Keluar Masuk Kampung Mendongeng Tanpa Bayaran

0
314

Nusantara.news, Surabaya – Lelaki ini bernama Harris Rizky (34), penampilannya biasa saja, kalem dan cepat akrab saat Nusantara.news menemuinya di Kampung Pawiyatan, sekitar Jalan Semarang, di Surabaya, Minggu (29/1/2017).

Lelaki lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ‎dan suami dari Yenni Rahmawati ini mengaku sejak tahun 2015 menerjunkan diri sebagai relawan sosial.

Dengan berpakaian badut atau juga pakaian khas Punakawan (empat tokoh yang berperan lucu dalam serial pewayangan), ia berkeliling dari kampung ke kampung, utamanya kampung miskin atau daerah pinggiran. Di setiap kampung yang disinggahinya ia  mendongeng untuk anak-anak sambil dan mengajarkan membaca dan menulis. Tidak hanya untuk anak-anak, tetapi terkadang ia juga mengajarkan membaca dan menulis untuk orang dewasa yang buta aksara.

Baca Juga: Keliling Mengajari Baca Tulis Sudah Diikrarkan Sejak Mahasiswa

Pesan yang disampaikan dalam dongengnya umumnya berisi seputar kehidupan masyarakat saat ini. Ada juga kisah tentang perjalanan Bangsa Indonesia di masa lalu yang berjuang bahu-membahu untuk melepaskan ‎diri dari penjajahan kolonial menuju Indonesia Merdeka.

Tema lain yang ia tuturkan adalah seputar perkembangan jaman, termasuk dengan berbagai probelmatiknya. Tentu saja, saat mendongeng untuk anak-anak ia menyesuaikan dengan melalui cara bertutur yang dapat dimengerti oleh mereka.

Demi menghibur anak-anak, utamanya warga miskin, pekerjaan itu ia lakoni tanpa pamrih alias tanpa mengharap bayaran.

Pagi itu, ‎dengan mengendarai sepeda motor, Harris Rizky keluar dari rumahnya di kawasan Perumahan Bluru Permai, Sidoarjo. Ia telah menjadwalkan berkeliling untuk melakukan survei menuju kampung-kampung kumuh secara berurutan dan dianggap layak untuk ‘aksi sosialnya’.

“Ayo Mas, kita jalan ke Surabaya, survei ke sejumlah kampung yang kita jadwalkan untuk didatangi ‎besok,” ajak Harris kepada Nusantara.news yang sengaja ingin mengikutinya.

Satu jam kemudian kami tiba di kampung Pawiyatan, sebuah kampung kecil dan tidak seperti kampung-kampung lain yang lebih baik di Surabaya. Kampung ini ‎berada di dekat SPBU Jalan Semarang, Surabaya.

“Ini Mas kampung yang saya datangi besok Senin (30/1/2017),” katanya kepada Nusantara.news. “Di kampung ini saya akan mendongeng dan mengajari baca tulis untuk warga yang masih buta aksara,” ucap Harris sambil berjalan menyusuri kampung tersebut.

Layaknya orang bertamu, ‎ini menemui ketua RT setempat untuk meminta ijin, guna bisa mengajari warga setempat. Gayung bersambut, ketua rukun tetangga di kampung itu tidak keberatan.

Kemudian, setelah urusan itu selesai, Harris pun menceritakan perjalanan profesi mulia yang ia lakukan tanpa pamrih itu. Di sebuah warung kopi sederhana, sambil menyeruput susu coklat, dia  bertutur tentang kisah hidup yang di lakoninya.

Lelaki kelahiran Surabaya ini mengaku bisa menyelesaikan kuliah di Unesa karena dapat bea siswa Bimbingan Belajar Mahasiswa (BBM) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti),

Tahun 2015, usai menempuh pendidikan sarjananya, ia memutuskan untuk hidup di jalanan, keluar masuk kampung-kampung kumuh. Tujuannya, mendongeng, mengajarkan baca tulis untuk mereka yang masih buta aksara.

“Agar anak-anak tertarik, saya selalu menggunakan pakaian badut atau pakaian khas wayang orang,” kata Harris sambil menunjukkan sejumlah foto busana khas tokoh-tokoh pewayangan yang ia kenakan dalam menjalani profesinya.

Dia mengaku, meski jumlahnya tidak banyak, pakaian khas kesenian Nusantara dan badut yang dimiliki ‎tersebut dibeli sendiri, dikumpulkan sejak dirinya masih duduk di bangku kuliah. “Pakaian beli sendiri Mas, saya kumpulkan mulai masih kuliah dulu,” katanya.

Untuk keperluan merias wajahnya, dia juga selalu membawa perlengkapan pendukung, utamanya bedak, alis mata‎, dan pewarna wajah.

Kerukunan dan Gotong Royong Nyaris Punah

Harris mengaku, ia tidak memungut bayaran dari anak-anak atau warga  yang kampungnya didatangi. “Mereka mau mendengarkan dongeng, dan menikmati baca tulis yang saya ajarkan, saya sudah senang,” tambahnya.

Lelaki yang baru menikah ‎Juni 2016 ini mengaku, kenikmatan dan perasaan puas didapat saat anak-anak atau warga sebuah kampung  berkumpul dan mendengarkan dongengnya.

Dalam mendongeng aspek humor atau kisah lucu tak lupa juga selipkan agar anak-anak dan warga lebih tertarik. Kisah-kisah heroik, misalnya saat Bangsa Indonesia bahu membahu mengusir penjajah, sering ia jadikan materi dalam mendongeng.

Ada pula kisah-kisah yang menggambarkan kerukunan dan gotong royong sebagai ciri budaya bangsa Indonesia, yang menurut Harris semakin terkikis. “Itu kan penting, apalagi sekarang ini, gotong-royong dan kerukunan nyaris punah,” tegas dia.

Kepada Nusantara.news ia menuturkan, aksi sosial akan dilakukan Senin (29/01/2016), dimulai pukul 10.00 wib. Akisnya akan dimulai dari sekolah SDN Pawiyatan, tak jauh dari perkampungan yang akan dituju. “Ketemu Senin besok ya Mas. Kita bareng menuju Kampung Pawiyatan. Terimakasih Mas atas waktunya, mau mengikuti saya,” katanya.

Sosok pemuda seperti Harris tergolong langka dijumpai saat ini. Kerja sosial tanpa pamrih demi memintarkan dan mencerdaskan anak-anak dan warga miskin dilakukannya hari demi hari. Di tengah suasana politik yang diwarnai tuturan sarkas dan saling hujat di kalangan elit politik demi mengejar agenda kepentingan, Harris mengajarkan kepada anak-anak tentang makna budi pekerti, kerukunan dan gotong royong, tanpa pamrih apapun. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here