Keliling Mengajari Baca Tulis Sudah Diikrarkan Sejak Mahasiswa

0
356

Nusantara.news, Surabaya – Ini yang dilakukan Harris Rizki (34), setelah sehari sebelumnya mensurvei lokasi kampung yang dipilih. Dengan dandanan badut lengkap dengan rias wajah lucunya, berhidung mancung, berkumis dan berkacamata, pria ini bersama Nusantara.News berjalan kaki dari tempatnya berdandan di SDN Bubutan, menuju Kampung Pawiyatan, di sekitar Jalan Semarang di Surabaya, Senin (30/1/2017).

Di kampung itu sejumlah ibu-ibu bergerombol, diantaranya ada yang sambil menggendong anak. Mereka menunggu kedatangan sang badut yang suka rela mengajarkan membaca dan menulis. Dengan menenteng tas besar berisi puluhan buku bacaan, kedatangan sang badut itu disambut sorak sorai.

“Hore, hore badutnya datang!” teriak sejumlah ibu-ibu mengiringi langkah Harris masuk kampung kecil tersebut.

Dengan gaya lucunya, badut Harris melambaikan tangan, mengucap selamat pagi sambil mengumbar senyum kepada warga yang menantinya. Sesaat kemudian, lelaki yang juga mengabdikan diri di perpustakaan SDN Bubutan itu membuka tasnya, mengeluarkan buku-buku bacaan yang dibawa.

“Ada 75 buah berbagai buku bacaan, ini untuk diajarkan ke ibu-ibu,” ucap Harris.

Di sebuah petak seperti pos kamling berukuran 3 meter X 3 meter, sang badut dikerumuni sejumlah orang, terutama anak-anak. Sesaat gelak tawa meledak, badut hidung mancung berkacamata dengan membawa boneka itu makin menjadi perhatian banyak orang. Sorak sorai menambah keceriaan di kampung berpenghuni 45 kepala keluarga itu.

“Selamat pagi semuanya, selamat berbahagia. Ayo ibu-ibu, hari ini kita mulai belajar,” ajak sang badut sambil menyiapkan keperluannya.

Dengan semangat  ibu-ibu pun mengambil posisi duduk lesehan di lantai putih ruangan terbuka itu. Ada papan tulis meski terlihat sudah kusam di lokasi itu. Kemudian, dengan sebuah spidol, harris mulai digoreskan huruf-huruf kapital.

“Ayo, silahkan disimak huruf-huruf ini,” ucapnya.

Sambil membagikan buku bacaan, Harris mengajak ibu-ibu untuk menyimak dan menyilakan mereka untuk mengeja penggalan kata dan kalimat. Proses belajar pun berlangsung gayeng yang terkadang diselingi gelak dan tawa berkat sisipan humor dati Harris.

Baca Juga: Badut Pejuang Pendidikan, Berantas Buta Aksara

Harris menyebut minat ibu-ibu kampung tersebut sangat luar biasa.Bahkan, rela menunda untuk berkegiatan di dapur. “Senang sekali ada yang mengajari membaca dan menulis. Apalagi yang mengajari badut, jadi tidak malu,” ucap Tutik salah seorang ibu yang ikut belajar.

Seperti yang disampaikan Tutik, ibu-ibu lainnya juga mengaku senang ada orang yang peduli, yang tidak memungut bayaran dan datang ke kampungnya memberikan pelajaran membaca dan menulis.

“Saya belum pernah menemui, ada orang seperti Mas Harris yang keluar masuk kampung, mengajari membaca dan menulis, termasuk yang dilakukan di kampung saya ini,” ucap ibu lainnya, sambil berharap kegiatan tersebut bisa berlanjut.

Harris pun mengaku juga senang, di kampung itu mendapat sambutan meriah. Minat ibu-ibu juga tinggi untuk bisa membaca dan menulis. “Senang melihat ibu-ibu di sini, mereka antusias ingin untuk bisa membaca dan menulis. Bahkan, mereka meminta dijadwalkan kembali untuk bisa belajar seperti ini,” kata Harris.

Harris menyatakan, yang dilakukannya adalah bagian dari ikrarnya. Setelah lulus dari kampus dia memang meniatkan diri terjun di masyarakat, mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada mereka yang buta aksara.

Saat itu, sekitar dua jam proses belajar berlangsung, Harris pun mengakhiri dan pamit, sambil mengatakan pertemuan lajutan bisa diatur di kemudian hari.

Eko salah seorang warga yang melihat aksi yang dilakukan Harris di kampungnya mengaku kagum dan menyambut baik kegiatan semacam ini. Dia mengatakan tidak habis pikir dengan kegiatan sosial tanpa pamrih yang dilakukan lelaki tersebut.

“Luar biasa. Jujur saya kagum dengan yang dilakukan Harris. Tidak mudah kita menemukan orang seperti dia, mau meluangkan tenaga dan waktunya untuk mengajari warga yang belum bisa membaca dan menulis. Ini layak mendappat penghargaan,” katanya.

Meski mengaku tidak mengetahui pasti jumlah warga buta aksara, khusunya di Surabaya, Harris bertekad menggunakan waktunya di jalanan. Keluar masuk kampung menawarkan dan mengajak siapa saja yang belum bisa membaca dan menulis untuk dibimbing dan diajari, sampai bisa. Sungguh mulia yang dilakukan sang badut ini, ia melakukan yang terbaik untuk bangsanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here