Kemampuan Polri Hebat, Sayang Banyak Kasus tak Terungkap

1
289
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian bersalaman dengan para undangan saat peringatan HUT ke-71 Bhayangkara di Lapangan Monas, Jakarta, Senin (10/7). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/pras/17.

Nusantara.news, Jakarta – Kemampuan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mengungkap kasus-kasus besar tidak perlu diragukan lagi. Sebut saja pengungkapan kasus Bom Bali I di Jl Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 jiwa dari 22 negara, terbanyak Australia dengan 88 jiwa, Indonesia 38 jiwa, Britania Raya 26 jiwa, Amerika Serikat (AS) 7 jiwa, dapat diungkap oleh Polri dalam tempo kurang dari satu bulan.

Keberhasilan Polri itu mendapatkan pujian dari dunia Internasional. Padahal, selama berhari-hari polisi berusaha menemukan nomer mesin mobil yang ditinggalkan pengebom. Kala itu Polri sudah menggunakan cara modern Scientific Crime Investigation (SCI) dalam mengungkap suatu perkara. Bahan peledak yang digunakan sudah teridentifikasi pada 20 Oktober 2002, berupa RDX seberat 50-150 Kg. Sedangkan bom satunya lagi yang meledak di dekat Konsulat AS berupa TNT seberat 0,5 Kg.

Secara teori sekecil apapun kejahatan akan meninggalkan jejak. Namun jejak yang ditinggalkan pelaku pemboman di Jl Legian, samping Paddy’s Cafe dan Sari Club hanya puing-puing mobil yang terbakar. Sebelum diledakkan nomor mesin sudah dihapus. Meskipun sudah diupayakan dengan zat kimia namun nomor mesin tetap sulit terbaca. Di tengah keputus-asaan itu seorang penyidik ingat, mobil yang digunakan pengebom adalah L-300 yang biasa digunakan sebagai angkutan umum.

Setiap angkutan umum sudah pasti memiliki nomor uji kir. Nomor uji kir itu yang dicari di tumpukan barang bukti dan ditemukan. Ternyata mobil itu dijual pemiliknya ke warga Pasuruan yang menjualnya lagi ke Amrozi, warga desa Tenggulun, Paciran, Kabupaten Lamongan. Amrozi pun dibekuk di rumahnya, sudah itu 25 nama lainnya dibekuk polisi, termasuk Ali Ghufron alias Mukhlas (kakak Amrozi), Imam Samudra, yang ketiganya sudah dieksekusi hukuman mati dan Ali Imron (adik Amrozi) yang bertindak sebagai whistle blower dihukum seumur hidup.

Dalam kasus lain yang tidak kalah rumitnya seperti kasus perampokan Bank CIMB Niaga, Medan, Sumatera Utara, pada 18 Agustus 2010 juga bukan persoalan sulit bagi Polri. Dalam waktu satu bulan terungkap. Pada 20 September 2010 tercatat 3 pelaku tewas ditembak dan 15 lainnya ditangkap. Kendati senjata yang digunakan perampok jenis AK pabrikan, bukan rakitan, namun polisi tidak buru-buru menyimpulkan keterkaitannya dengan terorisme. Meskipun pada akhirnya terungkap kasus peramokan bank ini terkait dengan terorisme.

Pertanyaannya, kenapa kasus yang relatif mudah, seperti penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan hingga saat ini belum terungkap. Padahal di sekitar lokasi kejadian sudah ada kamera CCTV yang kabarnya sudah di tangan penyidik polisi? Secara tekhnis pengungkapan kasus Novel sesungguhnya tidak terlalu rumit. Persoalan menjadi rumit karena penyiraman air keras itu diduga melibatkan seseorang, dalam pengakuan Novel, berpangkat Jenderal. Siapakah oknum Jenderal itu? Publik pun hanya bisa bertanya-tanya. Hingga berita ditulis tidak jelas siapa nama “oknum” itu.

Belum juga persoalan penganiayaan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang begitu gigih mengungkap kasus pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yang diduga merugikan negara Rp2,3 triliun dengan 2 terpidana dan sudah memanggil 280-an saksi, kini integritas Polri kembali diuji oleh kasus penikaman terhadap ahli telematika ITB Hermansyah yang memberikan kesaksian bahwa foto-foto cabul yang melibatkan Habib Rizieq Shihab adalah hasil rekayasa.

Apakah polisi akan segera menangkap pelakunya? Sebab apabila kasus itu dibiarkan terkatung-katung justru akan memicu spekulasi liar tentang siapa sebenarnya penyerang ahli telematika itu? Oleh karenanya Scientific Crime Investigation yang secara tepat, cepat dan akurat perlu dikedepankan. Paling tidak dalam waktu sebulan, seperti kasus Bom Bali I dan perampokan Bank CIMB Niaga Medan harus terungkap.

Kini selain semakin gelapnya siapa pelaku penyiraman air keras terjadap penyidik KPK Novel Baswedan, setidaknya ada 8 kasus pembunuhan wartawan yang tidak pernah terungkap, sejak kasus pembunuhan wartawan Muhammad Sjafruddin (Udin) 17 tahun silam, hingga kasus pembunuhan Herliyanto, wartawan Radar Bromo, Radar Surabaya, Surabaya Post, Memorandum, Duta dan Surya ini diduga tewas akibat berita yang ia tulis.

Tahun 2013 silam, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pernah merilis delapan kematian jurnalis yang hingga kini tetap gelap, tidak terungkap (dark number). “Apabila polisi tidak serius, maka polisi menjadi bagian dari praktik impunitas terhadap pelaku pembunuhan jurnalis,” tuding Eko Maryadi yang ketika itu masih menjabat Ketua Umum AJI Indonesia., di Jakarta 23 Desember 2013.

Kala itu Eko Maryadi yang lebih dikenal dengan panggilan Item itu memuji langkah Kepolisian Daerah (Polda) Bali yang berhasil mengungkap kasus pembunuhan wartawan Radar Bali AA Gde Narendra Prabangsa sekaligus menyeret sejumlah pelakunya ke Pengadilan. “Apabila polisi serius seperti Polda Bali, itu akan memperbaiki situasi kerja bagi jurnalis,” tandas Item.

Berikut data AJI Indonesia tentang nama-nama jurnalis yang kematiannya masih misterius, meliputi  : (1) Fuad Muhammad Syafriuddin alias Udin, jurnalis Harian Bernas Yogyakarta, tewas di tangan orang tak dikenal pada Agustus 1996; (2) Naimullah, jurnalis Harian Sinar Pagi, ditemukan tewas di Pantai Penimbungan, Kalimantan Barat tahun 1997; (3) Agus Mulyawan, jurnalis Asia Press tewas tahun 1999 di Timor-Timur; (4) Muhammad Jamaluddin, kameramen TVRI yang bekerja dan hilang di Aceh tahun 2003

Selanjutnya, (5) Ersa Siregar, jurnalis RCTI tewas 29 Desember 2003 di Aceh; (6) Herliyanto, jurnalis Tabloid Delta Pos Sidoarjo yang ditemukan tewas di hutan jati Desa Tarokan, Banyuanyar, Probolinggo, pada 2006; (7) Ardiansyah Matra’is Wibisono, jurnalis TV lokal di Merauke yang ditemukan tewas pada 2010 di kawasan Gudang Arang, Sungai Maro, Merauke dan (8) Alfred Mirulewan, jurnalis Tabloid Pelangi ditemukan tewas 18 Desember 2010 di Kabupaten Maluku Barat Daya.

Khusus kasus pembunuhan terhadap Herliyanto, polisi sudah menangkap 3 terduga pelaku yang sudah ditetapkan menjadi tersangka dan memburu 4 terduga pelaku yang melarikan diri. Semoga kasus yang menjadi perhatian UNESCO itu cepat terungkap, mengungat Indonesia tahun ini lewat Dewan Pers Indonesia ditunjuk menjadi penyelenggara Hari Kebebasan Pers se-Dunia. Begitu juga dengan kasus wartawan Udin yang sempat mengorbankan sejumlah nama yang tidak bersalah dan sempat ditahan untuk ditetapkan menjadi tersangka.

Selain itu pembunuhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Akseyna Ahad Dori di kolam yang berada di kompleks UI hingga kini juga belum terungkap. Padahal pembunuhan itu sudah berlangsung sejak 2 tahun yang lalu.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan mengakui kasus Akseyna sebagai utangnya kepolisian. “Kita akan terus (menyelidiki). Ini jadi dark number, artinya utang kepolisian, artinya kita tidak berhenti. Kita akan terus mencari menggali terus informasi, nanti lambat laun informasi akan keluar, kita akan lakukan penindakan dan kita akan tindak lanjuti,” tandasnya, Rabu (21/6) sebelum lebaran lalu.

“Makanya itu yang saya sampaikan, tidak semua bisa terungkap cepat. Karena minim saksi, situasi juga tidak ada yang mendukung, sekitar situ CCTV juga tidak ada, sebab itu ya itu utang saya,” beber Iriawan yang lebih dikenal dengan panggilan Iwan Bule itu.

Karena memang, KUHAP hanya mengatur lamanya penahanan terhadap tersangka, namun tidak pernah mengatur lamanya penyidikan, tapi bukan berarti, kasus dark number dibiarkan bertumpuk dan diwariskan ke penyidik generasi berikutnya. Terlebih anggaran Polri sekarang sudah meningkat menjadi Rp84 triliun dari sebelumnya tahun 2014 hanya Rp40 triliun.

Jadi apa gunanya kenaikan anggaran kalau kasus dark number, seperti kasus pembunuhan wartawan Udin, diwariskan oleh penyidik polisi dari generasi ke generasi?[]

1 KOMENTAR

  1. Saya tidak tahun kerja secara teknis pihak kepolisian, tetapi selalu berharap pada kepemimpinan Pak Tito untuk menuntaskan segala kasus yang terjadi di Indonesia.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here