Kemenag Angkat 200 Ustadz 200 Ribu Dipijak

0
79
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Nusantara.news, Jakarta – Saat Gus Dur masih hidup, ada banyak kebijakan yang diambil baik saat menjadi presiden, Ketua Dewan Syuro PKB atau Ketua PBNU. Ada kalanya kebijakan itu berasal dari nasehat para kiai. Publik tahunya kiai khos. Tapi siapa nama-nama tersebut, tidak banyak yang tahu.

Begitu pula dengan pejabat di negeri ini, mulai presiden, gubernur, bupati, hingga walikota, di belakang mereka pasti terdapat kiai-kiai yang kerap dimintai nasehat dalam pengambilan kebijakan meski terkadang menimbulkan pro kontra. Biasa disebut pembisik. Para pembisik ini kadang terlihat oleh publik, kadang tak terlihat. Namun perannya sangat vital terutama dalam urusan yang menyangkut umat.

Seperti Kiai Sholeh Qosim, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ismailiyah Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, yang beberapa waktu lalu tutup usia. Semasa hidup, Kiai Qosim pernah dua kali dilibatkan Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menyelesaikan urusan bangsa.

Pertama, kasus intoleran pembakaran masjid di Tolikara, Papua pada 2015 lalu. Kasus ini berpotensi memecah belah umat. Saat itu Jenderal Gatot meminta kepada Kiai Qosim untuk menjadi penengah antara komunitas Muslim dan komunitas Nasrani di Tolikara. Peran Kiai Qosim dalam perdamaian umat beragama di Tolikara menghasilkan sebuah perdamaian. Namun Kiai Qosim menolak disebut perdamaian itu atas jasanya. Baginyasemua pihak turut berperan dalam menjaga perdamaian Tolikara.

Kedua, Jenderal Gatot kembali menghubungi Kiai Qosim. Sejumlah ulama se-Indonesia diundang berkumpul ke Linggarjati, Jawa Barat. Satu persatu ulama menyampaikan ide dan gagasan. Namun ketika sampai pada Kiai Qosim, beliau cukup simpel menyampaikan gagasannya. Di hadapan para ulama, Kiai Qosim mengungkap konsep Islam Nusantara. Konsep Islam Nusantara ini kemudian diterima oleh para ulama. Bahwa konsep tersebut merupakan ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan ‘Islam Arab’.

Di Indonesia, ada banyak kiai, ustadz, pendakwah, atau mubaligh yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat. Di antara mereka bahkan ada yang tawadhu (rendah hati), tidak mau muncul ke ruang publik. Selama ini urusan ulama adalah urusan umat. Tugas ulama sangat berat karena berperan membentuk perubahan sosial di masyarakat. Kapasitas kepemimpinan mereka bisa melebihi lurah, camat, walikota, bupati, gubernur, hingga presiden. Kiai berperan dalam kehidupan sosial masyarakat sangat berpengaruh besar, mulai dari masalah individu maupun masalah sosial sampai pada persoalan politis, ekonomi, budaya yang secara bersamaan saling berinteraksi membentuk satu kesatuan yang utuh.

Masyarakat masih memandang pengaruh ketokohan dalam menentukan sikap dan tindakan. Sejarah membuktikan ketika NU lahir pada tahun 1926, NU terorganisir dengan baik hingga sekarang. Sejauh ini pemerintah memberi kemudahan terhadap ulama untuk berdakwah.

Namun semua menjadi kesia-siaan saat Kemenag merilis daftar 200 mubaligh berpengaruh di Indonesia. Ini sebuah keteledoran dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Apalagi dalam siaran pers di laman kemenag.go.id disebutkan pemilihan 200 mubaligh itu tidak sembarang, yaitu hanya yang memenuhi tiga kriteria. Pertama, mubaligh yang mempunyai keilmuan agama mumpuni. Kedua, mubaligh yang mempunyai reputasi baik. Ketiga, mubaligh yang berkomitmen kebangsaan tinggi. Padahal kalau mau diruntut, ada banyak ulama di negeri ini yang memiliki pengaruh kuat bahkan meski sudah tiada.

Nusantara.News pernah menulis biografi para ulama besar, sebut saja Syekh Nawawi al-Bantani, seorang tokoh yang sangat penting bagi dunia pesantren dan perumusan kitab kuning di Indonesia. Karyanya menjadi rujukan utama di berbagai pesantren tradisional di tanah air yang sampai sekarang masih banyak dikaji, juga di luar negeri. Namanya bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i.

Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga maha guru sejati (the great scholar). Teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Beliau banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren di Nusantara.

Baca: The Great Scholar Syekh Nawawi

Ada pula ulama Nusantara paling berpengaruh dan memiliki reputasi di dunia Islam. Dialah Kiai Mahfudz Termas atau dikenal Syekh Mahfudz Al-Tarmasi (Termas). Kiai Mahfudz boleh dibilang merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadist dari 23 generasi (secara berturut-turut) penerima Hadist Shahih Bukhori. Kiai Mahfudz telah menulis kurang lebih 20 kitab dari berbagai disiplin ilmu. Meski sudah tiada, namun karya-karyanya hingga kini tetap menjadi rujukan para umat di tanah air.

Baca: Kiai Mahfudz Termas, Pewaris Terakhir Hadist Bukhori

Bila melihat kriteria yang disebut Kemenag, seharusnya para ulama seperti Syekh Nawawi dan Kiai Mahfudz, tentunya masih banyak ulama lain, yang layak masuk daftar 200 mubaligh. Sebab hingga kini karya-karya mereka tidak lekang oleh jaman. Sejatinya, para ulama tanpa disertifikasi pun, tetap dapat memimpin umat mereka dari masa ke masa, karena hal itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai pendakwah.

Ketua MPR, Zulkifli Hasan mengaku terang-terangan kecewa dengan keputusan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang merilis 200 mubaligh. Menurutnya, itu kebijakan blunder dan berdampak pada kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Yang dilakukan Kemenag sebuah kebijakan yang blunder, secepatnya tarik dan minta maaf,” ucapnya.  Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah saat ini dikesankan tidak ramah pada ulama. Padahal selama ini Presiden Jokowi sudah berupaya keras untuk menghapus stigma atau kesan tersebut.

“Saat ini pemerintah saat ini dikesankan tidak ramah pada ulama, umat Islam dikesankan pada tanda kutip. Pak Presiden sering berkunjung ke ulama, ke pesantren, untuk menghapus stigma itu, bahkan beberapa kali saya menemani, presiden kerja keras, tiba-tiba Kemenag melakukan politik belah bambu, Pancasila itu mempersatukan, bukan memecah belah, Kemenag angkat 200 ustadz tapi 200 ribu dipijak, kerja keras selama 1 tahun ini sirna,” ujarnya.

Dikatakan Zulkifli, ada banyak urusan umat di negeri ini yang masih terlantar daripada harus merilis 200 mubaligh. Setiap hari ada banyak calon jamaah umrah yang gagal berangkat. Ada pula ribuan jamaah yang mengantre hingga tahunan untuk berangkat haji. Masalah-masalah ini belum dapat diselesaikan oleh Kemenag. Tapi sekarang pihak Kemenag justru mencari masalah baru.

“Setiap hari saya menerima tamu, banyak keluhan soal jamaah umrah yang gagal berangkat, jumlahnya ratusan ribu, mereka terlantar, dan itu terjadi bertahun-tahun, padahal mereka sudah jual sawah, sapi, menabung, ujungnya tidak berangkat,” sindirnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menggelar rapat dengan Komisi VIII di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (24/5/2018) mengatakan, rilis 200 mubaligh sifatnya adalah sementara karena ada updating, perubahan, penyempurnaan seiring dengan masuknya masukan dari ormas Islam dan pihak lain. Namun banyak pihak yang mendesak agar Kemenag menghentikan merilis nama-nama penceramah.

Anggota Komisi VIII, Yandri Susanto menyebut, rilis 200 mubaligh dapat memunculkan prasangka tidak baik. “Kalau ini dilanjutkan, saya khawatir stigma di masyarakat itu nanti terbelah. Ini diakui, yang itu tidak diakui,” kata Yandri.

Yandri memuji langkah Menteri Agama Lukman Hakim yang telah meminta maaf atas kebijakan yang ia keluarkan. Namun jika dilanjutkan, dia menilai hal tersebut dirasa tidak elok. Sebab, banyak ulama yang tidak ingin namanya disebut. “Kalau sekarang Kemenag menjadi lembaga super power yang mengatakan ini ulama ini bukan ulama, saya rasa itu keliru dan bisa memecah belah umat,” kata Yandri.

Ketua Lembaga Khusus Dakwah (LDK) PP Muhammadiyah, Muhammad Ziyad, menilai langkah Kemenag merilis 200 mubaligh berdampak pada terpecahnya umat Muslim, sekaligus melahirkan persepsi kurang kondusif bagi bangunan soliditas nasional. Ada kesan bahwa 200 orang yang direkomendasikan Kemenag itu pembela NKRI dan bervisi kebangsaan, sedangkan yang lainnya, yang tidak termasuk dalam daftar tersebut, seakan-akan sebaliknya.

Padahal ada ribuan mubaligh di luar daftar tersebut tergolong hebat dan memenuhi ketentuan umat (bukan Kemenag). Sebut saja sosok Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Bachtiar Natsir, dan banyak profesor ahli bidang agama dan kiai-kiai hebat, tapi mereka tidak termasuk dalam daftar itu. Ini yang sangat disayangkan.

Apapun alasan Menag mengeluarkan kebijakan, tidak bisa diterima. Apalagi jika salah satu dugaan dikeluarkan rilis tersebut karena ada mubaligh yang tidak pro NKRI. Kalau itu yang jadi alasan, bukan hanya ceroboh tapi bahaya. Ketika namanya tidak masuk, yang tidak masuk lantas dicurigai.

Pun dalam rekomendasi 200 mubaligh itu terdapat banyak keganjilan. Ketiga kriteria yang penentu rekomendasi masih potensial dipertanyakan. Kriteria pertama adalah mubaligh memiliki kompetensi tinggi kepada ajaran agama Islam. Yang menguji ini siapa? Apakah ada seleksinya?

Kriteria kedua tentang pengalaman dan kriteria ketiga tentang komitmen kebangsaan dinilai sangat relatif. Apakah orang yang sering ceramah sudah dianggap berpengalaman sekaligus memiliki komitmen kebangsaan? Apa tolok-ukur untuk menentukan seseorang memiliki komitmen kebangsaan? Karena itu rekomendasi 200 mubaligh tersebut target dan sasaran tidak jelas.

Lucunya lagi, setelah rilis 200 mubaligh menimbulkan kontroversi, alih-alih Menag Lukman Hakim mencabut tapi malah menyerahkan keputusan tersebut kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal sama yang pernah dilakukan Kemenag saat menindaklanjuti korban penipuan umrah. Saat itu Kemenag malah lepas tangan terhadap nasib ribuan jamaah yang menjadi korban, dan hanya bisa mencabut ijin empat biro travel umrah.

Dalam hal ini, Kemenag seharusnya dapat memosisikan diri sebagai pembina yang memfasilitasi kehidupan beragama yang rukun, bukan malah membuat umat terombang-ambing. Ketika Kemenag sudah mengeluarkan rilis 200 mubaligh, maka fungsi Kemenag sejatinya terdegradasi. Sangat aneh bila kemudian Kemenag tiba-tiba dikesankan menjadi makelar mubaligh-mubaligh.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here