Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran, Obama Sebut Trump Sesat

0
296
Trump menandatangani pencabutan atas kesepakatan program pembatasan nuklir Iran

Nusantara.news Washington – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani pernyataan keluar dari kesepakatan program pembatasan nuklir Iran sekaligus memberlakukan kembali sanksi. Keputusan itu dibuat di Gedung Putih pada Selasa (8/5) kemarin.

Dalam ulasannya Trump menyebut kesepakatan nuklir Iran pada 2015 sebagai bencana dan memalukan bagi AS, yang dianggap tidak melakukan apa pun untuk menahan ambisi nuklir Iran. “Saya mengumumkan hari ini, AS akan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran,” katanya dalam pidato di Gedung Putih.

Perjanjian pembatasan program nuklir Iran sebelumnya dianggap sebagai titik temu kepentingan sejumlah negara seperti Inggris, China, Perancis, Jerman, Iran dan Rusia. Namun Trump menganggap kesepakatan itu keputusan yang cacat. Sebab, tandas Trump: “Kita tidak dapat mencegah bom nuklir Iran yang rusak dan struktur yang lapuk dari perjanjian saat ini.”

“Kami tidak akan membiarkan kota-kota Amerika diancam dengan kehancuran,” lanjut Trump dengan gaya populisnya yang disukai kaum tidak terdidik di negaranya. “Kami tidak akan membiarkan rezim yang menyebut ‘Matilah Amerika’ untuk mendapatkan akses ke senjata paling mematikan di Bumi.”

National Public Radio melaporkan, Trump membenarkan keputusannya berdasarkan pandangannya terhadap kecacatan dalam kesepakatan nuklir. Dia menyebutkan perjanjian yang berakhir pada 2030 memungkinkan Iran melanjutkan program pengembangan nuklir.

Trump berpendapat, perjanjian itu akan memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah. “Semua orang ingin senjata mereka siap, saat Iran memiliki senjata (nuklir),” kata Trump.

Menuai Kecaman

Namun keputusan Trump menuai kecaman dari berbagai kalangan. Mantan Presiden AS Barack Obama sebagaimana dikutip dari USA Today Selasa (8/5/2018), mengaku khawatir. Keputusan Trump bukan hanya merenggangkan hubungan AS dengan sekutunya di Eropa, melainkan juga berpotensi menyebabkan perang lain di Timur Tengah.

Bahkan Obama menawarkan lebih dari 1.000 ringkasan mengapa kesepakatan itu dibutuhkan untuk menjaga perdamaian. Kesepakatan nuklir Iran, imbuh Obama, sama artinya dengan berusaha membangun hubungan dengan Korea Utara (Korut).

“Karena itu, saya menyebut keputusan yang dibuat hari ini (Selasa) adalah sesat,” ulas Obama sebagaimana diberitakan CNN. Presiden yang berkuasa pada periode 2009-2017 itu menegaskan, kredibilitas AS bakal terkikis karena tidak memenuhi komitmennya.

Mantan Presiden AS yang masa kecilnya pernah tinggal di Jakarta itu memahami di setiap pergantian pemerintahan, sering terjadi pula pergantian kebijakan luar negeri. Dia juga menyadari Iran cenderung mendukung terorisme. Iran juga dianggap bisa mengancam sekutu AS Israel, dan negara kawasan lain. “Karena itulah, penting bagi kita untuk mempertahankan perjanjian itu,” tegasnya.

Obama takut, keinginan Trump untuk keluar bakal membuat rezim Hassan Rouhani memproduksi senjata nuklir, dan berpotensi menimbulkan perang di Timur Tengah. “Jika perjanjian dengan Iran hilang, kita bakal melihat hari di mana kita bakal hidup dengan ancaman, atau terpaksa berperang untuk menghindarinya,” kata Obama.

Tidak hanya Obama, mantan Menteri Luar Negeri John Kerry juga menyuarakan kekhawatiran. Kerry adalah sosok yang menciptakan perjanjian itu. Kesepakatan bernama Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) itu diteken Iran bersama AS, Perancis, Inggris, Rusia, China, dan Jerman.

Kerry menyebut, keputusan Trump akan mengisolasi AS dari sekutu Eropa, menempatkan Israel dalam bahaya, hingga menghancurkan usaha yang sudah dibuat sepanjang tiga tahun terakhir. “Secara harfiah, presiden telah membuat krisis di mana seharusnya tidak ada situasi yang berpotensi menjadi krisis,” kata Kerry dalam wawancara dengan MSNBC.

Kecaman juga datang dari Rusia yang dikenal sebagai sekutu Iran dan Suriah dalam konflik Timur Tengah. Rusia menyatakan sangat kecewa mengetahui Amerika Serikat ( AS) memutuskan keluar dari perjanjian nuklir Iran.

Dalam pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri, mereka menyebut AS kembali melakukan tindakan yang egois, dan hanya berdasarkan kepentingannya sendiri.

Sebagaimana diberitakan Russian Today Selasa (8/5/2018), Kremlin menyatakan AS telah melanggar hukum internasional. Sebab, tidak ada urgensi untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran. “Apa yang dilakukan AS menunjukkan mereka tidak bisa bernegosiasi,” kata Kemenlu Rusia.

Para wakil rakyat Negeri “Beruang Merah” juga menyatakan hal serupa. Baca juga : Trump: AS Keluar dari Perjanjian Nuklir Iran Ketua Komite Hubungan Internasional Majelis Rendah Rusia (Duma), Leonid Slutsky, menyebut Presiden AS Donald Trump telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

“Dia (Trump) juga merusak usaha diplomasi yang dibangun bertahun-tahun, dan menciptakan ancaman bagi keamanan internasional,” kecam Slutsky.

Maka dia pun mendesak negara yang lain untuk menunjukkan tindakan yang bijaksana dengan mempertahankan kesepakatan itu.

Sedangkan Senator Rusia Andrey Klimmov memperingatkan Korea Utara (Korut) yang dijadwalkan bakal bertemu dengan Washington. “Ini merupakan sinyal yang jelas kepada Pyongyang. Saya harap mereka tidak percaya kepada AS begitu saja,” kata Klimov.

Boing Merugi

Selain mendapatkan kecaman dari berbagai penjuru – kecuali dari Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan Arab Saudi sebagai sekutu terdekat AS – keputusan Trump akan mengancam potensi pemasukan dari perusahaan multinasional Boeing.

Perusahan pesawat terbesar di dunia ini telah memiliki kesepakatan penjualan armada total senilai 20 miliar dollar AS atau Rp 281,8 triliun kepada maskapai Iran.

Sebagaimana diberitakan CNBC, pada kuartal pertama tahun ini, Boeing memperoleh order lebih dari 5.800 pesawat, termasuk lebih dari 4.600 pesanan untuk Boeing 737. Boeing memang belum mencatatkan proyek dari maskapai Iran pada buku pesanannya. Namun, pesaing Boeing, Airbus, telah memasukkan order dari maskapai Iran ke dalam daftarnya.

“Terkait pengumuman hari ini, kami akan berkonsultasi dengan pemerintah AS untuk langkah selanjutnya,” tulis pernyataan manajemen Boeing.

Diwartakan CNN Money, Boeing telah menyepakati penjualan 80 unit pesawat kepada Iran Air dan tambahan 30 unit pesawat untuk Iran Aseman Airlines. Sebelumnya, Boeing pernah menyatakan kesepakatan terbesarnya dengan maskapai Iran pada Desember 2016.

Saat itu, Iran Air memesan 80 pesawat jet, termasuk 50 unit Boeing 737 MAX 8. Kemudian pada April 2017, Iran Aseman Airlines menandatangani perjanjian pembelian 30 unit pesawat Boeing 737 Max dan akan ditambahkan lagi sebanyak 30 unit.

Ketika mengumumkan kesepakatan dengan Iran Air, Boeing menyebutkan pemesanan pesawat itu mampu menciptakan 100.000 lapangan pekerjaan di AS.

Pada bulan yang sama, Airbus menyatakan, menjual 100 unit pesawatnya kepada Iran Air. Kendati negara Eropa tidak mengenakan sanksi kepada Iran, penjualan Airbus ke Iran bisa dihambat oleh sanksi AS, sejak Airbus menggunakan sebagian bahan baku dari AS.

“Kami secara hati-hati menganalisis pengumuman tersebut,” ujar Airbus dalam pernyataan.

Dengan demikian keputusan Trump bukan saja merugikan potensi bisnis perusahaan AS yang menjalin hubungan perdagangan dengan Iran, melainkan juga merusak rencana bisnis perusahaan-perusahaan besar AS – sebut saja Air Bus yang sebagian pesawatnya menggunakan komponen buatan Boing, []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here