Kekuatan Ridwan Kamil Pada 18 Juta Generasi Milenial

0
264

Nusantara.news, Jakarta – Ridwan Kamil. Pria kelahiran Kota Bandung 4 Oktober 1971 ini  berusia 47 tahun pada Oktober 2018 mendatang. Ridwan Kamil sekaligus tercatat sebagai calon Gubernur Jabar termuda di antara pasangan lain. Dedi  Mulyadi yang kelahiran 11 April 2011 juga masih muda, tetapi adalah Ridwan Kamil yang terbiasa berkomunikasi dengan memanfaatkan media sosial. Sebab itu, Ridwan Kamil diperkirakan akan menjadikan generasi milenial sebagai sasaran utama pemilihnya. Jumlah generasi milenial di Jabar mencapai 18 juta jiwa dari total DPT sebesar 33 juta jiwa. Seberapa besar kemampuan Ridwan Kamil merayu generasi milenial? Berapa kekuatannya setelah dikombinasi dengan calon wakil gubernur Uu Ruzhanul Ulum?

18 Juta Generasi Milenial Jabar

Sesuai syarat pencalonan, pasangan Ridwan Kamil dan Ruzhanul Ulum juga sudah punya basis suara. Berapa besar basis suara Ridwan Kamil dan Ruzhanul Ulum? Adalah sebesar perolehan suara partai pengusung pada pemilu legislatif tahun 2014 dari Dapil Jabar untuk DPR RI.  Nasdem memperoleh 1.035.729 (4,89%), PPP 1.631.804 (7,70%), PKB 1.572.724  (6,71%), dan Hanura 1.160.572 (5,48%). Total basis suara Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dengan demikian mencapai 4.400.829 (24,78).

Jumlah basis suara ini nomor tiga terbesar  setelah Pasangan Sudrajat – Ahcmad Syaikhu 5.772.730  (26,76), dan Deddy Mizwar – Deddy Mulyadi 5.471.64   (25,82%). Basis suara TB Hasanuddin– Anton Charliyan yang hanya diusung satu partai yakni PDIP paling kecil, yakni 4.159.404 (19,63%).

Jika mesin partai bekerja secara optimal, maka suara aman bagi Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum pada Pilgub Jabar 2018 mendatang tidak akan jauh meleset dari totapl basis suara tersebut.

Pertanyaannya, apakah empat mesin partai yang mengusung Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul mampu bekerja secara optimal? Di atas kertas, tidak. Karena Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul bukan ketua partai. Untuk menggerakkan mesin partai keduanya harus bekerjasama atau berkoordinasi atau menyerahkan penanganan basis suara kepada masing-masing ketua partai pengusung. Hal ini berpotensi membuat basis suara yang ada tercecer karena tidak tertangani secara optimal.

Basis suara ini mungkin hanya akan optimal untuk dapil Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasik Malaya yang merupakan daerah “kekuasaan” Uu Ruzhanul Ulum

Itu dari segi mesin partai. Perolehan suara juga dipengaruhi oleh daya tarik figur. Seberapa besar daya tarik figur Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul bagi pemilih Jabar?

Pertanyaan ini bisa diawali dengan mempertanyakan, apa yang istimewa dari Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul dibanding 3 pasang cagub lainnya? Salah satunya adalah usia Ridwan Kamil yang paling muda (kelahiran 4 Oktober 1971) dibanding calon lainnya. Usia Ridwan Kamil lebih muda sekitar 6 bulan dibanding Dedi Mulyadi yang kelahiran 11 April 1971.

Dengan usia yang paling muda maka Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi diasumsikan lebih dekat dengan pemilih yang disebut generasi milenial dibanding pasangan cagub yang lain.

Dalam hal generasi milenial Ridwan Kamil juga lebih dekat ketimbang Dedi Mulyadi.

Indikasinya, Ridwan Kamil banyak dan tampaknya sudah lebih lama memanfaatkan media sosial seperti twitter dan instagram sebagai media komunikasi.

Selain itu, orientasi keduanya juga berbeda. Salah satu ciri khas atau malah bisa dikatakan sebagai kinerja Ridwan Kamil selama menjadi Walikota Bandung adalah pebangunan sejumlah taman.

Dedi Mulyadi juga banyak membangun taman di Kabupaten Purwakarta.  Tetapi filosofi yang melatari pembangunan taman berbeda antara Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi.

Ridwan Kamil membangun atau merevitalisasi taman kota di Kota Bandung, selain implementasi ruang terbuka hijau, juga sebagai ruang interaksi publik untuk mencitrakan warga Kota Bandung yang bahagia karena banyak berinteraksi di ruang publik.

Sedang filosofi Dedi Mulyadi membangun taman kota tercermin dari komentarnya terkait Taman Pancawarna. Menurut Dedi, dirinya tidak sekedar berhenti pada aspek kegunaan taman untuk ruang publik dan rekreasi. Unsur edukasi menjadi orientasi utama segenap pembangunan yang dia lakukan. Dia menjelaskan, Taman Pancawarna mengajarkan Kebhinekaan Bangsa Indonesia karena diilhami dari nilai-nilai luhur Pancasila yang berisi semangat toleransi kebangsaan.

“Warna bunga dan tanamannya banyak di taman ini. Bukankah warna kepercayaan, keberagaman, pandangan tentang kebangsaan pun banyak di negeri ini. Saya ingin warga Purwakarta memahami ini sehingga dapat saling hormat menghormati perbedaan dalam kehidupan mereka,” jelas Dedi berfilsafat seperti dilansir sebuah media online.

Di Taman Pasanggarahan Pajajaran ada dua jembatan yang menghubungkan sisi utara dan sisi selatan taman. Dedi memberi dua jembatan itu nama Pancasila dan Pancaniti

Ada kalimat Dedi Mulyadi yang menggambarkan latar belakang pemikirannya membangun taman. “Kita semua mengetahui sila-sila dalam Pancasila toh. Nah kalau Pancaniti ini Ikhtiar manusia untuk menapaki satu per satu tangga Pancasila itu sehingga terwujud keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa. Sehingga kalau pun ada masyarakat yang selfie di sini, selfie-nya bukan selfie lebay tetapi selfie yang berpancasila,” katanya.

Usia Deddi Mulyadi memang terpaut hanya beberapa bulan dibanding Ridwan Kamil. Tetapi cara berpikir keduanya berbeda jauh. Ridwan Kamil cenderung pada hal-hal yang lebih ringan, sedang Dedi Mulyadi cenderung pada hal-hal yang lebih serius.

Tidak heran kalau Ridwan Kamil memberi satu taman di Kota Bandung dengan nama ringan yakni Taman Jomblo. Sedang Dedi Mulyadi memberi nama satu taman di Purwakarta dengan nama serius yakni Taman Pancawarna yang menggambarkan padangan hidup Bangsa Indonesia, Pancasila.

Selfie lebay dan selfi Pancasila, adalah dua hal yang berbeda. Kedua istilah ini merupakan pernyataan Dedi Mulyadi. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan selfie lebay.

Tetapi dalam konteks generasi milenial penggunaan istilah taman lebay dan taman Pancasila, dapat diduga bahwa Dedi Mulyadi lebih berjarak dengan generasi milenial ketimbang Ridwan Kamil.

Mengapa, karena para ahli menganggap generasi milenial yang terlahir antara tahun 1980 – 2000 ini berbeda dari sisi keyakinan religi, politik, interaksinya dengan teknologi, komunikasi, ekspresi dan lain sebagainya dengan generasi-generasi SBX sebelumnya (Silent Generation 1928-1945, Boomer Generation 1946-1964, dan X Generation 1965-1980).
Generasi milenial yang hidup dalam dunia teknologi dan informasi yang sangat intensif dengan telepon pintar, komputer, tablet, atau smart watch menjadi ciri-ciri dari generasi milenial. Adakalanya, mereka bertemu tetapi tidak terjadi pertukaran pemikiran karena masing-masing sibuk dengan telpon pintar masing-masing.

Ridwan Kamil dengan Taman Jomblo-nya dan dengan kebiasaannya bermain media sosial, diperkirakan tidak hanya lebih dapat memahami kecenderungan generasi milenial dan dengan sedirinya lebih mudah menjalin komunikasi, tetapi juga diduga lebih dapat diterima atau lebih familiar bagi generasi milenial.

Oleh sebab itu, generasi milenial ini diperkirakan akan digarap secara serius oleh Ridwan Kamil. Tidaik tertutup kemungkinan, generasi milenial ini akan dijadikan oleh Ridwan Kamil sebagai target pemilih utama.

Berapa jumlah mereka? Ternyata sangat besar, yakni 18 juta jiwa atau lebih setengah dari daftar pemilih tetap (DPT) Jabar tahun 2014, yang mencapai sekitar 33 juta jiwa.

Potensi pemilih pasangan Ridwan Kamil – UU Uu Ruzhanul Ulum dengan demikian mencapai 4.400.829 suara ditambah 18 juta jiwa jumlah generasi milenial, total mencapai lebih 20 juta pemilih.

Kemenangan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf pada Pilgub 2008 cukup  memperoleh 7.287.647 suara. Ini berarti Ridwan Kamil cukup memperjuangkan 30 persen generasi milenial yang sepenuhnya bisa didekati sendiri olehnya melalui kebiasaannya bermain media sosial.

Salah satu ciri generasi milenial adalah lebih percaya pada konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan ketimbang informasi yang dikemas dengan produk iklan atau informasi dari perusahaan besar.

Ciri ini membuat Ridwan Kamil betul betul bisa melakukan pendekatan sendiri terhadap generasi milenial.

Program merupakan hal lain yang juga mempengaruhi perolehan suara. Seperti apa kreasi Ridwan Kamil mengemas program yang masuk di akal sehat generasi milenial?

Apabila Ridwan Kamil mampu mengemas program yang sesuai pula dengan kecenderungan generasi milenial, maka ia berpotensi meraup porsi terbesar dari 18 juta generasi milenial. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here