Kelompok Perempuan AS Melawan

0
120
Protes Women's March (sumber: chicagotribun)

Nusantara.news, Wahington DC – Sesuai prediksi, kebijakan-kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengundang kontroversi akan mendapat sejumlah perlawanan. Kaum perempuan AS sudah menunjukkan reaksi lewat demonstrasi besar-besaran sehari setelah Presiden Trump dilantik. Tak kurang dari setengah juta orang terlibat dalam demonstrasi bertajuk Women’s March di jantung kota Washington DC, lokasi dimana sehari sebelumnya Trump diambil sumpah sebagai presiden.

Sejumlah artis dan selebriti tampak hadir, antara lain bintang film Ashley Judd, America Ferrera, Jessica Chastain, Chloe Graze Moretz, Rossie Perez, Bella Thorne, penyanyi Cher, supermodel Chrissy Teigen, sutradara Michael Moore, hingga aktivis feminis Gloria Steinem.

Tidak hanya di Amerika, Trump juga mendapat protes keras dari kelompok-kelompok perempuan di sejumlah negara. Pada hari yang sama (21 Januari 2017) mereka melakukan aksi protes dari pusat-pusat kota di berbagai belahan dunia. Tidak hanya perempuan, gelombang protes juga diikuti peserta laki-laki.

Penyelenggara “Women’s March to Washington DC” mengatakan ada sekitar 673 unjuk rasa serupa yang direncanakan di seluruh Amerika, terutama di kota-kota besar seperti New York, San Fransisco dan Boston, dan juga di negara-negara lain.

Di Perancis, mahasiswa AS di sana berunjuk rasa di sekitar Menara Eiffel. Mereka meneriakkan yel-yel “Hak Perempuan adalah Hak Asasi Manusia,” serupa dengan yel-yel yang diteriakkan di Washington DC. Lebih dari 40 kelompok feminis dan anti-rasialisme ikut serta dalam unjuk rasa tersebut seperti dikabarkan Associated Press.

Di Australia, unjuk rasa berlangsung di pusat kota Sydney. Para demonstran membawa beragam poster yang intinya bahwa isu kebencian bukan hanya masalah di Amerika. Sejumlah poster misalnya bertuliskan, “Feminism is My Trump Card” dan “Fight Like a Girl.”

Di Praha, cuaca dingin tak menghalangi warga untuk berpartisipasi dalam unjuk rasa. Ratusan orang berkumpul membawa poster-poster Trump dan pemimpin Rusia Vladimir Putin. Protes-protes bernada sama juga terjadi di London, Inggris hingga Yangon Myanmar.

Warga Tak Percaya Janji Presiden Trump

Dalam aksi yang digelar di banyak tempat itu, pada intinya orang-orang tidak percaya dengan janji-janji Trump yang akan memimpin pemerintahannya dengan mewakili seluruh harapan warga AS.

Orang-orang yang berunjuk rasa ingin mengirim pesan kepada Presiden Trump bahwa bahwa hak-hak perempuan adalah hak asasi manusia. Berbagai isu yang diprotes diantaranya terkait kesetaraan jender dan ras, desakan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, terutama kekerasan dalam rumah tangga dan pemerkosaan di lingkungan kampus, hak aborsi, perlindungan warga difabel, perlindungan bagi imigran dan komunitas LGBT dan isu lingkungan hidup.

Isu layanan kesehatan juga menjadi sorotan dalam protes tersebut, terutama terkait rencana Trump menghapus layanan asuransi Obamacare yang sudah diikuti sekitar 20 juta warga AS.

Sementara itu, Donald Trump menanggapi aksi protes warga sebagai hal yang biasa dalam demokrasi. Bahkan di akun twitternya, Trump membuat pernyataan yang mengejek aksi Women’s March.

“(Saya) nonton unjuk rasa itu tapi kita kan baru saja melewati pemilu!” kata Trump di Twitter dari Gedung Putih.

“Kenapa mereka tidak memilih? Seleb sakit hati,” lanjutnya.

Dua jam setelah itu Trump kembali mentwit, “Unjuk rasa damai adalah ciri demokrasi kita. Walaupun saya tidak setuju, saya menghargai hak orang-orang untuk mengekspresikan pendapat mereka.”

Donald Trump sejauh ini masih menjadi sosok fenomenal, di satu sisi dia dianggap seorang populis yang mewakili kepentingan-kepentingan rakyat bawah AS, tapi di sisi lain kebijakan-kebijakan Trump menuai protes besar dari warganya sendiri karena dianggap tidak berpihak kepada warga. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here