Kembangkan Komoditas Cabai, Banyuwangi Jalin Kerjasama Dengan Belanda

0
249

Nusantara.news, Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu penghasil cabai terbesar di Jawa Timur. Pada 2010, produksi cabai baru berkisar 5.997 ton, lalu melonjak 144 persen pada 2015 menjadi 14.684 ton.  Produksi cabai kecil stabil di kisaran 21.000 ton. Potensi inilah yang menarik  minat Benelux Chamber of Commerce (Kadin Belanda) untuk menjalin kerjasama dengan Kadin Indonesia serta Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam pengembangan komoditas cabai unggulan, Sabtu (18/2/2017).

Menurut Direktur Benelux Chamber of Commerce, Peter A. Halm, wilayah Banyuwangi yang merupakan lumbung  penghasil cabai memiliki potensi dalam aspek benih dan lahan untuk pengembangan varietas unggulan. “Ini mengapa kami bekerja sama dengan Kadin Indonesia ingin mengembang industri pertanian di sini. Kami juga siap mentransfer ilmu dan teknologi di sini,” ungkapnya.

Sementara itu, Perwakilan Kadin Indonesia Karen Tambayong menjelaskan,  pemerintah Belanda ingin mengembangkan varietas cabe unggulan di Banyuwangi. “Mengapa kami memilih Banyuwangi? Karena kami melihat pertanian di sini sangat maju. Maka dengan menggandeng Kadin dari Belanda, kami ingin menanam bibit unggulan yang telah dikembangkan menggunakan teknologi pertanian Belanda di Banyuwangi,” ujar Karen.

Menurut Karen, pengembangan pertanian cabai tersebut akan menggunakan teknologi modern berbasis hitungan matematika, ilmu pangan, kimia pangan, mikrobiologi pangan, fisika pangan, dan pengolahan pangan.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi Azwar Anas mengungkapkan rasa optimis akan peningkatan kualitas pertanian cabai di Banyuwangi dengan adanya kerjasama ini. “Alhamdulillah, hari ini kami bertemu perwakilan Benelux Chamber of Commerce, teman-teman Kadin Belanda, yang didampingi Komite Tetap Hortikultura Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia. Kami bahas pengembangan cabai di wilayah utara Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Wongsorejo. Lahannya sudah disiapkan, ada ratusan hektare,” ungkapnya.

Menurut Anas, proses penciptaan varietas cabai unggul tersebut harus diikuti  dengan mekanisme jalur hilirnya agar berdampak positif bagi petani Banyuwangi. “Saya berharap hilirisasi di sana juga, jadi di wilayah utara itu nanti basisnya agroindustri. Kan untuk kawasan industri di sana sudah susah karena permasalahan lahan dan kami menyerap aspirasi publik. Jawabannya agar ekonomi tetap bergerak adalah industri berbasis pertanian atau agroindustri yang bernafaskan pemberdayaan petani,” ungkapnya.

Dengan adanya kerjasama ini diharapkan kualitas pertanian cabai di Banyuwangi semakin meningkat dan menjaga produksi cabai nasional. ”Jadi di wilayah Banyuwangi utara yang relatif kering kan selama ini sudah kita kembangkan cabai dengan sistem irigasi hemat air, dan itu berhasil cukup bagus. Dengan teknologi Belanda ini akan semakin baik lagi,” tutup Anas. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here