Kelompok Imigran AS Mulai Galang Kekuatan

0
75
Seorang perempuan mendemo kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump di New York, 17 February 2017. (Foto: REUTERS)

Nusantara.news, Washington – Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat diinformasikan telah menyusun draf baru terkait imigrasi. Aturan tersebut ditujukan untuk secara agresif menahan dan mendeportasi imigran ilegal yang tinggal di AS. Sementara itu, kelompok imigran AS mulai menggalang kekuatan. Mulai dari mogok nasional hingga membentuk jaringan komunikasi lewat sosial media.

Sebagaimana dilaporkan Time (20/2), memo draf tersebut ditandatangani oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri John Kelly pada Jumat (17/2) lalu. Peraturan ini akan digunakan pemerintahan Donald Trump untuk menindak tegas para imigran ilegal di negeri Paman Sam.

Kelly juga berencana mempekerjakan ribuan agen penegakan hukum tambahan terkait imigran ilegal. Hal ini guna memperluas daftar prioritas imigran yang dideteksi hingga dilakukan penangkapan.

“Gelombang imigran ilegal di perbatasan selatan telah membuat agen-agen federal dan sumber daya di sana kewalahan, dan telah menciptakan kerawanan keamanan nasional yang signifikan bagi Amerika Serikat,” tulis Kelly dalam memonya.

Kelly khawatir melihat data lonjakan imigran yang masuk ke AS dari 10.000 per bulan pada 2015 menjadi 15.000 per pada 2016.

Aturan baru ini bakal mengganti peraturan sebelumnya, pada pemerintahan Presiden Obama yang dinilai lebih kompromistis. Pemerintahan Obama telah melindungi sekitar 750.000 imigran sejak awal tahun 2012.

Presiden Trump sebelumnya telah menunjukkan keinginan untuk mengakhiri program imigrasi Obama, tetapi dalam konferensi pers hari Minggu (19/2), dia menunjukkan sikap bahwa dia akan “berbesar hati” terhadap program Obama tersebut.

Memo Kelly yang belum terkonfirmasi itu dilaporkan pertama kali oleh Washington Post dan AP. Awalnya, memo tersebut akan dirilis pada Jumat (17/2) di Gedung Putih, namun entah mengapa tertunda.

Joanne Lin, penasihat senior untuk American Civil Liberties Union (ACLU) mengkritik draf yang diusulkan tersebut.

“Pemerintahan Trump berniat melakukan kekejaman kepada jutaan keluarga imigran di seluruh negeri,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Galang kekuatan

Sementara itu, kebijakan-kebijakan pemerintahan Donald Trump yang dianggap tidak ramah terhadap imigran mulai mendapat gelombang protes. Jumat (17/2) lalu, sekelompok pekerja imigran melakukan aksi unjuk rasa di Chicago, Los Angeles dan New York.

Sehari sebelumnya, ribuan pekerja imigran di AS melakukan mogok massal dengan tajuk “Hari Tanpa Imigran” yang dilakukan untuk menunjukkan betapa besarnya kontribusi tenaga kerja imigran bagi perekonomian Amerika.

Strike4Democracy, salah satu kelompok yang mengorganisir pemogokan pada Jumat, mengatakan ada lebih dari 100 orang yang melakukan aksi unjuk rasa, dan mereka mengharapkan aksi serupa menjalar ke seluruh Amerika.

Di New York, ada lebih dari 16 ribu orang menanggapi sebuah halaman Facebook yang dibuat dalam rangka aksi unjuk rasa di Washington Square Park di Manhattan. Kurang dari 200 pengunjuk rasa berada di taman tersebut selama kurang lebih satu jam.

Kristal Thornebrooke, salah seorang penyelenggara, mengatakan aksi dimaksudkan untuk memicu diskusi tentang bagaimana seharusnya aktivis dapat melakukan langkah-langkah dalam “memerangi” agenda Trump terkait agresifitasnya terhadap imigran.

“Memperkenalkan diri kita kepada orang-orang, mendengarkan masukan, mendengar keprihatinan mereka dan kemudian membangun dari tempat masing-masing, ini adalah tahap awal dari sebuah organisasi,” katanya sebagaimana dilaporkan Reuters Sabtu (18/2).

Di pusat kota Los Angeles, demostrasi diadakan di Regent Theater, puluhan demonstran membawa sejumlah poster bertulis, “Melawan kebodohan larangan imigran”

“Saya memiliki teman-teman dan anggota keluarga imigran gelap, dan saya takut mereka akan dideportasi,” kata Priscilla Alburquenque, seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang mengikuti demonstrasi.

Sehari sebelumnya, sebagaimana dilaporkan rewire.news (16/2) kelompok pekerja imigran menanggapi kebijakan anti-imigran Trump dengan melakukan aksi mogok nasional. Pemogokan masal itu sebagai respon atas nota eksekutif Trump yang dianggap represif yang mengakibatkan penahanan hampir 700 orang tidak berdokumen resmi.

Para peserta aksi mogok nasional mengancam bahwa aksi tersebut masih akan berlanjut di hari-hari mendatang. Sejumlah restoran di AS tutup selama “Hari Tanpa Imigran”, baik untuk menunjukkan solidaritas atau karena tidak adanya tenaga kerja imigran yang masuk, mereka akhirnya tidak dapat beroperasi.

Sejumlah 1,3 juta imigran gelap bekerja di industri restoran dari total 12 juta pekerja. Industri restran AS akan sangat kehilangan tanpa kehadiran mereka.

Di North Carolina, di mana Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) baru-baru ini menahan setidaknya 20 imigran gelap, restoran dan toko-toko di sana menunjukkan solidaritasnya.

Durham Foods Bandingkan, rantai kelontong Latino, akan menjadi lokasi pusat untuk rally Un Día Sin Inmigrantes, yang diselenggarakan oleh Pemanasan Migratoria, sebuah organisasi hak imigran berbasis di Carolina Utara. Chapel Hill Bagel Bar akan tetap buka pada hari Kamis karena aksi mogok pekerja imigran restoran, tetapi dalam pernyataan , pemiliknya mengatakan mereka tidak akan di mana mereka sekarang tanpa pekerja imigran.

Imigran gelap berkontribusi terhadap ekonomi AS sekitar USD 11,6 milar setiap tahunnya, termasuk hampir USD 7 miliar pada penjualan dan pajak cukai dan USD 3,6 miliar pajak properti. Para pekerja imigran ilegal pada umumnya adalah pekerja keras, dan mereka membayar tarif pajak efektif yang lebih tinggi.

Kontribusi Imigran Terhadap Ekonomi AS

Menurut situs resmi Departemen Keuangan AS, imigran di AS tidak hanya merupakan bagian integral dari budaya Amerika dan masyarakat tetapi juga kontributor penting bagi perekonomian AS. Imigran bekerja dan membayar pajak serta menciptakan produk baru, bisnis, dan teknologi yang membuka lapangan pekerjaan bagi semua penduduk Amerika.

Penelitian Small Business Administration menunjukkan, imigran lebih mungkin untuk memulai bisnis daripada non-imigran.

Imigran memiliki bisnis di berbagai industri dan memberi kontribusi besar bagi sektor pekerjaan dengan keterampilan rendah maupun high skill. Secara keseluruhan, imigran memiliki 10,8 persen dari semua perusahaan yang memiliki karyawan di AS, memberikan kesempatan kerja bagi ribuan orang Amerika.

Banyak ilmuwan yang paling produktif dan insinyur yang lahir di negeri asing, menjaga AS di garis depan inovasi global. Pada tahun 2006, imigran di AS memainkan peran dalam 24,2 persen dari paten aplikasi internasional. Inovasi mengarah pada peningkatan produktivitas bagi pekerja AS dan akhirnya menciptakan standar hidup yang lebih tinggi untuk semua orang Amerika.

Para imigran juga membantu menyediakan kepemimpinan bisnis dalam mengembangkan produk baru dan industri. Sebagai contoh, sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa antara tahun 1990 – 2005, imigran menguasai 25 persen usaha yang didukung perusahaan publik AS, yang mempekerjakan lebih dari 200.000 pekerja AS.

Sejumlah perusahaan garis depan revolusi digital didirikan oleh imigran misalnya Intel, Sun Microsystems, eBay, Google, dan Yahoo, untuk mengambil sejumlah contoh.

Amerika sejak dulu dikenal sebagai negara terbuka, yang menyambut semua orang yang punya mimpi dan cita-cita sukses di negara itu, karena itu ada ungkapan ‘American Dream’. Dan faktanya, imigran punya kontribusi besar terhadap AS. Tapi, dengan kebijakan Presiden Trump sekarang yang cenderung kaku terhadap imigran, apakah AS masih menjadi mimpi bagi warga negara asing? Dan apakah Trump menutup mata atas peran imigran di negaranya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here