Kembalikan Kemandirian Benih Lokal untuk Pangan Berdaulat

0
57
Selain pemanfaatan terus menerus yang menggerus kemampuan dalam menghasilkan padi, alif fungsi lahan pertanian juga jadi ancaman tersendiri dalam ketahanan pangan. Di Pulau Jawa, setiap tahunnya ada sekitar 100.000 hektar lahan yang hilang. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww/18.

Nusantara.news, Surabaya – Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jadi pertaruhan dalam percaturan kepentingan global. Dari berbagai potensi distabilitas, politik dan keamanan masih jadi yang terdepan hingga kini. Padahal ada kerawanan lain yang bisa jadi mengubah komposisi negara dan bangsa di dunia. Yakni ancaman krisis pangan yang melanda pada 2050.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Perkembangan populasi manusia di masa itu tidak linier dengan tingkat produksi komoditi pangan. Kendati sudah ada upaya untuk menghasilkan varietas hibrida, seperti melalui rekayasa genetik yang mulai berjalan sejak revolusi hijau digulirkan pada era 1970-an, tapi hasilnya justru membuat masyarakat agraris terperangkap dalam cengkeraman kapitalisme.

Indikasi ini terlihat dari hasil panen padi yang melimpah namun merosot drastis setelah beberapa tahun. Petani seperti terlena dengan benih yang didatangkan dari pabrik kendati dalam prosesnya, penggunaan pupuk kimia tidak terhindarkan. Setidaknya, kearifan lokal yang sudah terbukti selama ratusan tahun dalam pemberdayaan benih, perlahan mulai sirna.

“Petani beralih pada benih yang didatangkan dari pabrik. Apalagi dengan dibumbui bahasa iklan seperti tahan hama, hasil melimpah dan panen lebih cepat. Padahal, sebelumnya biasa menanam padi dari benih yang didapat dari hasil panen sebelumnya,” terang Romi Abrori dalam soft launching Koperasi Benih Kita Indonesia (Kobeta) di Balai Pengembangan Paud Dikmas Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (10/3/2018).

Misi terselubung dalam revolusi hijau itu sukses menjadikan petani Indonesia sebagai perahan industri pertanian. Nyaris tidak terdengar lagi pola tanam yang berbasis lingkungan. Kondisi ini tak hanya terjadi pada komoditi padi. Jika dicermati, hampir semua benih komoditi pangan maupun holtikultura ada dalam cengkeraman korporasi sebagai kaki tangan kapitalisme di dunia pertanian. Kondisi ini sekaligus menegaskan jika kapitalisme bisa berwujud apa saja dan dalam kasus ini, dan petani tetap jadi obyek korban.

“Bisa dibayangkan berapa potensi yang diterima korporasi dalam bisnis benih ini. Itu kalau ngomong soal benih saja belum lagi pupuk, alat pertanian dan banyak lainnya. Di Indonesia ada sekitar 30 juta lahan pertanian. Bayangkan semuanya nyaris mendapat suplai benih dari korporasi yang dari dulu pemainnya hanya itu-itu saja. Hanya mitranya saja di Indonesia yang berbeda saat ini,” tambah pria asal Paiton, Probolinggo tersebut.

Tetapi ada kerugian yang lebih besar untuk jangka panjang. Yakni hilangnya benih-benih lokal yang merupakan hasil riset dan pemahaman akan kondisi geografis warisan nenek moyang. Kerugian ini banyak yang tidak menyadari. Semua seolah terpaku bahwa untuk menghasilkan panen lebih banyak, benih asal pabrik lebih menguntungkan kendati jika mau lebih teliti, cost produksi justru lebih banyak.

Seperti yang dibeber Warno, pendamping petani sekaligus penggiat lingkungan asal Gunung Kidul yang kini bermukim di Papua. Dalam forum diskusi di tengah acara launching Kobeta, Warno sempat menceritakan tentang kesulitannya mengajak petani di Blitar untuk menggunakan benih mandiri, benih simpanan hasil panen sebelumnya.

“Waktu itu saya fokus pada pendampingan pertanian organik. Petani awalnya banyak yang enggan karena merasa hasil panen sedikit dan masa tanam lebih lama. Sama-sama areal satu hektar, hasil panen padi organik tidak sampai 2 ton. Sedangkan sawah reguler yang menggunakan benih dari pabrik berikut pupuk kimia, hasilnya bisa lebih dari 3 ton. Saya kemudian mengajak petani untuk hitung-hitungan ongkos produksi sampai hasil panen, ternyata padi organik punya nilai ekonomis lebih tinggi dengan penggunaan pupuk alami. Baru setelah itu banyak yang tertarik untuk menerapkan pola ini,” terangnya.

Kembalikan Hak Petani Lokal

Genetically modified organism (GMO) atau organisasi yang termodifikasi secara genetika, mendapat tempat untuk kampanye global sejak revolusi hijau atau pertanian modern terjadi. Bukan hanya beberapa komoditi pertanian, organisme yang sudah direkayasa genetiknya juga terjadi pada bakteri,ragi, serangga, ikan maupun mamalia yang lantas dibudidayakan secara luas.

Prinsip umum produksi GMO adalah dengan mengubah materi genetika dari genom suatu organisme. Caranya, bisa dengan melakukan mutasi, penghapusan, atau penambahan materi genetika. Ketika materi genetika dari spesies yang berbeda ditambahkan, hasilnya disebut dengan DNA rekombinan dan organismenya disebut dengan organisme transgenik. DNA rekombinan pertama dihasilkan oleh Paul Berg pada 1972, dua tahun sebelum revolusi hijau melanda Indonesia.

Bukan itu saja. Ada rekayasa melalui riset orang-orang yang dikaruniai kecerdasan dengan menambahkan gen dari spesies yang berbeda yang lazim disebut transfer gen horizontal. Kondisi ini sebenarnya bisa berjalan alamiah ketika ketika DNA dari luar masuk membran sel dengan berbagai cara. Hanya saja, proses yang lamban membuat sebagian lembaga atau individu melakukan percepatan dengan cara sintetik. Sedangkan untuk rekayasa genetika tumbuhan dan hewan, lebih sering menggunakan bakteri sebagai pembawa materi. Seperti agrobacterium untuk transfer gen ke tumbuhan dan lentivirus untuk transfer gen ke hewan.

“Saya pernah berkeliling ke beberapa daerah. Sebenarnya petani Indonesia sudah punya cara yang arif dan sesuai dengan kondisi lokal. Bahasanya memuliakan benih seperti yang pernah jadi tradisi dalam pernikahan di Pulau Kangean (Madura). Di masa lalu, salah satu mas kawin masyarakat sana yang wajib diberikan dalam upacara pernikahan adalah benih padi yang hanya bisa tumbuh di Kangean. Sejak pertanian modern, tradisi itu mulai ditinggalkan. Apalagi nyaris sudah tidak ada lagi bibit padi unggulan yang masih tersimpan,” kata Romi Abrori menceritakan ihwal dirinya menggagas Forum Benih Lokal Berdaulat (BLB).

Namun Romi mengaku tidak patah arang. Kendati benih padi ada masa expired-nya, dia masih yakin di beberapa lumbung padi di Kangean masih tersisa serumpun-dua rumpun bulir yang bisa diselamatkan jika serius dicari. Sebab, sudah banyak contoh kasus benih lokal punah setelah gempuran benih korporasi yang datang melalui skema subsidi. Itikad beberapa petani untuk memuliakan benih secara mandiri juga sempat berhadapan dengan kasus hukum seperti yang terjadi di Kediri.

Kepunahan masih pun jadi ancaman. Padahal benih asli turun temurun tersebut merupakan bahan dasar untuk menghasilkan benih-benih yang unggul dan adaptif. “Kondisi ini, dalam keadaan perubahan iklim, dapat memastikan kita akan menghadapi krisis pangan,” ujar Romi.

Fenomena global akhir-akhir ini, benih GMO sudah mulai ditinggalkan. Terutama di negara-negara maju. Masih terngiang kabar tentang pembangunan kubah raksasa di Norwegia beberapa pekan lalu. Kubah beton yang diklaim untuk menghadapi hari kiamat itu dipenuhi dengan aneka kebutuhan pokok dan pangan manusia. Termasuk menyediakan bibit tanaman lokal dari penjuru dunia yang salah satunya benih padi lokal asal Indonesia. Tak hanya ditinggalkan, mereka juga menggalang sikap anti mengkonsumsi pangan yang dihasilkan dari bibit GMO.

Situasi ini yang mau tidak mau membuat korporasi benih maupun bibit GMO mengalihkan pasar ke dunia berkembang, termasuk Indonesia secara besar-besaran. Jika dikaitkan dengan Jawa Timur, kendati tidak masuk dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pertanian 2015-2019, besarnya jumlah petani dan luas lahan tanam merupakan faktor utama korporasi tidak ingin ladang bisnis mereka diusik gerakan mandiri benih lokal petani.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here