Kemenangan Mahathir Adalah Mimpi Buruk Buat Jokowi

5
7151
Presiden Jokowi dan Perdana Menteir Mahathir Mohamad dalam satu jamuan beberapa waktu lalu.

Nusantara.news, Jakarta – Kemenangan Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia benar-benar mimpi buruk buat pencalonan kembali Presiden Jokowi. Sebab Mahathir mengalahkan Najib Razak yang dianggap getol menabur utang dan membuat ekonomi Malaysia terpuruk.

Di bawah kepemimpinan Jokowi, kini utang dan rupiah meroket, tidak seperti yang dijanjikan bahwa pertumbuhan ekonomi meroket. Akankah efek kemenangan Mahathir berdampak buruk buat Jokowi yang satu spesies dengan Najib Razak?

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menulis, pemilu Malaysia tampak berlangsung sangat cepat dan efisien. Betapa tidak, Pemilu digelar pada 9 Mei 2018 mulai pukul 08:000. Pemungutan suara ditutup pada pukul 17:00 waktu setempat, pukul 22:30 sudah mulai tampak Mahathir mengungguli Najib. Dan pukul 03:00 Mahathir menyampaikan pidato kemenangannya.

Keesokan harinya, pukul 05.00 waktu Malaysia, KPU Malaysia mengumumkan hasil Pemilu. Oposisi yang dipimpin Mahathir memperoleh 122 kursi, Barisan Nasional 79 kursi, Partai Islam PAS dapat 18 kursi dan independen 8 kursi. Sehingga 222 kursi di DPR terisi sudah penuh terisi dengan partai dukungan Mahathir mendominasi.

Siang harinya pemerintahan baru terbentuk. Malam harinya PM Mahathir Mohamad dilantik oleh Yang Dipertuan Agung. Di Istana Raja, pemerintah sudah berganti hanya satu hari setelah Pemilu. Inilah Pemilu model Inggris yang tidak ruwet, tidak berliku dan panjang. Tidak seperti model Amerika, apalagi Indonesia.

Mahathir pernah menyelamatkan Malaysia dari krisis moneter pada 1998 dengan mematok dolar (peg) pada level 3,8 ringgit, sehingga ringgit stabil tidak berfluktuasi seperti rupiah. Kini ia terpanggil kembali menyelamatkan Malaysia dari rusaknya sistem hukum dan demokrasi, bahkan dari invasi ekonomi China yang sangat gencar.

Bayangkan, Mahathir Mohamad di usia 92 tahun mendapat tugas yang begitu sulit. Namun jiwa nasionalisme Melayunya yang kental memanggilnya kembali untuk menyelamatkan negaranya (payback to the nation) dari ancaman liar invasi China.

Saat memutuskan untuk mundur dari panggung politik di usia 78 tahun, Mahathir beralasan sudah merasa tua. Ia memutuskan tidak ikut Pemilu lagi dan berhenti sebagai perdana menteri yang sudah ia jabat selama 22 tahun. Padahal, kalau mau, ia bisa melakukan segala cara untuk terus berkuasa. Ia orang yang amat kuat dan digelari Soekarno kecil. Ia berhasil membangkitkan nasionalisme pada saat yang sama ia juga sukses melakukan modernisasi. Bahkan teramat sukses, meninggalkan jauh Indonesia.

Bahkan nafsunya bersaing dengan Singapura luar biasa bergelora. Ia malu kalau Malaysia kalah dari Singapura. Ia bangun twin tower yang iconic itu, Petronas. Ia bangun jaringan jalan tol, ia genjot sawitisasi. Semua programnya top. Tidak ada yang pepesan kosong, apalagi sibuk dengan pencitraan. Tapi hasilnya nyata.

Mahathir juga memecat Anwar Ibrahim, wakilnya yang setia, dalam usia masih sangat muda, sangat pintar, berani, sehingga menjadi idola. Dunia sudah banyak yang memastikan bahwa Anwar adalah the next Perdana Menteri. Tapi Mahathir melihat lain. Seperti kelihatan ‘kesusu’ menggatikannya. Ia masukkan Anwar ke penjara.

Anwar Ibrahim, ahli keuangan itu, tentu kecewa pada mentornya. Lantas membangun partai oposisi. Tapi tidak pernah menang. Anwar keluar masuk penjara. Akhirnya partai itu dipimpin Wan Azizah, istri Anwar. Dan putrinya Nurul Azizah.

Anwar tidak pernah bisa menggoyahkan dominasi Barisan Nasional. Sampailah Mahathir memutuskan tidak mau lagi berkuasa.

Ternyata Mahathir sangat tidak puas dengan perdana menteri yang menggantikannya, Abdullah Badawi. Terlalu kalem dan lemah.

Pemilu berikutnya Mahathir bergerak di balik layar. Badawi tidak akan bisa membuat Malaysia maju. Mahathir memang masih menjadi orang kuat. Ia dukung Najib Razak untuk menggantikan Abdullah Badawi. Sukses. Jadilah Najib perdana menteri. Atas dukungan Mahathir.

Tapi Mahathir melihat Najib terlalu mementingkan dirinya sendiri dan tidak bisa mengontrol isterinya.

Tahun 2016 Mahathir sangat malu. Atas terbongkarnya mega korupsi di 1MDB. Perusahaan negara yang didirikan Najib. Ia keluar dari partai UMNO yang dibesarkannya. Berarti keluar juga dari koalisi Barisan Nasional.

Mahathir berhasil rujuk dengan Anwar Ibrahim yang pernah ia pecat dan penjarakan dulu. Mahathir-Anwar bersama-sama melawan Najib Razak, bekas kadernya melalui koalisi Pakatan Harapan. Sukses. Menciptakan tsunami politik di Malaysia: 9 Mei 2018. Mahathir-Anwar berhasil menjungkirkan Barisan Nasional dan UMNO yang telah berkuasa lebih dari 60 tahun.

Waktu mengumumkan kemenangan itu Mahathir minta istri Anwar yang tampil memberi muka. Dan niat baik Mahathir juga langsung mengaluarkan pernyataan, akan segera mengampuni Anwar. Begitu ia jadi perdana menteri, Anwar bisa segera keluar penjara.

Bahkan Mahathir juga mengatakan, “dengan pengampunan itu Anwar bisa menjadi perdana menteri.” Mahathir juga mengangkat anak Anwar, Nurul Izzah sebagai menteri. Kabarnya Mahathir akan lengser di tengah jalan dan memberi jalan yang lapang bagi Anwar untuk jadi perdana menteri.

Tapi Anwar harus menjadi anggota DPR atau DPD dulu. Di Malaysia, mengikuti sistem politik Inggris, untuk menjadi perdana menteri Anwar harus menjadi anggota DPR atau DPD dulu, dan itu sangat mudah dalam kondisi hari ini.

Untuk sementara istri Anwar-lah yang akan tampil di pusat pemerintahan. Sebagai Wakil Perdana Menteri. Jabatan yang pernah dipegang suaminya dulu. Dengan demikian pasangan ini akan menjadi sama-sama pernah menjabat wakilnya Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Kepemimpinan skandal

Mahathir mengatakan, di bawah kepemimpinan Najib, demokrasi Malaysia mati. Yang berbeda ditangkap, bahkan Mahathir saat mengkritik kebijakan investasi Najib, terutama soal investasi China, sangat membahayakan Malaysia. Saat di tengah-tengah pidato yang diliput luas media massa, pidato itu dihentikan. Mahathir digelandang dan kabarnya ditangkap atau diinterograsi.

Bayangkan, bagaimana nasib polisi yang menggelandang Mahathir ini setelah si gaek berkuasa kembali.

Sementara dari sisi hukum, Mahathir menilai Najib mempermainkan hukum seenaknya. Terhadap teman dekat, apalagi keluarga, apalagi dirinya, hukum tak berlaku. Tapi terhadap oposisi hukum ditegakkan sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya. Hukum di bawah kepemimpinan Najib tajam ke oposisi dan tumpul ke kolega.

Pemerintahan Najib Rajak selama ini diguncang dugaan keterlibatannya dalam upaya penjarahan yayasan investasi negeri Malaysia, 1MDB (1Malaysia Development Berhad). Inilah skandal korupsi paling besar di bawah kepemimpinan Najib.

Dia sudah berkuasa sejak 2009, menggantikan Abdullah Ahmad Badawi yang dinilai menunjukkan performa buruk pemerintahan.

Dia membuat sejumlah perubahan terbatas, seperti mengganti peraturan keamanan yang banyak dikritik karena dianggap merupakan alat pembungkam perbedaan pendapat, menawarkan secercah harapan bahwa kekuasaan represif koalisi pimpinan UMNO yang telah berlangsung selama enam dekade mungkin akan berakhir.

Namun, tak lama setelah memenangkan masa jabatan keduanya pada 2013 lalu, 1MDB, yayasan yang diluncurkan Najib untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, tergelincir ke dalam lubang utang dan dugaan penyelewengan dana.

Pada 2015, The Wall Street Journal mempublikasikan sejumlah dokumen yang diduga menunjukkan bahwa Najib menerima US$681 juta atau Rp9 triliun dari yayasan tersebut ke rekening pribadinya. Tentu saja Najib dan 1MDB terus menampik tudingan tersebut.

Sejak saat itu, dugaan-dugaan lain terus bermunculan. Kementerian Kehakiman Amerika Serikat mengajukan gugatan sipil untuk menyita US$1,7 miliar (Rp23 triliun) aset yang diduga dibeli dengan uang dari 1MDB, mulai dari real estate hingga barang kesenian dan yacht mewah.

Dalam pidato tahun lalu, Jaksa Agung AS Jeff Sessions mengkritik pihak-pihak yang diduga terlibat dalam skandal: “Ini merupakan kleptokrasi terburuk.”

Pemimpin dan pendukung Pakatan dan Mahathir telah secara berterusan menegaskan bahwa utang Kerajaan Malaysia telah meningkat di bawah PM Najib dari 41% menjadi 54% dari GDP. Utang Malaysia tercatat 654 miliar ringgit atau sebesar Rp2.000 triliun. Tentu untuk negeri sekecil Malaysia, utang Rp2.300 triliun adalah sangat besar dibandingkan skala ekonominya.

Bandingkan Malaysia yang sangat maju dimasa Mahathir dan kemajuan itu tanpa utang yang menggunung dan tanpa proyek dari China. Itu sebabnya Mahathir akan mengevaluasi keterkaitan kerjasama ekonomi Malaysia dengan China.

Investasi langsung (FDI) ke Malaysia juga digambarkan jatuh 98% dengan ekspor yang juga merosot sebesar 81% di bawah kepemimpinan Najib.

Kabar buruk buat Jokowi

Tentu saja kesamaan kebiasaan Najib dan Jokowi terhadap penciptaan utang dan kedekatan dengan China menjadi catatan penting buat pemilih Indonesia pada 2019. Indonesia hingga Januari 2018 di bawah kepemimpinan Jokowi telah memiliki utang sebesar Rp4.985 triliun. Hari ini diperkirakan utang itu telah membengkak menjadi Rp5.200 triliun menyusul pelemahan rupiah.

Rupiah sendiri meroket sangat tajam terhadap dolar AS di masa kepemimpinan Jokowi menembus level Rp14.085. Padahal sebelumnya para ekonomi memprediksi kalau Jokowi menang rupiah tidak akan tembus level Rp10.000 per dolar AS.

Selain itu, di masa kepemipinan Jokowi, pertumbuhan utang sangat pesat rerata per tahun 14%, sementara pertumbuhan ekonomi yang tercipta rerata plus minus 5%. Artinya utang-utang yang dibuat sama sekali tidak mendukung pertumbuhan dan bahkan tidak produktif.

Celakanya lagi, pembangunan infrastruktur yang gegap gempita yang diperkirakan mencapai Rp5.500 triliun pun tak berdampak positif pada pertumbuhan. Bandingkan di masa Susilo Bambang Yudhoyono dengan total pembangunan infrastruktur hanya Rp680 triliun, tapi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 7%. Pembangunan infrastruktur memang dipilih kepada yang berdampak pada pertumbuhan.

Pertumbuhan perdagangan dan ekspor impor Indonesia jauh di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan bahkan Vietnam. Sehingga daya kompetisi Indonesia di bawah rerata. Hal ini sempat membuat Jokowi marah-marah kepada Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Termasuk kinerja investasi yang masuk ke Indonesia di bawah rerata Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Lagi-lagi Jokowi marah kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong.

Dengan segala kinerja buruk Pemerintahan Jokowi, terutama lonjakan utang dan berbagai proyek China, nampaknya sama dan sebangun dengan apa yang dilakukan Najib.

Ini tentu tidak menguntungkan Pemerintah Jokowi untuk menghadapi Pilpres 2019. Ditambah pula Indonesia menjadi perhelatan besar Annual Meeting IMF-World pada 12-14 Oktober 2018 di Bali. Ini juga memberi sinyal bahwa Indonesia akan membuka line utang baru entah kepada IMF yang pernah menyusahkan ekonomi Indonesia, atau pun dengan World Bank.

Pendek kata, publik Malaysia wajar tidak percaya pada Najib sehingga ia dikalahkan oleh Mahathir. Apakah publik Indonesia masih akan mempertahankan Jokowi? Sulit rasanya hal itu terjadi.

Taggar #2019GantiPresiden kono sudah mendapat dukungan 186 juta netizen dan gerakannya semakin tak terbendung. Semua tanda-tanda zaman itu memang akan menjadi mimpi buruk buat Jokowi.[]

5 KOMENTAR

  1. Betul itu. Kalau Najib mungkin ringan buat Jokowi karena penuh polemik dan kepentingan pribadi. Kalau Mahathir tampaknya bakal an berat buat Jokowi. Apalagi waktu dulu sudah terbukti mampu menjadikan Malaysia lebih maju daripada Indonesia. Saat ini semua dengan mudah terlihat/transparan. Kita berharap Indonesia semakin maju, semoga Jokowi mampu. Bagaimanapun Indonesia adalah negara kita.

  2. Najib sungguh beda jauh dgn Jokowi, terlalu banyak kesalahan fatal yg ia lakukan, terutama KKN,
    Justru peristiwa pemilu malaysia ini akan membuat jokowi terpilih kembali. Apa yg dilakukan Jokowi terhadap negara ini, memenuhi harapan rakyat akan kekecewaan pada pemerintahan sebelumnya.Presiden jokowi tidak ada ada kepentingan pribadi dalam menjalankan pemerintahan.

  3. Kalau saja Jokowi bukan karbitan, bisa saja dia berhasil. Percepatan dengan karbitan pasti hasilnya beda dengan matang di pohon. Masalahnya, pohon siapa yang berbuah Jokowi, itu masih tidak jelas. Masih ingat Pigai ? Komisioner yang konsisten dengan pertanyaan siapa Jokowi .

  4. Data 2018 pengguna internet di indonesia 120jtan….yg memiliki twitter 19,5jt an keliatan ko motif berita2 di sini haha

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here