dan pasangannya Giri, adalah pasangan anak muda yang memiliki bekal pendidikan dan pengalaman organisasi lebih dari cukup untuk memimpin Sumsel.

Sebagai gambaran, Dodi adalah Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Leuven dengan predikat magna cum laude. Tahun 2010 dan 2011 Dodi menjadi delegasi Indonesia dalam World Trade Organization (WTO) Third Country Training Program di Singapura. Dia juga pernah berpartisipasi dalam Forum 100 Kepemimpinan Asia di Filipina tahun 2008.

Seperti halnya Benazir Bhutto, Indira Gandhi atau Sue Kyi, Dodi dan Giri memang sudah dipersiapkan keluarganya menjadi pemimpin dengan jenjang pendidikan dan pengalaman organisasi yang jelas. Bukan asal terlihat dewasa dan langsung ditunjuk orang tuanya menjadi calon kepala daerah seperti 2 bupati yang pada akhirnya bermasalah di Banyuasin dan Ogan Ilir.

Di luar itu semua, meskipun keempat pasangan calon memiliki peluang yang sama untuk menang, namun pertarungan sengit diperkirakan akan terjadi antara pasangan Herman Deru – Mawardi Yahya Vs Dodi – Giri. Keduanya diperkirakan sudah memiliki jaringan politik maupun territorial yang lebih komplit dibandingkan dua pasangan lainnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here