Keluarga Batal Pindahkan Makam Tan Malaka dari Kediri, Diganti Salat Gaib

0
216

Nusantara.news, Surabaya – Pro kontra pemindahan Tan Malaka oleh Pihak keluarga batal memindahkan makan Tan Malaka dari lokasi yang diduga berada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Sebagai gantinya, akan ada prosesi adat  berupa penobatan gelar dari Ibrahim Datuk Tan Malaka kepada keponakannya Hengki Novaro Arsil, 21 Februari 2017 mendatang.

Kepastian itu dikemukakan, Habib Datuk Monti dari Tan Malaka Institut usai bertemu dengan Wakil Bupati Kediri Masykuri di Kantor Pemkab Kediri, Senin (6/2/2017). “Itu semua merupakan bagian dari ritual adat agar penobatan gelar bisa dilangsungkan,” terangnya.

Sedangkan untuk jasad yang selama ini diduga merupakan Tan Malaka, pihak keluarga menyerahkan keputusannya kepada pemerintah pusat. Dengan status pahlawan nasional, prosesi pemindahan makam Tan Malaka memang harus mengikuti aturan yang berlaku. “Kami akan mentaati aturan pemerintah yang berlaku. Ibrahim (panggilan pihak keluarga, Red) memang milik Bangsa Indonesia,” kata Datuk Monti.

Ia menjelaskan, nantinya dalam acara itu akan dilakukan shalat gaib. Selain itu, juga akan ada ritual untuk penyebutan gelar, hingga pemakaian pakaian kebesaran. Sejumlah pemuka adat rencananya akan menghadiri kegiatan itu. Prosesi itu lantas diakhiri dengan membawa tanah makam secukupnya untuk dibawa pulang ke Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Namun Datuk Monti berharap, pemerintah terbuka hatinya, dengan memberikan tanggung jawab moral. Sebagai pegiat pemikiran Tan Malaka, jika hal itu dilakukan pemerintah tentunya akan memberikan semangat bagi pegiat pemikiran Tan Malaka, sehingga berbagai ilmu yang ditinggalkan Tan Malaka bisa diaplikasikan secara bebas.

Terkait dengan hasil pertemuan dengan Wakil Bupati Kediri, Monti mengatakan hasil rapat itu akan dirapatkan kembali oleh Pemkab Kediri. Rencananya, dari keluarga juga akan kembali bertemu dengan Kementerian Sosial pada Rabu (8/2/2017) di Jakarta, untuk menindaklanjuti rencana pemindahan makam Tan Malaka.

Staf Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat Adi Darma menambahkan, pemerintah daerah memang sangat mendukung rencana untuk penobatan gelar tersebut. “Pemda hanya memfasilitasi supaya bisa berjalan dengan lancar, karena tujuannnya baik. Agenda tanggal 21 Februari hanya berupa penobatan gelar, soal pembongkaran jenazah itu kewenangan pusat,” katanya.

Sesuai dengan adat yang berlaku, jika ada penghulu yang meninggal dunia maka dilakukan pelantikan ataupun penobatan untuk penggantinya. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here